Senin, 04 Agustus 2008

Mencoba menerapkan zero waste di rumah kontrakan di Kota karang Kupang NTT

Pada mulanya sekedar iseng membaca berbagai artikel yang dapat diakses di internet terkait bagaimana cara melestarikan lingkungan disekitar rumah kontrakan yang masih bisa untuk ditindak lanjuti dalam aksi nyata dan bukan hanya sekedar basa basi apalagi hanya tebar wacana.

Sungguh menarik ketika salah satu artikel yang terbaca terkait pelestarian lingkungan menantang diri untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa gembar gembor namun penuh dengan kesungguhan hati, secara hati-hati dan kedepan dapat menggugah pihak lain untuk menduplikasi melakukan hal yang sama minimal disekitar kota Kupang sehingga diharapkan dampaknya akan semakin meluas dan berakhir pada semakin membaiknya kualitas lingkungan seputaran kita.

Dalam sebuah blog pribadi Bapak Sobirin http://clearwaste.blogspot.com
kami belajar bagaimana sampah tidak lagi keluar rumah namun dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi rumah yang benar-benar ‘zero waste’ istilah yang beliau perkenalkan.

Metoda yang digunakan pada awal sebelum mengenal blog beliau, pengomposan untuk memanfaatkan sampah organik hanya kami lakukan dengan cara menumpuk sampah organik tersebut disatu tempat untuk dibiarkan melalui proses alamiah menjadi humus, kemudian berkembang dengan mengkomposkan semua seresah, daun-daun kering maupun sampah organik lainnya menggunakan dekomposter dan ditambah dengan EM4 yang dibeli di toko pertanian. Sedang sampah plastik masih dengan cara dibakar.

Teringat perkataan Da’i yang sempat kondang namun kemudian tenggelam namanya yakni A’a Gym yang mengatakan sebaiknya segala sesuatu “Mulai dari diri sendiri, mulai dari apa yang dipunyai dan mulai sekarang juga”.

Maka dengan penuh semangat mulai dicoba di rumah kontrakan untuk memilah sampah menjadi 3 bagian yakni bagian yang dapat didaur ulang, sampah organik yang dapat dikomposkan dan sampah beracun
Namun ketika mengakses blog Pak Sobirin maka mulai berminat untuk belajar membuat sendiri MOL (Mikroorganisme Lokal) supaya tidak harus beli dan keluarkan uang terus menerus.

Disamping itu dalam bog dijelaskan bahwa ternyata pembakaran plastik justru berbahaya karena menghasilkan gas beracun sehingga disarankan untuk “memanaskan plastik” dan tidak membakarnya, meski sampai sekarang masih susah dilaksanakan dirumah karena yang membantu dirumah tidak sabar dengan semua proses ini yang butuh waktu lebih panjang dan tidak praktis dibanding dengan cara membakarnya.

Selain itu, kami mencoba membibitkan sendiri tanaman umur panjang dengan cara menyemai biji-bijian yang merupakan sisa dari yang kami makan seperti pepaya, srikaya, sirsat, jeruk keprok, mengkudu, jambu biji dll kedalam polibag/kantong plastik untuk dijadikan bibit tanaman dan sebagian sudah ditanam di kebun depan.
Bahkan untuk tanaman Cemara india sangat mudah untuk membibitkan, tinggal memungut biji yang jatuh dibawah pohon yang berwarna hitam dan menyemaikan langsung ke polibag maka akan tumbuh dan menjadi anakan yang dapat menghijaukan lingkungan kita sekaligus menambah nilai estetika sekitarnya.

Selain tanaman umur panjang, juga dikembangkan berbagai jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) seperti Brotowali, Daun dewa, Mahkota Dewa, Sambiloto, Tapak Dara, Mengkudu, Sambung nyawa, Binahong, Meniran, Kumis Kucing, Keji Beling, Lidah buaya , Meniran, Petikan kerbau , Adpokat, Belimbing wuluh, Marongge/kelor dll.

Tanaman TOGA ini sangat membantu dalam menjaga kesehatan. Apalagi jika kami kebetulan terkena panas knalpot atau tersiram air panas, maka tinggal memotong daun Lidah buaya dan mengoleskan getahnya , langsung terasa adem serta tidak panas lagi dan hasilnya sangat menyenangkan karena luka tidak jadi melepuh.
Beberapa teman sering mengambil beberapa bagian tanaman obat untuk digunakan sebagai solusi pengobatan.

Bahkan ketika terkena batu ginjal, saya hanya merebus daun kumis kucing dicampur daun keji beling , kunyit dan meniran lalu diminum. Kemudian setelah beberapa hari jeda dari minum TOGA , dilanjutkan dengan makan buah apel 4 biji per hari selama 5 hari dan ternyata batunya keluar.

Namun sayangnya upaya yang dilakukan dalam menanam berbagai tanaman sering kandas karena ternyata meskipun lokasi rumah kontrakan berada didalam kota namun masih saja ada kambing yang dibiarkan berkeliaran memakan habis semua upaya penghijauan lingkungan tanpa ada sangsi yang tegas pada pemilik kambing.

Untuk menyiasatinya, kami menyeleksi tanaman apa saja yang tidak disukai kambing sehingga ketika ditanam/dibudidayakan tidak akan musnah dimakan, dan cara lainnya dengan meletakkan tanaman yang tidak disukai kambing sebagai pagar alami.

Saat ini meski memasuki musim kemarau dengan panas yang menyengat, namun disekitar rumah kontrakan kami terasa lebih adem, nyaman dan tidak terlalu panas berkat adanya beberapa pohon rindang dan tanaman bunga, maupun TOGA yang membuat suasana menjadi lebih sejuk, hijau dan asri meski berada dibebatuan karang yang meranggas.
Semua ini tidak lepas dari pemanfaatan kompos dan penerapan metode zero waste yang Pak Sobirin kenalkan sehingga meski tindakan ini bukan hal yang heroik, namun minimal telah mengurangi sampah kota, mengurangi pembakaran yang secara tak langsung juga ikut mengurangi pemanasan global yang menjadi penyebab perubahan iklim.

Dari langkah kecil diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan kualitas lingkungan bumi sebagai rumah kita bersama. Terima kasih Pak Sob, meski mungkin langkah ini tidak berarti untuk skala yang luas, minimal kami sudah memulainya. Bukankah untuk mencapai puncak gunung, hanya diperlukan langkah pertama dan tinggal terus melanjutkan secara konsisten dan persisten maka impian sampai di puncak gunung akan terwujud ?



Salam hijau

YBT Suryo Kusumo,
tony.suryokusumo@gmail.com.
www.adikarsagreennet.blogspot.com
www.adikarsaglobalindo.blogspot.com

Selasa, 15 Juli 2008

Menangkal krisis air di Kota Kupang, bisakah ?

Menarik apa yang diberitakan dalam Pos Kupang tertanggal 30 September 2004 mengenai hampir mengeringnya salah satu mata air yang menjadi salah satu pemasok air untuk PDAM Kupang di Oepura yang berdampak pada terganggunya kelancaran layanan distribusi air pada para pelanggan. Berita tersebut membuat kita sebagai warga koat Kupang merasa malu hati dan berintrospeksi untuk berbenah diri dan melihat arti strategis sebuah hutan yang berada dibagian hulu Kota Kupang yang berpengaruh dalam menjaga ketersediaan air bagi kelangsungan hidup seluruh warga yang mendiami Kupang. Sedang untuk Dinas Kehutanan di Kupang, berita tersebut seharusnya dijadikan PR (pekerjaan untuk rakyat) untuk tetap selalu menjaga keberadaan hutan berserta fungsinya dan menjadi fokus dan prioritas dalam penanganannya. Dinas Kehutanan bekerja sama dengan PDAM Kab Kupang maupun UPTD Air Bersih Kota Kupang sudah seharusnya mengkaji kembali kenapa banyak mata air yang tadinya tetap mengalir di musim kemarau, namun saat ini sudah mengering. Mungkin penyebabnya karena adanya penggundulan hutan maupun kurang terpeliharanya hutan yang berada dibagian hulu kota Kupang yang menjadi daerah tangkapan hujan (catchment area) karena kurang sadar dan kurang dilibatkannya masyarakat hulu dalam pengelolaan hutan.

