Selasa, 21 Oktober 2008

KISAH PANJANG MENEMBUS PASAR SURABAYA

I. Latar Belakang

Keberhasilan petani meningkatkan produksi tidak membuat wajah petani menjadi cerah, apalagi terjadi gagal panen petani hanya bisa menghela napas panjang. Persoalan demi persoaalan muncul yang tak pernah dapat terselesaikan dengan tuntas. Salah satu penyebab kemurungan wajah petani adalah harga produk petani yang tidak sesuai dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan. Secara turun temurun, produk yang dihasilkan dipasarkan secara sendiri-sendiri dengan prinsip yang penting cepat laku. Issu masalah pemasaran produk petani semakin mencuat dipermukaan ketika Program Pertanian Berkelanjutan mampu meningkatkan produksi, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Namun disisi lain ketika produksi meningkat, harga produk petani menurun.

Dari hasil penjajakan di lapangan dan cerita singkat dari beberapa petani yang ada di wilayah dampingan YSLPP, tergambar jelas bahwa persoalan utama dalam pemasaran produk pertanian adalah pada akses pasar ( yaitu peluang dan informasi pasar) dan mata rantai pemasaran. Semakin jauh dan panjang mata rantai pemasaran, semakin jauh harapan petani untuk mendapatkan harga yang layak, karena setiap simpul rantai akan mencari laba.

Selain masalah di atas, terungkap beberapa masalah kenapa harga produk petani menurun khususnya kacang tanah. Masalah-masalah yang dimaksud antara lain :

1. Petani meminjam benih dari tengkulak setiap musim tanam, walaupun dengan pengembalian yang cukup besar yaitu 1 karung kembali 2 karung.
2. Petani tidak cukup uang untuk biaya panen, sehingga lagi-lagi masih meminjam pada tengkulak.
3. Petani tidak bisa menahan produknya karena harus segera dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari.
4. Petani menjual secara sendiri-sendiri, dimana harga berbeda antara petani yang satu dengan yang lainnya dan terkadang petani langsung menjual sebelum sampai waktu panen sehingga harga dipermainkan oleh pengusaha..
5. Kekhawatiran selalu ada di benak petani, kalau terlambat jual barang rusak dan tidak ada yang beli sehingga begitu panen langsung dijual dilahan (pengusaha/tengkulak membawa truk kelahan)
6. Sebagian besar petani merasa tidak enak dan terpaksa kalau harus menjual ke pengusaha lain, karena sudah diberi pinjaman benih dan biaya panen.
7. Pengetahuan dan keterampilan petani tentang pengelolaan pasca panen masih sangat kurang sehingga kwalitas produksi menjadi rendah yang pada gilirannya harga menjadi rendah.

Dari serangkaian masalah yang ada, YSLPP bersama petani melakukan diskusi tentang peliknya persoalan pemasaran produk pertanian. Dari hasil diskusi petani menyimpulkan bahwa kunci sukses dalam pemasaran adalah petani harus bersatu dan kompak. Berikut disampaikan beberapa langkah menuju pemasaran bersama komoditi kacang tanah (pengalaman YSLPP bersama kelompok tani dampingan), dengan harapan bisa dijadikan alternatif jawaban untuk melepaskan diri dari ruwetnya pemasaran.

II. Langkah Menuju Pemasaran Bersama

1. Pendataan produksi
Data produksi merupakan hal yang sangat penting dalam aspek pemasaran. Bagaimama kita bisa berbicara pasar, kalau kita sendiri tidak tahu produk apa saja yang kita miliki, berapa kapasitas/kemampuan kita untuk menghasilkan suatu komoditi dan bagaimana kualitas dan kontinuitas yang mampu kita siapkan. Semua komoditi yang diusahakan petani didata, meliputi jumlah petani yang mengusahakan, luas lahan, jumlah produksi dan waktu panen. Data produksi merupakan modal untuk melakukan promosi negosiasi dengan pengusaha.

2. Pendataan Konsumen
Mengetahui kebutuhan konsumen, dimana konsumen berada merupakan faktor yang sangat penting agar petani bisa menyiapkan produk sesuai permintaan dan petani juga mengetahui kemana harus menjual produknya. Data konsumen yang dihimpun meliputi : siapa saja konsumen yang membutuhkan sebuah produk (baik lokal maupun luar daerah), berapa volume yang siap dibeli, dimana konsumen berada, bagaimana sistem pembayaran dan bagaimana mekanisme pengiriman produk/barang.

3. Penelusuran alur distribusi.
Setelah semua data produksi dan data konsumen terpetakan, dilanjutkan dengan penelusuran alur distribusi di lapangan. Penelusuran alur distribusi ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa panjang alur distribusi yang selama ini terjadi di tingkat petani dan kemana tujuan akhir sebuah produk. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat memotong rantai pasar.
Penelusuran alur distribusi khususnya pada komoditi kacang tanah melalui petani dan kader pemasar . Beberapa pertanyaan kunci meliputi :
q Siapa yang membeli kacang tanah paling banyak
q Bagaimana sistem pembayarannya
q Di mana alamat pengusaha/pembelinya
q Bagaimana mekanisme pembeliannya, apakah pengusaha langsung ke petani atau pengusaha menggunakan tengkulak yang ada di setiap desa.