Mata air berubah jadi air mata

Keberadaan kawasan hutan di bagian hulu Kota Kupang menjadi strategis, ketika kita membicarakan desentralisasi melalui otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat. Otonomi daerah akan berhasil apabila mengandaikan pemkab maupun pemkot dan masyarakat mau dan mampu mengelola SDA, dan SDM yang ada mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi , birokrasi yang profesional bebas KKN, adanya akuntabilitas kinerja pemkab maupun pemkot dan kontrol maupun akses dimiliki oleh rakyat terhadap eksekutip, legislatip dan yudikatip. Maka profesionalitas dinas kehutanan dan seluruh potensi yang ada di masyarakat (intelektual, agamawan, LSM, swasta dll) sangat diharapkan dalam mengelola hutan yang ada serta menumbuhkan kembali hutan yang terlanjur menjadi padang alang-alang/ sabana. Keberlanjutan dalam ketersediaan air maupun dalam mendapatkan/mengakses air untuk kebutuhan hidup yang layak, baik untuk minum maupun kebutuhan domestik bagi warga kota harus menjadi fokus layanan publik bagi Pemkab maupun Pemkot Kupang mengingat sampai saat ini layanan yang diberikan terkait dengan ketersediaan air masih jauh dari harapan warga kota.
Juga perlu diantisipasi sejak awal ketika kemungkinan terjadi pertambahan warga Kota Kupang secara cepat dan berlipat yang akan berdampak pada kecukupan penyediaan air bersih.

Salah satu fungsi yang sangat penting dari sebuah keberadaan kawasan hutan adalah kemampuannya menjaga daur hidrologis sehingga dapat membantu ketersediaan air di musim kemarau melalui mata air yang muncul akibat tersimpannya air oleh keberadaan kawasan hutan beserta tegakan pohon, maupun kemampuannya menghindarkan terjadinya banjir ketika musim hujan berlangsung. Air yang merupakan sumber kehidupan bagi mahluk hidup termasuk didalamnya masyarakat kota, keberadaan dan ketersediaannya tidak dapat tergantikan dan mutlak harus terpenuhi. Bahkan syarat mutlak tingkat kualitas kehidupan masyarakat salah satunya adalah ketersediaan air yang memenuhi kualitas layak minum dalam jumlah yang cukup tersedia. Tingkat kesehatan masyarakatpun sangat tergantung dari ketersediaan air yang cukup baik jumlah maupun kualitasnya untuk keperluan mandi, masak, minum, mencuci dan WC, bahkan untuk ternak yang kita pelihara. Sebaik dan semewah apapun sarana dalam rumah kita, apabila tanpa ketersediaan air yang cukup maka akan mengurangi kenikmatan kita sebagai penghuni.
Demikian pula dalam kaitannya dengan keindahan, kebersihan dan kenyamanan kota, sangat terkait dengan ketersediaan air. Taman kota yang hijau perlu dipelihara melalui penyiraman yang rutin ynag membutuhkan pasokan air yang cukup dan kontinyu, suasana hawa kota yang panas dapat dikurangi dengan adanya air mancur di tengah kota, kolam-kolam yang ditumbuhi bunga teratai dan ikan hias dapat memberi nuansa nyaman dst. Kendaraan roda empat maupun roda dua akan kelihatam bersih kalau dicuci secara rutin dan hal ini membutuhkan ketersediaan air yang cukup.

Maka keberadaan hutan dalam menyangga sebuah kawasan pemukiman sebagai penyedia air sungguh perlu diperhatikan. Jangan sampai kelengahan kita melestarikan hutan menjadi malapetaka yang menyebabkan mata air berubah menjadi air mata yang mengalir, karena susahnya memperoleh kebutuhan dasar berupa air dan kita cenderung melihat itu semua sebagai bencana yang berasal dari ‘Sang Pencipta’.

Senin, 14 Juli 2008

Pengembangan energi alternatip di NTT dalam kerangka memperlambat pemanasan global dan perubahan iklim, perlukah ?

Meski media terus menggaungkan masalah climate change atau perubahan iklim, namun hanya sedikit Pemda yang tertarik dengan isu ini. Mungkin karena dampak yang ditimbulkan tidak menyebabkan kerusakan besar, seketika dan dasyat seperti tsunami atau gempa bumi. Selain itu proses terjadinya perubahan iklim terjadi dalam kurun waktu yang panjang, sehingga persoalan perubahan iklim masih dianggap bukan persoalan yang mendesak/urgent yang membutuhkan tindakan segera.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan pejabat dan masyarakat kita yang lebih cenderung reaktif daripada proaktif. Maka lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil, lemah dan miskin yang sementara ini didera dengan kenaikan harga sembako akibat BBM naik dua kali dalam pemerintahan SBY-Kalla, ditambah kecenderungan terjadinya kolusi dan nepotisme antara pengusaha dan penguasa yang cenderung mengarah ke bentuk negara kleptorasi yang penuh pencuri baik yang kasat mata maupun yang berdasi dan kelas tinggi (KKN).

Akibatnya rakyat kecil, lemah dan miskin meskipun telah terkendala dalam hal modal, teknologi dan informasi.harus siap-siap secara sendirian menghadapi perubahan iklim yang akan berdampak pada kehidupannya di banyak sektor baik pangan, kesehatan, ekonomi dll
Mitigasi dan Adaptasi
Dalam sebuah artikel berjudul Sektor Pertanian dan Perikanan Paling Rasakan Dampak Perubahan Iklim yang diakses dalam situs Jakarta’s Enviromment Parliament Wacth http://www.epwjakarta.org/index.php?option=com_content&task=view&id=6&Itemid=1Disampaikan bahwa sektor pertanian dan perikanan merupakan sektor yang paling merasakan dampak perubahan iklim. Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dra Mesnellyarti Hilman MSc saat tampil sebagai pembicara sosialisasi perubahan iklim
Meski dampak perubahan iklim sudah mulai terasa, namun bukan berarti tak ada jalan lain, tapi setiap individu atau masyarakat bisa mengambil peran dalam meminisir dampak dari perubahan iklim melalui upaya adaptasi dan mitigasi.
Dijelaskan, adaptasi dilakukan penyusuaian dengan melakukan upaya-upaya untuk mengurangi resiko dampak perubahan iklim melalui perubahan pola pembangunan,”Di Negara seperti Pakistan sudah dilakukan antisipasi didaerah di pesisir dengan cara membangun pemecah gelombang air laut. Demikian juga di Cina, tanaman mangrove dijadikan sebagai penahan gelombang tzunami. Ini sudah terbukti saat terjadi tzunami di di Aceh,”ungkapnya.
Posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dan merupakan negara kepulauan menjadikan Indonesia sangat rawan terhadap efek perubahan iklim.”Kita sangat rentan terhadap perubahan iklim. Masalah yang dihadapi adalah peralatan perkiraan cuaca masih minim di Indonesia,”paparnya.
Secara sederhana adaptasi lingkungan dilakukan dengan membiasakan diri menaman pohon dan hindari menebang pohon terutama di daerah berbukit agar tidak terjadi tanah longsor dan diharapkan keberadaan pohon tersebut bisa menyerap polusi udara, budayakan hidup bersih dengan cara membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Selain itu, upayakan membuat sumur resapan atau bak untuk menampung air hujan, serta menghindari daerah pemukiman di lereng bukit. Bagi pelaut, petani dan yang akan melakukan perjalanan jarak jauh, carilah informasi ramalan cuaca dan musim sebelum beraktifitas.
Sedangkan kegiatan mitigasi dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan efek gas rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Yang bisa dilakukan untuk meredam laju kenaikan suhu bumi yaitu melalui pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. (cetak miring dan tebal oleh penulis)
Tidak konsumtif, mengurangi dan mengelola sampah, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, menekan terjadinya kerusakan dan kebakaran hutan. Di sektor transportasi dilakukan dengan cara efisiensi penggunaan transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk..
Upaya lainnya adalah penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel/batu bara.
Saat belanja, pilih produk dengan kemasan minimal untuk mengurangi sampah, dan bawahlah tas belanja sendiri agar meminimalkan penggunaan kantong plastik. Sebagai konsumen, kita harus kritis melakukan penolakan untuk mepergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih mempergunakan Kloroflourkarbon (CFC) dalam produknya karena saat kita memakainya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri dimasa mendatang karena CFC merusak lapisan ozon. CFC adalah sekelompok gas buatan yang diperkenalkan oleh General Motors, perusahaan mobil Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.
Serta menggiatkan pelestarian hutan dan reboisasi, karena keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca. Dalam kesempatan tersebut, Nelly mengharapkan agar organisasi profesi dan LSM yang hadir dalam pertemuan bisa mengambil peran dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.”Guru sangat berpotensi untuk merubah budaya, perilaku, dan kebisaan murid. KLH mengembangkan pelatihan untuk guru-guru juga masih punya bahan-bahan berupa dongeng-dongeng khas, demikian juga profesi lainnya bisa mengambil peran sesuai potensi masing-masing dalam kampanye perubahan iklim,”harapnya.
Kepekaan pembuat kebijakan publik

Tidak semua hal harus dan bisa dilakukan secara bersamaan karena terbatasnya SDA dan SDM, sehingga dibutuhkan prioritas dalam pembangunan NTT, demikian yang sering disampaikan dalam setiap pernyataan pejabat ketika berhadapan dengan permintaan rakyat miskin dalam kunjungan turbanya ke daerah..

Dalam momentum terpilihnya pemimpin baru NTT, diharapkan suara rakyat yang menjerit meski lirih harus dan terus mendapat perhatian.

Salah satu bidang yang perlu ditangani secara serius di NTT adalah tersedianya energi yang murah namun ramah lingkungan bagi rakyat miskin.

Kita semua tahu konsumsi energi rakyat miskin memang masih relatip paling rendah namun sangat berpotensi merusak lingkungan seperti penggunaan kayu bakar dari hasil menebang pohon untuk konsumsi dapur rumah tangganya dan minyak tanah untuk penerangan.Disamping itu jumlah rakyat miskin di NTT cukup besar mengakibatkan potensi sumbangan perilaku rakyat miskin terhadap pemanasan global dan perubahan iklim tidak dapat diabaikan begitu saja.

Menjadi kewajiban Pemda (Tk I, Pemkab dan Pemkot) untuk memikirkan penyediaan energi alternatip yang murah namun ramah lingkungan sehingga mampu menyumbang terhadap pengurangan dampak pemanasan global dan perubahan iklim.

Disini kepekaan pejabat publik baik eksekutip maupun legislatip diuji, apakah pengalokasian dana APBD akan berpihak rakyat miskin atau sebaliknya lebih untuk membeli segala keperluan dirinya seperti mobil dinas, laptop, SPJ dll?

Kita dapat mengamati, betapa banyak potensi energi alternatip seperti biogas (dari kotoran ternak dan manusia), energi angin, energi surya, panas bumi dll di NTT.
Namun selama ini kita belum melihat kesungguhan Pemda untuk mengalokasikan sejumlah dana dalam APBD untuk penyediaan perangkat penerangan untuk rakyat mskin seperti PLTS (Pembangkit listrik Tenaga Surya), pemasangan kincir angin untuk sumber energi, teknologi pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas (untuk memasak dan penerangan rumah ) dll.

Ketika Pemkot di Jawa mencanangkan konversi minyak tanah dengan gas elpiji dikalangan masyarakat untuk mengurangi subsidi BBM yang melambung, maka seharusnya Pemda NTT juga tidak ketinggalan mencanangkan pemanfaatan biogas dari kotoran sapi karena NTT terkenal dengan gudang ternak sapi.
Selain ramah lingkungan dan hemat, pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas berdampak pada dikandangkannya ternak sapi sehingga tidak lagi menjadi hama yang memakan tanaman produksi dan dampak lanjutannya program pertanian dapat berjalan dan berhasil karena tanpa gangguan.

Manfaat tambahan lainnya kotoran sapi sisa dari proses produksi biogas dapat berfungsi menjadi pupuk organik yang selain dapat memperbaiki steruktur tanah, menambah kesuburan tanah, yang tak kalah penting untuk daerah semi arid seperti NTT adalah meningkatnya kemampuan mengikat air sehingga air dapat tersimpan dalam waktu yang cukup lama, menambah kelembaban tanah serta mampu menyimpan air lebih banyak. Kita semua tahu, salah satu masalah krusial dalam area semi arid adalah curah hujan yang banyak dalam kurun waktu singkat sehingga penambahan bahan organik dari pemanfaatan kotoran sapi akan sangat berarti dalam membantu memanen air.

Apalagi jika ada kesungguhan dari para pejabat publik untuk membantu pendanaan yang cukup dalam memanen air seperti pembuatan Bak PAH (Penampung Air Hujan), Embung, Chek dam, penegmbangan saluran irigasi dll.

Dengan pengembangan energi biogas baik untuk kompor dalam memenuhi konsumsi rumah tangga maupun untuk penerangan rakyat miskin, maka efek dominonya selain sapi dikandangkan adalah meningkatnya kesuburan lahan yang akan berakibat meningkatnya produksi pangan seperti jagung melalui teknologi sederhana “olah lubang” sehingga meningkatkan ketahanan pangan dari sisi ketersediaan produksinya.

Memang dibutuhkan dana bergulir untuk memberi kredit sapi pada rakyat miskin yang tidak mudah dilakukan karena pasti ada keraguan apakah akan kembali atau hilang begitu saja. Disini dibutuhkan kecerdasan dan keberanian dari para pejabat publik untuk tetap mempercayai rakyat miskin untuk keluar dari kemiskinannya namun sekaligus memberi pendampingan yang cukup intensip sehingga kesalahan seperti yang pernah terjadi di masa lalu tidak terulang kembali.

Masalah yang dihadapi rakyat miskin, selain kekurangan modal dan informasi adalah belum berubahnya mindset/pola pikir yang cenderung belum cerdas secara finansial, minimnya jiwa wirausaha , sikap hidup boros dan berjiwa kolot karena terbatasnya akses informasi. Perlu ada pendampingan yang mampu merubah mindset tersebut melalui berbagai startegi baru dalam proses pemberdayaan rakyat miskin. Untuk itulah kita semua para-pihak (stakeholder) baik dari kalangan intelektual, jurnalis , bisnis dan pejabat publik dll terpanggil untuk bersama rakyat miskin merubah keadaan melalui penyadaran dan kebersamaan dalam mencari solusi menuju sejahtera.

Selamat berkarya untuk semua pihak yang peduli pada kemajuan NTT, dan selamat untuk Nahkoda baru NTT dalam mewujudkan Visi, Misi dan janjinya pada saat kampanye.


YBT Suryo Kusumo

tony.suryokusumo@gmail.com
www.adikarsaglobalindo.blogspot.com
www.adikarsagreennet.blogspot.com

Minggu, 13 Juli 2008

Global warming dan climate change, hantu disiang bolong atau prediksi ilmiah yang akan jadi kenyataan ?

Bagi kebanyakan masyarakat, global warming atau yang lebih dikenal dengan pemanasan global dan perubahan iklim mungkin hanya sekedar “breaking news” atau berita selintas yang kemudian dilupakan.

Mudah-mudahan hal ini tidak berlaku bagi para pemimpin NTT (pejabat , pemuka agama, budaya, akademisi, jurnalis, pengusaha, LSM dll) yang diharapkan masih terus punya komitmen untuk ikut berkontribusi terhadap berkurangnya pemanasan global maupun perubahan iklim.

Praksis (take action) dalam keseharian

Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat terhadap pengurangan pemanasan global ? Mungkin ini pertanyaan yang sering diajukan kepada para pakar lingkungan, namun sebenarnya pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat luas di NTT telah memahami apa yang dimaksud dengan pemanasan global maupun perubahan iklim dan dampak negatipnya bagi kelangsungan hidup kita di NTT ke depan ?

Anak saya yang masih duduk di SD tidak terlalu paham dengan istilah tersebut karena mungkin tidak terlalu dibahas didalam kelas atau mungkin tidak masuk dalam bahasan mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum, padahal seandainya kita semua mau mencermati akan dampak negatipnya yang sungguh luar biasa bagi kelangsungan peradaban manusia dibumi, maka pasti kita akan semakin peduli dan akan segera bertindak sesuai dengan kemampuan yang ada.

Orang bijak mengatakan “sedia payung sebelum hujan” meskipun masyarakat kita lebih suka sebaliknya yakni mencari tempat berteduh atau payung/jas hujan setelah hujan turun. Kebiasaan sikap re-aktip masyarakat kita tidak boleh dibiarkan begitu saja dan harus digantikan dengan sikap pro-aktip.

Menjadi pertanyaan, siapa yang harus mensosialisasikan terkait pemanasan global dan perubahan iklim ini kepada masyarakat luas di NTT ?

Musuh peradaban telah ada dimuka bumi yakni perilaku kita semua sebagai penghuni bumi yang terus saja membuang emisi berupa gas CO2 ke udara karena gaya hidup kita yang kurang peduli pada kelestarian bumi.