Dari penelusuran alur distribusi komoditi kacang tanah, terpetakan nama-nama pengusaha lokal dan luar daerah. Dari peta alur distribusi terlihat bahwa “pengusaha dari Surabaya yang membeli paling banyak dan sistem pembayarannya kontan. Hanya saja petani tidak tahu namanya tapi tahu rupa wajahnya. Pengusaha tersebut tidak langsung ke petani tapi melalui kaki tangannya dan kaki tangannya si pengusaha mendapat 2 keuntungan ( komisi dari petani dan komisi dari pengusaha).

4. Menemui Pengusaha
Dari peta alur distribusi terlihat bahwa “pengusaha dari Surabaya yang membeli paling banyak dan sistem pembayarannya kontan. Bersama kader menemui si Pengusaha, lalu perkenalan dan namanya “ H. Wahyudi” dari Surabaya tapi tidak mau menyebut nama perusahaan dan alamat lengkapnya. Dalam pertemuan tersebut kami menyampaikan maksud dan tujuan, menyampaikan keberadaan kelompok, juga menyampaikan kemudahan dan keuntungan pengusaha (H. Wahyudi) jika dibangun pola kerjasama dengan kelompok tani yang ada di wilayah dampingan YSLPP di Kabupaten Sumbawa. Ternyata si pengusaha merasa tertarik dan sangat respon dengan kemudahan dan keuntungan yang diperoleh ketimbang menggunakan calo/tengkulak yang selama ini mereka gunakan. Diakhir obrolan kami menawarkan si pengusaha (H. Wahyudi) untuk melakukan survey ke lokasi lain dan perkenalan dengan petani dan kelompok yang ada di desa Luk). Si pengusaha H.Wahyudi menyanggupi dan keesokan harinya kami bersama-sama melakukan kunjungan lapangan sesuai rencana.
Setelah melihat kondisi lapangan dan kelompok tani yang ada di Desa Luk, Pak Haji Wahyudi menyampaikan bahwa perusahaan akan mau membeli dan bekerjasama dengan petani apabila kwalitas produksi sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh perusahaan seperti kwalitas, kwantitas dan kontinyuitas, apabila tidak sanggup memenuhi permintaaan tersebut maka perusahaan tidak bisa melakukan kerjasama. Karena petani telah sanggup memenuhi permintaan tersebut maka H. Wahyudi menyanggupi untuk melakukan uji coba kerjasama dengan beberapa kesepakatan lisan meliputi : jaga kualitas (kacang harus kering) karena perjalanan jauh, sistem pembayaran kontan, minimal harus ada kacang tanah 1 fuso (250 karung) baru bisa diangkut ke Surabaya. Pada saat itu pengusaha masih menyimpan banyak keraguan, apakah petani bisa menjaga kesepakatan yang telah disepakati bersama. Pengusaha menyampaikan jika ujicoba ini lancar, maka kerjasama akan dilanjutkan. Banyak keraguan yang terungkap dari pihak pengusaha, yang selama ini menurut H.Wahyudi bahwa petani sulit diatur, tidak mau menyadari bahwa kualitas produk adalah yang utama. Jika YSLPP mampu mengarahkan petani untuk tetap menjaga kualitas, maka kami dari pihak pengusaha sangat berterima kasih dan kita bisa membangun hubungan kerjasama jangka panjang khususnya kacang tanah, demikian komentar H.Wahyudi.

Uji coba pemasaran bersama komoditi kacang tanah tahap I (musim tanam 2003/2004) berlangsung sebanyak 46,36 ton dan berjalan lancar walaupun masih terdapat kekurangan yaitu mengenai kualitas kacang tanah dimana masih ada sebagian petani yang kacang tanahnya masih tergolong kurang kering. Namun kami selalu berkomunikasi baik lewat telpon maupun berdiskusi langsung bahwa kami siap memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada, demikian juga pengusaha berharap agar kerjasama bisa berlanjut untuk seterusnya.. Pada musim tanam tahun 2004/2005 pemasaran tahap II dilakukan dengan jumlah 84,76 ton. Pemasaran tahap II ini terjadi peningkatan baik dari kualitas maupun kuantitas produk dan perbaikan kesepakatan kerjasama yang semula hanya lisan pada tahap II perjanjian sudah mulai tertulis sehingga kekuatan dan keyakinan petani lebih besar, lebih-lebih setelah terbentuknya forum pemasaran bersama lintas kecamatan (FOPBLIK).


5. Melakukan komunikasi intensif.
Dalam rangka menjalin kerjasama dan hubungan yang lebih dekat dengan pengusaha, YSLPP selalu mencari kesempatan untuk saling komunikasi dan sharing informasi. Satu tahun kemudian (tahun 2004) kami ketahui nama perusahaan nya adalah UD.Bumi Mas Surabaya. UD.Bumi Mas Surabaya adalah spesialis pengusaha kacang tanah. Setelah merasa dekat, YSLPP menanyakan apakah kami bisa berkunjung ke lokasi perusahaan H. Wahyudi di Surabaya? Jawabnya ; boleh-boleh aja, nanti kita lihat apa bisa atau tidak. Lalu kami diberikan alamat lengkap dan diperbolehkan kontak langsung via telpon dengan temannya ( namanya ; Bagong) di Surabaya.