Dalam salah satu topik pembicaraaan Perpektif Wimar di websitenya Wimar Witoelar http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=857), Dr. Armi Susandi ahli perubahan iklim dari Fakultas Kebumian dan Teknologi Mineral ITB mengatakan “Akibat dari pemanasan global bukan hanya dirasakan daerah pesisir , bahkan ada negara yang juga terancam bisa hilang seperti Tuvalu”.
Secara singkat Dr Armi menjelaskan bahwa dunia menjadi panas karena tertutup co2 yang disebabkan antara lain pembakaran bahan bakar fosil. “tahun 2035 kita ke bandara Soekarno Hatta harus naik perahu”, tuturnya. Energi alternatif mungkin bisa menjadi sebuah solusi tapi dengan konsekuensi akan membuat harga pangan melambung tinggi, seperti yang sekarang terjadi
Lebih lanjut beliau mengatakan fenomena ini ditandai beberapa hal seperti curah hujan yang tinggi ketika musim hujan, dan kemarau yang panjang setelahnya. Menurut Armi, jika terjadi perubahan cuaca maka penyakit akan muncul. Biasanya kita mengalami dua kali perubahan cuaca dalam satu tahun, sekarang bisa tiap hari terjadi perubahan cuaca yang berarti penyakit juga akan sering muncul. “Untuk itu peran pemerintah sebagai sumber informasi dan sosialisasi sangat penting”
Solusi yang ditawarkan adalah selain mencari energi alternatif, upaya penghijauan adalah solusi lain yang paling efektif. Karena disamping menyerap air, tumbuhan juga dapat menyerap co2. Indonesia tampaknya menjadi harapan dunia untuk masalah ini, selain memiliki hutan tropis yang besar, kita juga memiliki laut yang luas dimana tumbuhan laut didalamnya memiliki kemampuan menyerap co2 lebih besar dari tumbuhan di darat.
Dari gambaran dan penjelasan Dr. Armi Susandi diatas menjadi lebih jelas bagi kita masyarakat NTT apa saja yang dapat dilakukan untuk ikut mengurangi pemanasan bumi secara global.
Kebiasaan perladangan berpindah dn tebas bakar dalam membuka lahan di bumi Flobamora selain merusak lingkungan sekitar , secara tidak langsung juga turut andil dalam menambah emisi CO2 ke udara. Padahal sebenarnya pola pengelolaan lahan secara berpindah dan tebas bakar dapat digantikan dengan pola pertanian secara menetap tanpa harus membakar lahan dan teknologinyapun sangat sederhana dan mudah .
Apakah para Bupati dan Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan diwilayah Flobamora berani mendeklarasikan komitmen mereka untuk mampu menjadikan perubahan kebiasaan perladangan berpindah dan tebas bakar tersebut sebagai target kinerja dan menggantikannya dengan pola yang lebih lestari yakni pertanian berkelanjutan dengan konservasi lahan untuk lahan miring ? Pasti hal ini harus mendapat dukungan politik dari anggota DPRD setempat yang dituangkan dalam bentuk PERDA.
Para politisi DPRD Tk II dan Pemkab seharusnya tidak lagi berkutat hanya dengan permasalahan yang ada dirumah tangganya sendiri yakni dilingkup kabupaten, tetapi sebaiknya terus memperluas wawasan bahwa sebagai penghuni rumah yang sama yakni BUMI maka sudah selayaknya ikut memikirkan kontribusi apa yang dapat disumbangkan setiap Pemkab di bumi Flobamora ini secara nyata bagi pengurangan panas bumi secara global

Kita harus berpikir global, namun bertindak lokal, dan cara yang termudah pilihannya antara lain adalah;
0. Menyelamatkan dan melestarikan hutan yang masih bisa diselamatkan,
1. Melakukan penghutanan kembali hutan yang terlanjur rusak,
2. Memberantas pembalakan liar,
3. Mengajak warga masyarakat menghijaukan lingkungannya dengan menanam dan memelihara pohon-pohon yang sudah ada .
4. Mengajak seluruh perkantoran pemerintah untuk memberi contoh gerakan bersama peduli lingkungan hijau dan sejuk melaui penanaman pohon dikantornya maupun dirumah PNS,
5. Setiap dinas diserahi pengelolaan satu areal taman, seperti yang diterapkan di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, memperbanyak hutan kota di ibukota kabupaten maupun kecamatan,
6. Memasukkan muatan lokal (mulok) dalam pendidikan formal yang dimulai dari tingkat SD,
7. Mengomposkan sampah organik dan diajurkan untuk tidak membakarnya, mengurangi pemakaian kendaraan bermesin (motor, mobil) yang dirasa tidak terlau mendesak,
8. Mengatur transportasi publik seperti angkot/mikrolet , bus kota dan bus antar kota secara lebih efisien dan efektip.
9. Mengurangi pemakaian listrik
10. Merawat mesin dengan baik sehingga pembakaran sempurna dan hemat BBM
11. Dll

Kita sebenarnya bisa menghitung berapa pemborosan yang diakibatkan oleh banyaknya bus antar kota yang penumpangnya meski sangat sedikit namun harus terus berjalan , misalnya dari Kupang ke Atambua ? Kenapa tidak diatur sedemikian rupa per satuan waktu sehingga bus antar kota bisa dibatasi jumlahnya dan tidak terjadi pemborosan BBM, onderdil, waktu dan tenaga, juga dengan mengurangi jumlah armada bus yang disesuaikan dengan kapasitas penumpang maka akan mengurangi kepadatan lalu lintas dan peluang terjadinya kecelakaan. Berapa banyak gas buangan CO2 yang dapat dikurangi sehingga ikut menyumbang dalam mengurangi buangan emisi ke udara yang berarti ikut mengurangi pemanasan global ? Demikian pula dengan moda angkutan lainnya seperti angkutan ojek, angkota, kapal dll.

Pemuka agama telah menyerukan dan memasukkan agenda peduli lingkungan berupa tanam pohon pada jemaatnya, namun sayangnya seringkali himbauan ini hanya berhenti sebatas mimbar seperti halnya gerakan yang dicanangkan secara masal oleh pemerintah sering hanya menjadi gerakan sesaat karena belum didasari oleh kesadaran diri pribadi akan arti penting tindakannya.

Mendidik anak sejak usia dini dengan pemahaman yang utuh terkait lingkungan dan masuk menjadi muatan pelajaran dalam kurikulum sekolah menjadi sangat strategis untuk membentuk kepribadian warga yang sadar dan peduli lingkungan dimasa mendatang. Anak-anak merupakan harapan kedepan karena sangat sulit merubah watak orang dewasa yang sudah terlajur tidak peduli dengan lingkungan. Memang umur boleh dewasa, tetapi ketika membuang sampah secara sembarangan apakah mencerminkan kedewasaan ? Anak kecilpun kalau dibiasakan bisa buang sampah ditempatnya.

Jadi masalahnya apakah kita sebagai orang dewasa tidak tahu atau tidak mau tahu terkait pemanasan global dan perubahan iklim ?

Sayang sekali jika bumi yang kita diami yang hanya satu dan tak tergantikan ini terus saja dicemari dan dihancurkan oleh kita sebagai manusia yang katanya mahluk yang paling beradab namun dipertanyakan “keberadabannya” karena ketidak pedulian kita terhadap kerusakan lingkungan.

Jadi kalau bisa dibuat gampang, kenapa harus cari alasan pembenaran terus menerus ? Mulailah dari apa yang ada, mulai dari diri sendiri dan mulailah sekarang juga, lebih baik terlambat daripada tidak melakukan apa-apa.

Salam hijau,

YBT Suryo Kusumo
tony.suryokusumo@gmail.com

Menghijaukan batu berkarang Kupang menjadi kota ramah lingkungan

Siapa yang baru saja datang dan menjejakkan kaki di kota Kupang pasti akan terperangah melihat tonjolan batu karang meranggas diseantero kota terutama pada saat setelah memasuki musim panas.

Kota Kupang memang akan terlihat lebih hijau ketika musim hujan dimana rumput, semak dan pepohonan seolah berlomba untuk terus tumbuh dengan suburnya setelah hampir 9 (sembilan) bulan mengalami kekeringan yang gersang dan panas.

Namun bagi warga kota hal seperti ini sudah menjadi kelaziman dan bukan hal yang aneh, sudah terbiasa dengan aroma hawa panas yang menyengat, tiupan angin kering nan kencang di musim panas dan meranggasnya beberapa pohon naungan dipinggir jalan.

Tantangan untuk siapa ?

Menjadikan Kota Kupang lebih ramah lingkungan, lebih hijau dan terasa lebih sejuk merupakan tantangan bagi seluruh para-pihak /stake holder . Dalam era pemanasan global dimana konferensi internasionalnya baru saja terselenggara di Bali, peran apa yang dapat kita mainkan untuk mengurangi pemanasan global ? Atau yang lebih luas lagi, kontribusi apa yang dapat disumbangkan wraga kota dan Pemkot dalam menjadikan Kupang sebagai kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan ?

Mengandalkan Dinas Tata kota dan Pertamanan untuk secara sendirian menata Kota Kupang menjadi lebih menawan terasa kurang pas, karena di alam demokrasi, partisipasi dan keterlibatan aktip warga kota sangat diharapkan sebagai si empunya kota. Sudah bukan jamannya lagi untuk meletakkan semua persoalan kota dipundak Pemkot.

Yang masih menjadi pertanyaan, seberapa jauh warga dilibatkan dalam setiap pengembangan kota terutama dalam menjadikan kota Kupang sebagai kota yang ramah lingkungan ?

Peran dan tanggung jawab Dinas Pertamanan dan Tata Kota perlu disampaikan kepada warga demikian pula sosialisasi programnya perlu terus dilakukan. Perlu ada dialog interaktip anatar warga disatu sisi sebagai empunya kota dan disisi lain sebagai pihak yang harus dilayani oleh Pemkot, sehingga ada titik temu dalam pembagian peran yang jelas dalam mewujudkan kota yang asri. Perlu ada edukasi/ penyadaran terus menerus kepada seluruh warga kota tentang arti penting menjaga keindahan taman, menjaga kebersihan kota, menjaga fasilitas kota untuk kebaikan seluruh warga kota.

Tidak perlu lagi untuk saling menunggu apalagi saling menyalahkan satu dengan yang lain sehingga suasana kota menjadi lebih bersih, nyaman, asri dan membuat wraga kota bangga dan betah dengan keberadaan kotanya.



Pengelolaan lingkungan seputar rumah

Salah satu tindakan yang paling kecil, mudah dan nyata bagi warga kota adalah menata dan membersihkan lingkungan disekitar halaman rumahnya maupun diluar halaman sebatas yang masih menjadi tanggung jawabnya seperti misal membersihkan rumput dan menanami dengan tanaman bunga/hias.

Warga bisa memulai dengan membuat kompos dari sampah organiknya dan memanfaatkannya sehingga lahan menjadi lebih subur dan hijau, selain dapat mengurangi pencemaran karena tidak perlu dibakar dan meningkatkan kesegaran udara yang kita hirup.

Kalau mau lebih jauh , warga bisa dilibatkan dalam pembibitan tanaman penghijauan secara swadaya dengan difasilitasi oleh dinas terkait semisal Dinas Kehutanan untuk dibagikan kepada tetangga atau handai taulan sanak kerabat.

Pemanfaatan pekarangan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan salah satu teknik yang dapat diterapkan untuk lahan yang terbatas adalah vertikultur yakni menggunakan rak tanaman keatas untuk menghemat ruang.

Selain itu pemanfaatan polybag/kantong plastik sebagai media tanam di batu berkarang juga dapat dilakukan meski ada sedikit kendala terutama harus menyiapkan sedikit dana untuk pembelian polybagnya.

Pemanenan air dengan berbagai teknik sederhana perlu dilakukan sebagai bagian dalam mewujudkan kota Kupang yang cukup air namun tidak kebanjiran maupun kekeringan.

Yang menjadi tantangan bersama adalah bagaimana aksi nyata mencintai lingkungan dapat menjadi gerakan bersama warga yang difasilitasi Pemkot.

Mesin birokrasi Pemkot dari tingkat RT  RW  dan Kelurahan maupun gerakan PKK dan Pramuka seharusnya dapat memutar roda aksi peduli lingkungan untuk terus menggema diseluruh kota sebagai program reguler dan bukan sekedar menjadi trend yang sesaat.


Pengembangan tabulapot

Di beberapa tempat sudah ada beberapa warga yang mengembangkan tanaman buah dalam pot . Selain teknologinya mudah, apabila kebiasaan mengembangkan tabulapot ini dapat menjadi gerakan bersama, maka selain menambah hijaunya lahan berkarang, juga akan terus menyediakan sumber vitamin dari hasil buahnya. Tabulapot juga tidak memakan tempat dan cocok dikembangkan dilingkungan padat penduduk. Pemkot dapat menfasilitasi pengadaan bibit tanaman buahnya yang cocok dikembangkan didaerah panas seperti mangga, belimbing, jambu air dll.


Pengembangan potensi laut

Pantai Lasiana yang menjadi tumpuan lokasi wisata yang berada dekat kota, murah dan meriah sebenarnya dapat dijadikan pilot proyek pengembangan pantai yang ramah lingkungan. Sayang hampir puluhan tahun Lasiana terkesan dibiarkan dikelola dengan cara seadanya dan kurang profesional. Alangkah bijak jika Lasiana sebagai etalase kota dari sisi pantai dapat dikelola dengan profesional dan dilengkapi dengan berbagai ragam permainan anak yang edukatip meski tidak semegah Taman Impian Jaya Ancol. Tempat berteduh yang sering tumbang dan cenderung tidak terkelola secara baik, tingkat kebersihan yang masih perlu ditingkatkan dll menjadi PR bersama.

Pembudidayaan rumput laut
Terlihat trend pengembangan rumput laut ada dimana-mana di NTT termasuk di pantai Kota Kupang. Permintaan pasar dengan harga yang layak menarik banyak pihak untuk ikut menangguk keuntungan dari potensi laut yang ada didepan mata. Hal ini sangat baik dilihat dari sisi ekologis karena tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup terbagi merata antara daratan dan laut sehingga diharapkan tercipta keseimbangan ekologis dalam mengelola potensi alam. Pemanfaatan pantai untuk rumput laut perlu dikaji mendalam termasuk dampaknya terhadap lalu lintas perairan. Selama memberi dampak positip, maka pengelolaan rumput laut juga memberi kontribusi terhadap kebersihan pantai sekaligus menjadi sandaran hidup bagi warga disekitarnya.



Menata kembali jalur hijau

Yang tak kalah penting dalam membuat hijau kota Kupang adalah bagaimana menata kembali jalur hijau yang ada sehingga mampu berperan sebagai paru-paru kota yang mampu membersihkan segala kotoran yang menyesakkan dada. Keindahan pantai sepanjang Pasir Panjang sebenarnya akan lebih menonjol apabila pohon-pohon yang menutupi keindahan pantai digantikan dengan tanaman perdu.semak maupun tanaman hias beraneka sehingga terlihat panorama pantai dengan deburan ombak dan kilap pasirnya terlihat secara jelas dari jalan raya yang ada disisinya. Sayang sebagian jalur hijau telah beralih fungsi menjadi kawasan peruntukan bisnis. Masalah pengelolaan taman-taman kota perlu ditingkatkan, perlunya menjaga kebersihan area publik dan juga masih banyaknya rumput liar yang menghiasi wajah kota terutama seputaran Penfui dan Walikota Baru menjadi fokus untuk dicarikan solusinya. Sayang apabila diantara jalan berhotmix dan merupakan jalan protokol masih dijumpai rumput dan tumbuhan liar yang dibiarkan merusak pemandangan kota.

Inilah tantangan bersama kita sebagai warga kota, bukan untuk mendapat pernghargaan Adi pura yang pura-pura adi, tetapi demi peningkatan kualitas kehidupan kita sebagai warga kota.

Selamat berkarya Walikota Kupang dan jajarannya, Tuhan memberkati.
Kami semua menunggu janji perubahan yang membuat “hidup menjadi lebih hidup”.

YBT Suryo Kusumo

Pemerhati kehidupan, warga Kota Kupang

tony.suryokusumo@gmail.com

Kepedulian dan kontribusi warga menjaga kelestarian lingkungannya

Di negeri kita Indonesia, begitu banyak orang yang mengetahui perlunya menjaga kelestarian lingkungan, namun sayangnya kebanyakan masih dalam taraf pengetahuan saja dan belum menjadi pemahaman bersama yang diikuti dengan tindakan nyata berupa gerakan bersama melestarikan lingkungan.
Kita dapat melihat dalam hidup keseharian, betapa banyak hal-hal yang sederhana yang seharusnya dapat dilakukan masyarakat, namun tetap saja tidak dilakukan sebagai sikap keseharian.
Bahkan terkait dengan hidup berbangsa dan bernegara , berbagai UU terkait lingkungan hidup telah mengatur terkait kelestarian lingkungan.
Salah satunya UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 6 Ayat 1 yang berbunyi "Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup."