6. Kunjungan Ke Surabaya.
Untuk menjalin hubungan kerjasama dalam bidang pemasaran yang lebih baik, satu tahun kemudian (tahun 2004) kami bersurat ke UD Bumi Mas bermaksud untuk melakukan kunjungan ke Surabaya, yang sebelumnya telah dikomunikasikan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan kunjungan. Kunjungan ke Surabaya kami lakukan bersama petani kader dengan maksud dan tujuan agar petani dapat mengetahui secara langung tentang proses pemasaran komoditi kacang tanah, persyasratan-persyaratan yang harus dipenuhi, pembelajaran tentang bagaimana bernegosiasi dan menjaga hubungan kerjasama sehingga berkelanjutan. Harapannya petani yang diajak kunjungan agar dapat menyampaikan kembali kepada kelompok dampingannya (sharing pengalaman) hasil kunjungan setelah kembali dari study banding. Sampai di Surabaya kami diperkenalkan dengan pemilik perusahaan UD Bumi Mas yaitu Bapak Bagong. Kami disambut dengan baik, ngobrol panjang lebar dan akhirnya kami sepakat untuk membangun hubungan kerjasama pola kemitraan secara tertulis. Secara lisan dan tulisan perusahaan UD Bumi Mas akan melakukan kerjasama dengan petani dampingan YSLPP asal memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah disepakati bersama khususnya kacang tanah. Dalam kesempatan itu staf YSLPP dan petani diajak jalan-jalan melihat gudang penyimpanan kacang tanah mulai proses penjemuran, penyimpanan, sortasi, pengepakan, pemecahan biji dll sehingga petani betul-betul mengerti, paham proses pemasaran kacang tanah. Pihak perusahaan sangat banyak memberikan masukan dan pembelajaran kepada staf dan petani untuk membangun kerjasama, menjaga kwalitas dan kiat-kiat lain menuju sukses.

7. Evaluasi
Pada setiap selesai melakukan kegiatan pemasaran bersama YSLPP selalu melakukan refleksi dan evaluasi tentang keberhasilan dan kelemahan-kelemahan maupun kendala-kendala yang terjadi baik ditingkat petani maupun tingkat pengusaha. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kejasama selanjutnya sehingga kegiatan pemasaran bersama dengan petani dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Beberapa hasil refleksi tersebut seperti diuraikan berikut.

MUCULNYA FOPBLIK

Mencermati proses pemasaran bersama komoditi kacang tanah dengan UD.Bumi Mas Surabaya, masih banyak kelemahan/kekurangan di tingkat petani. Jika hal ini tidak segera dicarikan solusinya, maka kerjasama akan segera berakhir. Untuk itu YSLPP bersama petani melakukan evaluasi melalui analisa SWOT.

Dari hasil evaluasi SWOT, diperoleh beberapa kelemahan baik dari mitra usaha maupun dari petani. Kelemahan-kelemahan di tingkat petani meliputi :

q Tidak semua petani menjaga kualitas produk tetapi hanya mengejar target masih ditemukan kacang tanah yang produknya kurang baik (masih basah).
q Petani hanya mementingkan kepentingan sendiri tidak peduli kesulitan pengusaha
q Para kader pemasar yang ada dimasing-masing desa dampingan YSLPP masih kerja sendiri-sendiri
q Jarak antar kader pemasar sangat berjauhan, sehingga sulit untuk komunikasi

Dari masalah yang ada kemudian didiskusikan dengan dengan para kader pemasar, muncul ide/gagasan bahwa sebaiknya ada wadah yang memayungi kelompok tani yang tersebar di beberapa desa dampingan YSLPP. Wadah tersebut diharapkan menjadi tempat bertemunya para kader pemasar untuk membahas persoalan petani dan sebagai sumber informasi bagi petani terkait dengan akses pasar (informasi dan peluang pasar).

Merespon ide/gagasan yang muncul saat diskusi dengan para kader pemasar, YSLPP merancang pertemuan petani untuk membentuk wadah dengan nama FPLK (Forum Pemasaran Lintas Kecamatan). Menjelang hari pelaksanaan pertemuan, nama wadah tersebut dirasakan kurang pas, akhirnya diganti dengan nama FOPBLIK (Forum Pemasaran Bersama lintas kecamatan) dan diresmikan oleh Camat labuhan Badas tanggal 19 Maret 2005.