Kebersihan adalah sebagian dari iman

Dibeberapa tempat antara lain seperti di terminal bus tertempel tulisan yang sangat menarik yang berbunyi “Kebersihan adalah sebagian dari iman”
Kita diajak sekaligus ditantang untuk membuktikan kalau kita benar-benar mengaku sebagai orang yang beriman, maka sudah selayaknya perilaku dan sikap kita memberikan kontribusi yang positip terhadap terjaganya dan meningkatnya derajat kebersihan di lingkungan kita.

Tidak usah jauh-jauh, mari kita mulai bertindak dari “menjaga kebersihan disekitar kita”.
Sebagian besar warga mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan adalah tindakan yang tidak terpuji dan menunjukkan ketidakpedulian terhadap kelestarian lingkungan. Namun kalau kita amati, berapa persen dari para perokok yang membuang putung rokok di tempat sampah ? Bahkan dikawasan elit seperti bandara masih banyak para perokok yang dengan entengnya membuang putung meski tampilan fisiknya perlente dan intelek. Belum lagi kebiasaan untuk mentaati larangan merokok di area publik. Sering terlihat begitu tidak sopan dan cueknya para perokok mengepulkan asapnya tanpa merasa bersalah mekipun keberadaan seseorang yang ada disampingnya sangat merasa terganggu dengan kepulan asap rokoknya. Apalagi bagi mereka yang tidak merokok, apabila menghisap asap rokok atau yang dikenal dengan perokok pasip akan menanggung resiko yang lebih besar dibanding perokok itu sendiri. Artinya kalau warga bangsa ini sadar begitu banyak aspek negatip dari kebiasaan merokok baik terkait kesehatan badan, kesehatan ekonominya, kebersihan lokasi dan udara, maka sudah selayaknya kampanye anti rokok didukung oleh sebagian besar warga.

Pengalaman ketika transit di bandara Juanda Surabaya, terlihat betapa cueknya sebagian besar penumpang dalam menjaga kebersihan bandara, Terlihat beberapa penumpang meninggalkan begitu saja sampah-sampah di kursi tanpa mau membuang ditempat sampah meski keberadaan tempat sampah hanya berada disampingnya. Mereka tidak peduli pada kebersihan dan tidak menghargai jerih payah para petugas kebersihan yang dengan sekuat tenaga menjaga tingkat kebersihan bandara yang bertaraf intenasional.

Menjadi pertanyaan yang menarik, sebenarnya tindakan para pelaku buang sampah sembarangan ini karena ketidaktahuan atau karena memang tidak mau tahu alias bebal ?

Kita juga dapat melihat terkait permasalahan banjir yang kita semua tahu salah satu penyebabnya adalah banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan sehingga menyumbat atau mengurangi kapasitas saluran darinase/pembuangan dan juga mendangkalkan daerah tampungan air. Namun kegiatan buang sampah sembarangan tidak semakin menurun, terbukti masih terus beroperasinya alat pengeruk sampah di sungai maupun di daerah tampungan air dan pengerukan setiap tahun pada saluran pembuangan.

Belum lagi apabila dikaitkan dengan dampak yang ditimbulkan karena adanya tumpukan sampah yang dapat menyebabkan bau yang tidak sedap, munculnya wabah berbagai penyakit dll.

“Pertanyaannya, apa yang salah dengan masyarakat kita yang meski sudah tahu akibat buruk dari aktivitas membuang sampah sembarangan namun tetap saja melakukannya ?”


Pembelajaran dari usia dini dan dari keteladanan

Memang masalah menanamkan sikap kepedulian terhadap kelestarian lingkungan bukan hal yang mudah namun bisa dilakukan.
Yang pertama dilakukan adalah kesadaran dari diri kita sebagai bagian dari ekosistem untuk menjaga keseimbangan ekosistem dunia yang kita huni. Kita harus memulai dari sekarang juga, dari diri kita sendiri tanpa harus menunggu saat yang tepat untuk melakukannya. Yang paling mudah adalah menanamkan keadaran dalam diri kita sendiri bahwa perilaku membuang sampah sembarangan bukan hanya permasalahan melanggar hukum manusia tetapi juga melanggar dari aturan norma moral karena selain membuat lingkungan menjadi tidak indah dan nyaman, juga membahayakan bagi sesama lainnya, menimbulkan pencemaran baik di air, darat maupun udara yang dapat menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia maupun hewan lainnya.Kita hanya diingatkan oleh diri kita sendiri untuk menyimpan dulu dan bertahan untuk tidak membuang dulu sampah sembarangan apabila belum ditemukan tempat sampah yang disediakan.

Pengalaman ketika naik kapal di laut, begitu mudah para penumpang, bahkan juga ABK membuang sampah ke laut, seolah-olah tidak akan terjadi dampak negatip, padahal kita tahu dampak negatip sampah plastik yang dapat merusak binatang laut berupa terumbu karang yang berfungsi dalam mengatur keseimbangn ekosistem laut. Banyak diantara kita masih menganggap bahwa laut adalah “tempat buangan sampah yang sangat luas” yang dengan seenaknya kita bisa membuang sampah tanpa perlu merasa bersalah.

Demikian pula dengan keberadaan sungai yang seperti halnya laut , masih dianggap sebagai tempat buangan sampah yang “meluas dan memanjang”. Bahkan yang lebih mengenaskan, masih banyak pemilik pabrik disepanjang sungai yang mengambil jalan pintas membuang limbah berbahaya ke sungai hanya demi pertimbangan efisiensi biaya semata karena tidak perlu mengolah limbah, tanpa mau berpikir panjang bahwa tindakannya akan sangat membahayakan warga disepanjang sungai yang memanfaatkan air sungai, padahal mereka tahu fungsi sungai salah satunya adalah menyediakan bahan baku untuk air bersih dan juga dapat digunakan sebagai jalur transportasi. Kita masih ingat pelaksanaan PROKASIH (Program Kali Bersih) yang pernah dicanangkan pemerintah dijaman ORBA salah satunya di Kali Ciliwung ternyata tidak berkelanjutan karena tidak didukung dan menjadi bersama gerakan warga Jakarta dan sekitarnya yang dilewati Kali Ciliwung.
.

Kebiasaan membibitkan dan menumbuhkan tanam

Sejak usia dini sebaiknya anak-anak kita sudah dikenalkan dengan lingkungan, diajak mengamati dan meneliti alam, mengenal lebih dekat dengan alam ciptaan TUHAN.
Kecintaan terhadap alam harus terus ditumbuhkan dengan jalan memelihara tanaman, membibitkan berbagai tumbuhan dan tanaman, menanam dan menumbuhkannya sehingga mempunyai fungsi yang positip dalam menunjang keberadaan bumi yang kita tumpangi. Pendidikan diusia dini seperti PAUD, TK, SD, SMP sudah selayaknya mengajarkan betapa pentingnya berperilaku positip dan berkontribusi dalam ikut serta melestarikan alam melalui tindakan keseharian yang gampang semisal membuang sampah ditempatnya, menghijaukan lingkungan sekolah dll. Kebiasaan Romo Mangun yang selalu melempar biji apa saja untuk supaya tumbuh merupakan bukti kecintaan beliau pada lingkungan. Tidak perlu kita muluk-muluk menanam sampai ribuan pohon, namun apabila sebagian besar warga negara sadar bahwa kecintaan kepada bumi pertiwi diwujudkan salah satunya melalui menumbuhkan tanaman dan menjadikannya sebagai sebuah gerakan bersama, maka alam Indonesia dipastikan akan lebih hijau, teduh, sejuk , segar dan nyaman. Dengan kondisi demikian pasti derajat kesehatan masyarakat juga akan semakin meningkat seiring meningkatnya kualitas alam yang mendukungnya.

Kebisaaan memberi kado berupa tanaman

Kebiasaan baru sebaiknya ditumbuhkan di masyarakat dalam rangka lebih menghijaukan bumi sekaligus berkontribusi secara nyata dan bukan hanya wacana, dalam mengurangi laju pemanasan global, mengurangi emisi karbon dan menciptakan lingkungan yang lebih sejuk dan nyaman. Kebiasaan memberi kado berupa tanaman perlu disosialisasikan dan menjadi kebanggaan sebagai warga yang peduli pada kelestarian lingkungan.Juga kebisaaan menyatakan rasa sayang dan kecintaan terhadap seseorang dengan memberi setangkai bunga segar akan sangat membantu mendekatkan manusia dengan alam dan memberi lapangan kerja bagi pengrajin bunga segar dan tidak hanya ada di tayangan sinetron.

Peduli tanam pohon

Program “gerakan penanaman sejuta pohon” yang dicanangkan pemerintah ternyata juga hanya sebatas menanam tanpa memonitor kelanjutan hidup tidaknya tanaman, yang terpenting secara seremonial dan secara formalitas sudah dilakukan. Sebenarnya penamaan gerakannya perlu diganti dengan “gerakan menumbuhkan sejuta pohon” sehingga ada tanggung jawab moral untuk terus mengupayakan agar tanaman yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang sehingga mempunyai fungsi dalam melestarikan lingkungan.

Daur ulang (3R; Reduce, Re-use, Re-cycle,)
MENGURANGI (Reduce) ?
Kebiasaan kita warga kota yang sering mengklaim diri sebagai warga modern ternyata justru menjadi produsen sampah terbesar dibanding warga yang tinggal diperdesaan.
Dan harus diingat bahwa alam tidak pernah memproduksi sampah, justru peradaban manusialah yang mengaku dirinya semakin maju yang justru semakin menggila dalam memproduksi sampah. Namun bukannya kita tidak dapat memperbaiki kesalahan, melalui perubahan perilaku yang sangat mudah seperti mengubah kebiasaan memakai kantong plastik dengan tas belanja kain atau lainnya yang dapat dipakai berulangkali, memakai sapu tangan dan mengurangi penggunaan kertas tissue, memakai handuk berulang-ulang ketika di hotel mampu mengurangi pemborosan air dan pencemaran detergent, mengurangi berlangganan majalah dan koran dan menggantikan dengan membaca melalui dunia maya (on-line) sehingga dapat mengurangi penggunaan kertas yang dibuat dari bahan kayu-kayuan, dll.
Pemanfaatan tanaman herbal dalam pengobatan, pemanfaatan pestisida hayati.botani, pemanfaatan pupuk organik, pengurangan pemanfaatan obat nyamuk melalui penggunaan kelambu dan memasang kasa-kasa, meupakan tindakan sederhana namun penuh makna dalam mengurangi pencemaran lingkungan.
Penanaman sayur dan TOGA (tanaman obat keluarga) dan mengkonsumsinya dalam keseharian mampu mengurangi sampah berupa kemasan makanan awetan, selain juga lebih sehat bagi tubuh kita.
MENDAUR ULANG (Recycle) ?
Sebagian besar masyarakat kita masih sering menganggap para pemulung adalah kaum hina dengan strata sosial yang rendah, padahal kalau kita paham arti pentingya sebuah proses daur ulang dalam pelestarian lingkungan maka sudah selayaknya kita mengangkat topi dan memberi penghargaan yang tinggi pada para pemulung atas jasanya ikut serta secara tidak langsung mengurangi pencemaran lingkungan. Sudah seharusnya kita justru bertindak membantu mereka dengan jalan memilah sampah rumah tangga kita menjadi dua bagian yakni sampah organik dan sampah non organik yang masih dapat didaur ulang. Logam, plastik dan serpihan kaca dapat didaur ulang sehingga menghemat sumber daya alam dalam penggunaannya.
MENGGUNAKAN ULANG (Reuse) ?
Apalagi jika telah tumbuh kesadaran untuk mengomposkan sendiri sampah organik yang dihasilkan dari rumah tangga maupun lingkungan sekitarnya dengan menggunakan alat dekomposer dan bahan aktivator mikrobia akan sangat membantu karena mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA, juga dapat meningkatkan kesuburan kahan disekitar rumah. Mengelola sampah dengan cara membuang sudah usang dan perlu dicari alternatip yang lebih ramah lingkungan. Pembuangan sampah selain hanya memindahkan masalah juga memboroskan BBM dalam pengangkutannya. Juga pemakaian kertas daur ulang untuk keseharian kita akan sangat membantu dalam pelestarian lingkungan. Pembuatan kerajinan dari bahan daur ulang juga membantu menjaga lingkungan dari pencemaran selain meningkatkan pendapatan.

Sikap hidup hemat (energi, BBM.dll)

Tayangan iklan PLN di televisi tentang kebiasaan perlunya mematikan listrik yang tidak perlu pada jam 17 – 22 , sebenarnya bukan hanya didasari keterbatasan kemampuan PLN dalam memasok listrik pada jam sibuk dan terkuranginya tagihan listrik, namun sebenarnya juga menyadarkan kita arti pentingnya berhemat energi, terutama energi lsitrik yang sebagian juga dihasilkan dari penggunaan BBM dan batubara sebagai sumber energi yang tidak terbarukan. Jangan karena kita mampu membayar listrik sebeberapapun banyaknya lantas kita mentang-mentang alias seenaknya sendiri dalam pemakaian listrik.

Pemanfaatan sarana transportasi yang hemat energi terus dikampanyekan oleh berbagai pihak. Kita masih ingat kampanye yang dilakukan A’a Gym seorang dai kondang dan juga seruan Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono dalam pemakaian sepeda sangatlah luar biasa apabila dapat menjadi gerakan bersama warga kota baik di Jakarta maupun di kota besar lainnya. Manfaat yang dapat dirasakan selain menurunkan besarnya pemakaian BBM yang masih disubsidi negara, mengurangi polusi udara, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan derajad kesehatan pengendaranya, juga
mengurangi pengeluaran ongkos transpor yang kalau ditabung dan diinvestasikan dalam bidang yang produktip bisa menjadi sumber pembiayaan keuangan bagi pembangunan bangsa tanpa harus terus berhutang ke Bank Dunia atau negara lainnya. Artinya kita tidak harus membayar bunga ke bangsa lain tetapi kepada rakyatnya yang mampu brhemat dan menabung untuk investasi yang berarti ikut meningkatkan pendapatan masyarakat.Namun pihak pemerintahan kota harus secara adil menyediakan jalur khusus untuk moda transportasi yang tidak bermesin seperti sepeda, becak, andong/ cidomo dll.


Pentingnya penegakan hukum
Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran membuang sampah sembarangan dan yang bersifat merusak lingkungan seperti illegal logging mengakibatkan semakin banyak warga yang tidak peduli dengan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan semakin menggilanya para cukong kayu membabat habis hutan. Tidak ada penindakan sama sekali terhadap “para pembuang sampah sembarangan” dan pelanggar hukum lingkungan lainnya yang notabene seharusnya sudah memahami arti penting kelestarian lingkungan.

Demikian pula lepasnya para pelaku pembalakan liar dalam skala besar dari jeratan hukum dengan berbagai alasan pembenaran “hukum yang tidak benar” semakin membuat rakyat yang berada disekitar daerah pembalakan liar semakin was-was kira-kira bencana apa lagi yang akan meluluhlantakkan dan memporakporandakan kehidupan mereka dan keturunannya ? Apalagi dikaitkan dengan rencana akan diselenggarakannya pertemuan internasional di Bali terkait perubahan iklim global dimana Indonesia sebagai tuan rumah, lalu apa kata dunia ?

Maka menjadi wajar apabila Indonesia dijuluki “negeri seribu satu bencana”, karena perilaku warga kita yang tidak ramah lingkungan dan tidak menjadikan alam sebagai sahabat. Ilegal logging,, tata ruang yang dilanggar karena atas nama bisnis dan pertumbuhan ekonomi, prosedur tetap yang tidak diikuti berakibat pada datangnya banjir bandang, kekeringan dan longsor dimana-mana, juga luapan lumpur di Porong Sidoarjo yang semakin melebar dan tak terkendali .

Tindakan kita yang lebih banyak reaktif daripada proaktif semakin menjadikan kita sebagai sebuah bangsa yang terus dirundung malang karena tidak mau belajar dari pengalaman. Kita masih terus menantang alam dan berusaha menaklukkan, padahal yang dibutuhkan dalam hidup adalah bagaimana kita berdamai dengan alam tanpa menjadi rakus, tamak yang berakibat kita menjadi sengsara karena perilaku kita sendiri.

Masalahnya, kapan kita mau sadar dan bertindak ? Masih perlukah kita mengunggu bencana yang lebih besar dan lebih membinasakan ? Dimanakah peran kita sekecil apapun terhadap kelestarian lingkungan ?