Kunjungan II Ke UD.Bumi Mas Surabaya

Selama dua periode menjalin kerjasama dengan UD.Bumi Mas Surabaya, masih terdapat beberapa kelemahan terutama menyangkut kualitas kacang tanah yang dinilai kurang kering oleh mitra. Menyikapi persoalan tersebut, staf YSLPP bersama 2 orang wakil FOPBLIK berkunjung ke UD.Bumi Mas untuk kedua kalinya. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan promosi keberadaan FOPBLIK, sehingga meyakinkan mitra bahwa kerjasama kedepan akan lebih baik karena kelembagaan petani semakin kuat. Dari hasil kunjungan II, mitra usaha (UD.Bumi Mas) memaklumi kelemahan yang ada dan berharap agar kualitas menjadi pegangan petani. UD.Bumi Mas juga menyarankan agar petani bisa mengusahakan kacang biji dua, karena pasarannya lebih mudah dan lebih banyak peluang pasarnya bila dibandingkan dengan kacang tanah biji 3. Soal kerjasama akan tetap berlanjut selama petani dapat mempertahankan kualitas.


III. MANFAAT PEMASARAN BERSAMAI.

Pemasaran bersama telah memberikan dampak positif terhadap perubahan pada masyarakat tani dampingan baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Membangun pemasaran bersama bukan suatu hal yang mudah, kondisi sosial budaya petani dalam memasarkan produk secara turun temurun telah berlangsung begitu lama ditambah lagi dengan kemampuan ekonomi dan pengetahuan mereka dalam pemasaran yang relatif rendah sehingga menjadikan mereka terjerat dalam ijon, posisi tawar sangat rendah.

Untuk memperbaiki dan merubah prilaku tersebut membutuhkan proses panjang seperti telah diuraikan diatas sehingga pada akhirnya mereka yakin dan mampu mengatasi permasalahan yang mereka hadapi selama ini. Melalui proses tersebut mereka bisa belajar dan mengamati serta dapat membandingkan keuntungan yang diperoleh dari pemasaran secara individu dengan pemasaran bersama. Beberapa hal tersebut antara lain :

Kondisi Sebelum dan Sesudah Pemasaran Bersama

Sebelum Pemasaran Bersama
Sesudah Pemasaran Bersama
§ Harga kacang tanah berkisar antara Rp.85.000 – Rp.105.000,-/karung
§ Harga kacang tanah Rp.115.000 – Rp.120.000,-/karung
§ Sistem pembayaran : sebagian kontan, sebagian dibayar 2-3 minggu kemudian dan bahkan ada beberapa petani yang produknya tidak dibayar (pengepulnya menghilang)
§ Sistem pembayaran kontan
§ Harga berbeda antara petani yang satu dengan petani yang lainnya. Jika petani merasa kepepet dengan kebutuhan perut maka harga terserah tengkulak.
§ Harga sama di semua petani
§ Pembelian produk sedikit-demi sedikit, karena kapasitas pengusaha lokal terbatas, sehingga petani terpaksa harus sabar menunggu. 1 hari paling banyak bisa diangkut 2 trek. 1 trek = 90 karung.
§ Produk petani lebih cepat terdistribusi, karena kapasitasnya banyak sekali angkut (minimal 2 fuso/hari) . 1 fuso = 250 karung.
§ Tidak ada kepastian harga, karena fluktuasi sangat tinggi
§ Kepastian harga bisa dijamin sehingga banyak petani yang tertarik menjadi anggota kelompok (sebenarnya pemasaran fokus untuk kelompok dampingan tapi melihat kenyataan banyak anggota diluar kelompok ikut memasarkan produknya)
§ Tidak ada pembinaan dari pengepul
§ Ada pembinaan dari mitra usaha (bagaimana menjaga kualitas, cara penanganan pasca panen) dan mitra usaha juga memotivasi petani untuk bersama-sama menjaga kepercayaan menyangkut kualitas (pengusaha sering ikut kelapangan memberikan asistensi terutama menyangkut kwalitas dan penanganan pasca panen).
§ Tidak ada retribusi untuk desa
§ Pengusaha memberikan retribusi kepada desa Rp. 1.000/karung
§ Tidak ada jasa untuk pengumpul
§ Ada jasa dan tambahan pendapatan untuk petani kader yang mengumpulkan Rp. 1.000/karung oleh pengusaha (1 fuso kader mendaoat Rp. 250.000).

Manfaat yang dirasakan Petani
Beberapa manfaat yang dirasakan Petani dengan adanya pemasaran bersama ;
1. Petani tidak khawatir bahwa produknya tidak akan laku/tidak ada yang membeli, karena sudah mengetahui peluang pasarnya dan sudah punya mitra usaha yang berpihak pada petani.
2. Petani merasa ada kenaikan harga dengan pemasaran bersama, bila dibandingkan dengan jual sendiri-sendiri. Dan posisi tawar petani menjadi kuat.
3. Karena sistem pembayarannya kontan, petani tidak lagi khawatir bahwa barangnya akan hilang tanpa dibayar.
4. Petani merasa dengan pemasaran bersama, hubungan kebersamaan antara petani semakin terjalin dengan baik.
5. Dengan adanya pemasaran bersama bisa mengurangi ijon
6. Tengkulak tidak lagi berkeliaran kekampung karena sudah diblokir oleh kader pemasar sehingga kalau ingin mencari produk harus seijin/melalui kader pemasar yang ada di desa
7. Kesadaran berorganisasi masyarakat petani semakin kuat dan semakin banyak petani yang tertarik untuk mengikuti program
8. Pola pikir dan kesadaran kritis petani semakin meningkat

(Diambil dari laporan YSLPP )

Selasa, 02 September 2008

Biopori dengan Krisis Air Bersih

Dengan semakin banyak daerah yang mengalami kesulitan air bersih kita sebagai mahasiswa terutama kita bergerak dalam kepencintaalaman sudah sewajarnya untuk kita mengatasi masalah ini. masalah krisis air ini sudah menjadi tanggungjawab kita untuk membantu mengatasinya.

Banyak cara untuk mengatasi masalah krisis air seperti konseravasi daerah tangkapan hujan. konseravsi hutan, dan sebagainya. Salah satu cara yang praktis dan mudah diaplikasikan adalah dengan BIOPORI.Bipori adalah teknologi sederhana tepat guna multi fungsi. Bisa untuk resapan air, bisa untuk mengurangi genangan air, bisa untuk wadah pengomposan, dan tentunya menyuburkan tanah. Tim penemu teknologi tepat guna ini terdiri dari staf pengajar pada Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB. Tim diketuai oleh: Kamir R Brata, dengan anggotanya: Wahyu Purwakusuma, Yayat Hidayat, Enny Dwiwahyuni, DP Tejo Baskoro, dan Maspudin. Banyak pujian telah diterima oleh tim ini, berbagai media masa memberitakan tentang penemuan sederhana tapi manfaatnya sangat besar ini. Harian Kompas, Rabu tanggal 5 Desember 2007 menurunkan berita di halaman 26 dengan judul: “Lubang Biopori Bisa Cegah Banjir”. Tim ini menamakan hasil temuannya dengan istilah Lubang Resapan Biopori (LRB). Prinsip LRB adalah lubang di tanah berdiameter 10 cm (bisa lebih) kedalaman 1 meter. Ke dalam lubang dimasukkan sampah organik yang diharapkan akan dimakan oleh organisme yang ada di dalam tanah. Dikatakan di halaman seluas 50 meter persegi bisa dibuat sebanyak 20 sampai 40 LRB, tergantung curah hujan dan sifat kelulusan air dari lapisan tanah setempat.LRB ini sangat cocok untuk daerah yang sangat sedikit tempat resapan airnya seperti di perumahan, kota besar. Dengan membuat LRB, maka akan semakin banyak air yang akan masuk ke dalam tanah sehingga dapat menambah cadangan air tanah dan dapat pula membantu mengatasi masalah banjir dan masalah sampah yang banyak terjadi di kota-kota besar. untuk informasi lebih jelasnya dapat dilihat di alamat: http://www.biopori.com/
http://pasains.mipa.ugm.ac.id/index.php?p=news&newsid=11&area=1