YBT Suryo Kusumo
Pengembang masyarakat perdesaan
tony.suryokusumo@gmail.com

Hutan NTT, mata air yang menjadi air mata

Menarik apa yang diungkapkan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam pengantar pelantikan Menhut yang baru yakni Marzuki Usman yang menggantikan Nur Mahmudi Ismail di istana Negara, Jakarta sabtu (17/3/2001) pagi. Beliau mengatakan, karena kelalaian melestarikan hutan, wilayah propinsi NTT dan NTB sekarang gundul menjadi padang rumput atau sabana. Padahal dulu dalam literatur lama, kedua daerah tersebut adalah daerah hutan yang sangat besar. Presiden menyebut daerah NTT dan NTB yang kini menjadi gundul itu sebagai contoh kelalaian bangsa Indonesia melestarikan hutan. Karena itu pesan Presiden Gus Dur kepada Menhut yang baru agar menyelamatkan dan melestarikan hutan Indonesia agar tetap menajdi kekayaan alam yang berguna bagi perekonomian nasional dan sebagai paru-paru dunia. “Hutan adalah kekayaan alam, jadi harus dikelola sebaik-baiknya sebagai bagian dari kekayaan nasional” kata Gus Dur. Pernyataan tersebut seharusnya membuat kita sebagai warga NTT merasa malu hati dan berintrospeksi untuk segera berbenah diri untuk menyadari arti strategis sebuah hutan bagi kelangsungan hidup seluruh warga yang mendiami NTT. Dan bagi Dinas Kehutanan di NTT, pernyataan Presiden seharusnya dijadikan PR (pekerjaan untuk rakyat) yang harus diprioritaskan dan dijamin keberhasilannya. Dinas Kehutanan sudah seharusnya mengkaji kembali kegagalannya dalam menghutankan NTT, karena sudah begitu besar dana yang dihabiskan untuk menghutankan kembali namun menjadi mubasir dan sia-sia serta pemborosan yang luar biasa ketika kita masih dapat melihat dengan kasat mata banyaknya lahan kritis dan gundul diseputar kehidupan kita di NTT.

Masa keemasan cendana

Kalau kita tengok kembali kebelakang, kedatangan penjajah baik Belanda maupun Portugis, maka motivasi utama dari kedatangan mereka adalah mengambil kekayaan alam yang dihasilkan oleh bumi Nusantara, tidak terkecuali NTT. Salah satu hasil kekayaan alam yang sangat terkenal di NTT adalah kayu cendana. Begitu terkenalnya kayu cendana karena wangi bau dan harganya, sehingga menjadi nama sebuah universitas negeri di Kupang dan juga dipilih menjadi nama jalan rumah kediaman penguasa Orde baru sehingga keluarga mereka terkenal dengan sebutan ‘Keluarga Cendana’ yang sangat kontras kehidupan dan perilakunya dengan “keluarga Cemara” di sinetron RCTI. Pada masa Orde Baru, pohon cendana sangat diatur tata niaganya, bahkan cenderung dimonopoli oleh pemerintah karena memberi andil yang besar bagi pendapatan baik pemerintah maupun oknum yang mengatur tata niaganya. Akibat dari ketatnya pengaturan cendana, maka rakyat menjadi sangat marah meski diam dan melakukan pembangkangan pasip dengan tidak lagi mau menanam dan memelihara cendana sehingga berakibat populasi cendana semakin sedikit jumlahnya , kalau tidak mau dikatakan punah. Baru akhir-akhir ini ada usaha dari pemerintah untuk menanam kembali cendana, termasuk yang dilakukan Dinas Kehutanan TK II Kupang, namun meskipun dibagikan secara gratis, respon masyarakat untuk menanam di pekarangan rumahnya sebagai penghijauan masih relatip rendah.



Mata air berubah jadi air mata

Keberadaan kawasan hutan di NTT menjadi startegis, ketika kita membicarakan desentralisasi melalui otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat. Otonomi daerah akan berhasil apabila mengandaikan pemda dan masyarakat mau dan mampu mengelola SDA, SDM yang ada mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi , birokrasi yang profesional bebas KKN, adanya akuntabilitas kinerja pemda dan kontrol maupun akses dimiliki oleh rakyat terhadap eksekutip, legislatip dan yudikatip. Maka profesionalitas dinas kehutanan dan seluruh potensi yang ada di masyarakat (intelektual, agamawan, LSM, swasta dll) sangat diharapkan dalam mengelola hutan yang ada serta menumbuhkan kembali hutan yang terlanjur menjadi padang alang-alang/ sabana. Keberlanjutan generasi mendatang dan keberlanjutan pembangunandi NTT juga sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk mengelola hutan sebagai aset ekonomi yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi kemakmuran NTT.

Salah satu fungsi yang sangat penting dari sebuah keberadaan kawasan hutan adalah kemampuannya menjaga daur hidrologis sehingga dapat membantu ketersediaan air di musim kemarau melalui mata air yang muncul akibat tersimpannya air oleh keberadaan kawasan hutan beserta tegakan pohonpohonnya maupun kemampuannya menghindarkan terjadinya banjir ketika musim hujan berlangsung. Air yang merupakan sumber kehidupan bagi mahluk hidup termasuk didalamnya masyarakat NTT, keberadaan dan ketersediaannya tidak dapat tergantikan dan mutlak harus terpenuhi. Bahkan syarat mutlak tingkat kualitas kehidupan masyarakat salah satunya adalah ketersediaan air yang memenuhi kualitas layak minum dalam jumlah yang cukup tersedia. Tingkat kesehatan masyarakatpun sangat tergantung dari ketersediaan air yang cukup baik jumlah maupun kualitasnya untuk keperluan mandi, masak, minum, mencuci dan WC, bahkan untuk ternak yang kita pelihara. Sebaik dan semewah apapun sarana dalam rumah kita, apabila tanpa ketersediaan air yang cukup maka akan mengurangi kenikmatan kita sebagai penghuni. Maka keberadaan hutan dalam menyangga sebuah kawasan pemukiman sebagai penyedia air sungguh perlu diperhatikan. Jangan sampai kelengahan kita melestarikan hutan menjadi malapetaka yang menyebabkan mata air berubah menjadi air mata mengalir dan kita cenderung melihat itu semua sebagai bencana yang berasal dari ‘Sang Pencipta’.

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat

Bagaimana kita sebagai warga NTT menyikapi kelalaian yang menyebabkan lahan gundul dan menjadi padang rumput atau sabana ? Apakah masalahnya menjadi selesai jika kita saling menyalahkan atau ketika kita hanya menyalahkan dinas yang terkait dengan pengelolaan hutan ? Memang kita harus menuntut kinerja yang paling maksimal dengan biaya serendah-rendahnya dari dinas kehutanan dalam mengelola hutan, dan perlu membuat kesepakatan bersama mengenai indikator keberhasilan pengelolaan hutan yang harus disosialisasikan dan diketahui oleh masyarakat. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat juga ikut mengontrol pelaksanaan pengubahan lahan gundul dan padang rumput menjadi hutan, sehingga laju pemborosan uang negara tidak terulang. Pengelolaan hutan sebaiknya melibatkan secara penuh masyarakat terutama yang terkait langsung dengan keberadaan sebuah kawasan hutan. Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) yang mengelola hutan perlu ditumbuhkan dan dikembangkan dimana masyarakat disiapkan terlebih dahulu dengan pelatihan teknis, maupun manajemen pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat disekitar hutan untuk menjadi pengelola yang baik menjadi prioritas apabila kita ingin melihat kembali tumbuhnya hutan dan keberlanjutannya di NTT. Dasar pertimbangan logisnya adalah masyarakat sekitar hutan tidak akan dengan bodohnya merusak hutan yang menghidupi diri dan keluarganya. Dengan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat ditambah dengan peningkatan ketrampilan teknis dan manajerialnya, maka diharapkan perusakan hutan oleh pengelola HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang dipicu motip ekonomi karena didorong kerakusan dan ketamakan dapat dihindari dan digantikan pengelolaannya oleh masyarakat yang sadar lingkungan. Masyarakat sekitar hutan dapat menjadi pengelola hutan namun tidak diperbolehkan untuk dijual dan hanya dapat diwariskan dalam hak mengelolanya kepada anak cucunya. Dengan demikian kepanjangan NTT dari ‘Nasib Tidak Tentu’, “Nasib Tergantung Tuhan” dll, tetapi menjadi “Nasib Tergantung Tekad’ dan terkait dengan pengelolaan hutan menjadi ‘Nasib Tanah Terjamin’ dalam hal kesuburan dan kelestariannya karena keberadaan hutan tetap terjaga.




YBT. Suryo Kusumo
Pengembang masyarakat pedesaan