Penanganan Krisis Air

JAKARTA – Dua perlima penduduk dunia saat ini menghadapi krisis air bersih dan sebagian besar penyakit yang menyeret penderita ke bangsal-bangsal rumah sakit dipicu oleh kualitas air yang buruk. Jika krisis air tidak ditangani secara serius maka masa depan akan sangat menakutkan. Sementara privatisasi dan kecanggihan teknologi yang dianggap sebagai solusi terbukti hanya memperlebar jurang kaya-miskin. Krisis air menjadi sorotan utama peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh besok (5/6). Sorotan ini wajar jika melihat hampir setiap hari, berita di berbagai media massa mengabarkan semakin buruknya krisis air yang dihadapi dunia. Di negara berkembang, krisis tersebut terlihat nyata, dipicu dengan kerusakan hutan yang semakin parah, pembuangan limbah industri yang tak terkendali, dan penyedotan sumber-sumber air tanah dalam jumlah besar oleh industri-industri raksasa. Kondisi ini diperburuk dengan besarnya emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan menjadi penyebab perubahan iklim. Data terbaru dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan perubahan temperatur global 100 tahun ke depan akan mencapai 1,5 – 4,2 derajat Celcius. Peningkatan temperatur ini membawa malapetaka, dunia akan mengalami tambahan 12 juta penduduk terancam kelaparan, lebih dari dua miliar orang kekurangan air, 228 juta jiwa terkena malaria, 20 juta jiwa akan mengalami bencana banjir dan sekitar 2.000 pulau Indonesia dipastikan tenggelam. Namun tanpa harus berprediksi 100 tahun ke depan, perubahan iklim yang terjadi saat ini juga sudah cukup memprihatinkan. Di negara-negara subtropis mungkin perubahan ini ”menguntungkan” karena iklim menjadi lebih hangat dan sejumlah tanaman bisa berkembang biak dalam derajat udara yang lebih tinggi. Namun di negeri-negeri tropis, pergeseran ini merupakan malapetaka karena musim kering akan menjadi lebih panjang. Ketersediaan air dalam suatu ekosistem sebenarnya tergantung pada iklim, fisiografi, vegetasi dan geologi wilayah bersangkutan. Namun dalam semua bidang tersebut, manusia modern telah merusak bumi dan menghancurkan kapasitasnya untuk menerima, menyerap dan menampung air. Pembabatan hutan dan pertambangan telah menghancurkan kemampuan serap yang dimiliki tanah untuk menyimpan air. Sementara pertanian dan hutan monokultur telah mengeringkan ekosistem. Penggunaan bahan bakar minyak juga telah meningkatkan emisi yang memicu perubahan iklim dan menjadi penyebab utama banjir, tsunami serta kekeringan. Semua kondisi tersebut menyediakan persediaan air global per kapita turun dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1970, penurunan ini mencapai 33 persen. Dan data tahun 1998 menunjukkan 208 negara mengalami kekurangan atau kelangkaan air. Angka ini diperkirakan akan bertambah 56 negara lagi pada tahun 2025. Antara tahun 1990 dan 2025, jumlah orang yang hidup di negara tanpa air yang memadai diperkirakan akan mengalami peningkatan dari 131 juta menjadi 817 juta. Krisis air dunia tidak bisa lagi dianggap enteng. Menurut laporan World Commission on Water tahun 1999, sekitar 1,2 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses pada air bersih. Jumlah itu diperkirakan membengkak menjadi 2,3 miliar pada tahun 2025 bila tidak segera dilakukan usaha signifikan untuk mengatasi masalah kelangkaan air. Sementara jutaan orang tewas akibat penyakit yang disebabkan oleh air kotor, seperti diare, malaria, demam berdarah dan cacingan. Dalam World Water Forum Ketiga di Kyoto bulan Maret lalu, Presiden World Water Council Dr. Mahmoud Abu-Zied bahkan menggambarkan kondisi krisis air sedemikian genting, di mana satu dari empat orang di dunia kekurangan air minum dan satu dari tiga orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Privatisasi Melihat gentingnya masalah ketersediaan air, maka pengaturan penggunaan air menjadi hal serius. Data menunjukkan penggunaan air dunia terbesar dilakukan sektor pertanian (70 persen), kemudian diikuti sektor industri (22 persen) dan domestik (8 persen). Sayangnya, solusi yang dikampanyekan untuk mengatasi kelangkaan air ini cukup unik: menyerahkan pengelolaan air ke pihak swasta alias privatisasi. Dengan privatisasi, air bukan lagi bernilai sosial. Ia telah memiliki nilai ekonomi. Diasumsikan, dengan pengenaaan nilai ekonomi maka orang akan berhemat menggunaan air. Semakin mahal air maka semakin hemat penggunaannya karena orang tidak mau membuang-buang sesuatu yang ia beli dengan uang. Namun benarkah demikian?Resep privatisasi ini tak hanya berlaku pada satu negeri, tapi hampir seluruh negara di dunia. Di Indonesia, Rancangan Undang-Undang Sumber Daya Air (RUU SDA) yang dibahas di DPR saat ini ditengarai memberikan angin terhadap proyek privatisasi tersebut. Studi kritis yang dilakukan Indonesian Forum on Globalization (INFOG) terhadap RUU SDA dan Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL) – program Bank Dunia yang memberi pinjaman sebesar US$ 300 juta pada Indonesia guna mendanai program reformasi menyeluruh dalam sektor air— menunjukkan bahwa RUU SDA sebenarnya kepanjangan tangan dari sejumlah perusahaan transnasional/multinasional (TNC/ MNC) yang bersembunyi di balik baju Bank Dunia.Namun saat dikonfirmasi SH, Erman Suparno, Ketua Panita Kerja Rancangan Undang Undang Sumber Daya Air (RUU SDA) dari Komisi IV DPR membantah bahwa kehadiran RUU SDA ini merupakan tekanan Bank Dunia. Ia mengatakan RUU ini lahir dari keprihatinan terhadap pemanfaatan air yang tidak berkelanjutan. Erman bisa jadi benar. Namun ”momok” privatisasi ini juga menghantui warga dunia. Di Afrika Selatan, ”momok” ini bahkan sudah mengancam keberlangsungan hidup warga. Dalam Forum Kyoto pun, hal ini menjadi perdebatan sengit. Mayoritas negara setuju untuk menangani krisis air ini melalui pola partnership (kemitraan) antara publik dan swasta. Namun sebagian kelompok yang kritis, mayoritas dari Non-Goverment Organization (NGO) dan komunitas masyarakat warga, menilai pola tersebut merupakan ”trik” yang digunakan TNC untuk membuka pasar air, menjadikan air sebagai komoditas bisnis. Terlebih lagi, persoalan air sekarang tengah gencar diperjuangkan agar masuk dalam kesepakatan General Agreement on the Trade of Services (GATS), salah satu kesepakatan dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tak Cukup Teknologi Selain privatisasi, solusi yang dikampanyekan untuk mengatasi krisis air adalah implementasi teknologi, seperti dam dan pembuatan pipa saluran air. Solusi ini menjadi fokus dalam Forum Kyoto yang membuat sejumlah delegasi kritis merasa dipecundangi. Bagi kelompok ini, teknologi dam dan pipanisasi hanya solusi instan untuk menangani krisis air. Dalam jangka pendek, solusi tersebut mungkin bermanfaat, tapi tidak dalam jangka panjang. Pembuatan dam dipastikan akan membawa serentetan masalah yang tak kalah pelik. Upaya menghambat laju deforestasi hutan, perbaikan ekosistem dengan mengeksploitasi kearifan lokal –pertanian polikultur, menanam tanaman yang tidak boros air adalah beberapa di antaranya— bisa menjadi solusi mengatasi kelangkaan air bersih. Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengubah pola produksi dan konsumsi. Membuat peraturan tegas tentang pengolahan limbah, menjalankan seleksi terhadap izin HPH, menindak tegas para pelaku penebangan hutan alam, membatasi kepemilikan kendaraan pribadi, mencari alternatif bahan bakar fosil, dan sebagainya. Banyak cara yang masih bisa dilakukan untuk menangani krisis air yang jauh lebih menyentuh akar permasalahan, dibandingkan sekadar memberikan solusi instan yang justru memperuncing perseteruan lama, utara-selatan dan kaya-miskin. Jika konsumsi dimaknai sebagai upaya untuk bertahan hidup, bukan untuk meraup keuntungan ekonomi, maka air sebenarnya cukup untuk setiap orang. (SH/fransisca r.susanti)
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/04/ipt01.html

Senin, 11 Agustus 2008

Penanganan krisis multi dimensi (air, energi dan pangan) melalui pelestarian daerah aliran sungai / hulu/ hutan serta pengelolaan air.

Selama ini banyak sekali kegiatan program yang dikembangkan baik yang dilakukan pemerintah maupun LSM masih didekati secara sektoral. Masing-masing pengelola program hanya lebih berfokus pada program yang ditanganinya tanpa mau tahu keterkaitan dengan sektor lainnya dan lebih sering mengenakan kaca mata kuda.

Kita lihat misalnya program kesehatan, hanya melulu memperhatikan pada aspek kesehatan seperti kebersihan, mengkonsumsi makanan yang bergizi, mencuci tangan sebelum makan, posyandu dll. Padahal kita tahu derajat kesehatan di masyarakat juga sangat bergantung pada ketersediaan makanan yang beragam dan mencukupi baik dari sisi jumlah maupun kandungan gizinya, ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan MCK dan memasak dll. Sangat disayangkan jika anak-anak diajari pentingnya mencuci tangan sebelum makan atau buang air di MCK namun sementara air bersih masih sulit didapatkan karena sumber air yang terbatas akibat rusaknya lingkungan mata air dll.

Dari contoh sederhana diatas sudah selayaknya kita hentikan cara pandang dan pendekatan sektoral, dan kita sempurnakan dengan pendekatan integral/holistik.

Ramah lingkungan

Berbicara penghidupan yang berkelanjutan, manusia tidak dapat melepaskan diri dari keterkaitannya dengan lingkungan sekitarnya. Semakin baik pemahaman masyarakat akan arti pentingnya melestarikan luingkungan, akan semakin terjaga pula lingkungan yang akan mendukung kehidupan masyarakat. Ada hubungan timbal balik yang sering dilupakan oleh masyarakat, dan masih banyak yang belum memahami dan menyadari akan arti penting melestarikan lingkungan. Kita semua tahu untuk berlanjutnya sebuah kehidupan maka yang sangat diperlukan antara lain air, energi dan pangan. Tidak ada kehidupan yang mampu bertahan tanpa air bahkan tubuh manusia sekitar 90 % merupakan air, demikian pula dengan ketersedian pangan sangat bergantung pada air. Energi terbarukan seperti kayu api juga sangat bergantung pengadaannya pada ketersediaan air.

Dengan demikian yang harus menjadi fokus utama dan pertama dari program pemberdayaan masyarakat adalah bagaimana mengelola air dalam pengertian bagaimana kita menjaga dan meningkatkan ketersediaan air melalui kegiatan menjaga kelestarian hutan, memanen air melalui teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, memanfaatkan air secara hemat dan bijak, melakukan konservasi tanah dan air (KTA) serta menyesuaikan tanaman yang akan kita usahakan dengan kondisi lingkungan yang ada disekitar kita.

Pendekatan berbasis lingkungan, mau tidak mau tidak bisa lepas dari pemahaman tentang DAS (Daerah Aliran Sungai) yang dapat bersifat lintas daerah administrasi. Ego kabupaten tidak lagi dapat dibenarkan karena penanganan DAS dapat secara lintas kabupaten, bahkan propinsi. Apalagi jika dikaitkan dengan pemanasan global dan perubahan iklim, maka gerakan cinta lingkungan tidak lagi dapat ditawar dan menjadi keharusan sebagai sebuah gerakan, dimana kita yang berdiam di bumi sebagai rumah yang satu mau tidak mau atau suka tidak suka harus punya kesadaran dan aksi bersama dalam menjaga bumi dari kepunahan karena ketidak pedulian warga bumi.

Hutan dan masa depan

Seringkali ketika masih dalam kondisi baik, keberadaan hutan sering diabaikan padahal kita tahu fungsi hutan sangat banyak antara lain mengatur daur hidrologi sehingga tidak terjadi banjir ketika musim penghujan, maupun longsor dan tidak terjadi kekeringan pada saat musim kemarau, mengurangi polusi udara, menjadi sumber plasma nuftah, sumber berbagai makanan lokal seperti umbi-umbian, sumber kayu untuk bahan bangunan maupun kayu bakar, sumber madu hutan, habitat satwa liar dll. Kesadaran akan arti penting dan strategis hutan perlu terus menerus dibangun dalam masyarakat sehingga demi penghidupan berkelanjutan generasi sekarang dan seterusnya maka tindakan merusak hutan menjadi tabu dan diharamkan, dianggap tidak bermoral meski itu semua dapat dilakukan karena alasan tekanan ekonomi apalagi yang hanya didasari oleh sikap rakus dan tak mau peduli dengan kesengsaraan yang diakibatkannya.

Kita dapat belajar dari saudara kita yang berasal dari Bali dengan keyakinan Hindu selalu saja merawat lingkungan termasuk melestarikan pohon-pohon besar disekitar pura dan bagaimana warga Bali sangat menjunjung tinggi kelestarian lingkungannya dimanapun mereka berada.

Kita dapat belajar dari suku Tengger, juga suku Badui tentang penghormatan mereka pada alam semesta dan tidak menjadikan hutan sebagai komoditi ekonomi saja tetapi juga terkait dengan keberlanjutan hidup warga diseputar hutan. Beberapa kebiasaan budaya di berbagai tempat juga diharapkan mampu menjadikan budaya sebagai benteng terakhir untuk tidak merusak hutan maupun alam semesta.

Alangkah indahnya hidup ini jika keberadaan dan kelestarian hutan dapat menjadi solusi dari krisis air, krisis pangan dan juga krisis energi. Hutan menjadi sandaran dan tumpuan kehidupan baik dari sisi budaya, kesehatan maupun ekonomi tanpa menjadikan hutan sebagai tempat penjarahan.
Kita harus selalu diingatkan akan pentingnya melestarikan hutan yang tidak lain berarti melestarikan kehidupan secara keseluruhan.

Selain menjaga hutan, kita dapat meniru keberadaan hutan dan menerapkannnya dalam mengelola kebun yang kita miliki yang kita kenal dengan istilah hutan keluarga. Kita dapat melakukan diversifikasi atau penganekaragaman tanaman maupun ternak dengan meniru fungsi hutan sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus merusak hutan yang ada disekeliling kita. Maka dengan demikian hutan tetap lestari, namun rakyat sejahtera.



Pendekatan holistik

Mari kita tinggalkan pendekatan sektoral yang sudah terbukti tidak mampu menyelesaikan krisis multi dimensi. Kita harus memulai langkah pemberdayaan melalui penyadaran akan pentingnya melakukan pelestarian lingkungan. Kita didik sejak mulai dini anak-anak sebagai generasi penerus untuk selalu merawat dan meruwat bumi dengan jalan melestarikan nilai-nilai budaya yang menjunjung tinggi terhadap kelestarian lingkungan. Anak-anak tidak diajar serakah dengan melakukan pembalakan hutan (meski tidak liar) dan menjual kayunya, tetapi diajarkan bagaimana mengelola hutan secara lestari namun kehidupan semakin sejahtera, bagaimana melakukan pembibitan tanaman hutan secara swadaya dll. Perlu inovasi dan ada sentuhan teknologi ramah lingkungan sehingga hutan terjamah namun tetap terjaga fungsinya seperti misal pengembangan TOGA (Tanaman Obat Keluarga), madu hutan, rotan, mahoni yang hanya diambil bijinya untuk diekstrak menjadi obat, pengembangan ikan air tawar dll. Kita ajak masyarakat untuk menjaga lingkungan agar kita yang tinggal didalamnya tetap sehat, bebas dari polutan, mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak dan yang paling penting kita mewariskan generasi berikut kondisi lingkungan yang lebih menjanjikan dalam meraih hidup yang lebih baik. Pendekatan holistik mengajarkan kepada kita arti penting memanfaatkan potensi dan kearifan lokal, semisal bagaimana kebutuhan akan obat untuk kesehatan dapat terpenuhi dari tanaman TOGA, bagaimana pangan lokal yang dikonsumsi mampu tercukupi baik dari sisi jumlah dan kandungan gizinya, aman dikonsumsi karena bebas dari penggunaan pupuk dan pestisida buatan pabrik yang mencemari lingkungan, kebutuhan akan kayu bakar dapat terpenuhi dari tanaman penguat teras dikebun kita, atau dari penggunaan briket arang yang terbuat dari seresah /mulsa dari hutan dll. Pendekatan holistik juga diharapkan menjamin kerukunan antar warga karena distibusi yang adil dari potensi lokal yang ada, akses yang setara terhadap informasi dan modal dll. Masyarakat diajak untuk berkoperasi dalam meningkatkan perekonomian mereka dalam kebersamaan yang saling menguntungkan, mengurangi biaya sosial secara rasional sehingga adat/budaya tetap lestari sebagai sebuah jati diri namun tidak membebani dan menyebabkan kemiskinan di masyarakat. Dalam pendekatan holistik, pendekatan budaya sebagai roh yang menggerakkan pengembangan masyarakat sangat penting tanpa harus terjebak dalam pesta pora yang memabukkan dan memiskinkan. Dari pengalaman selama ini kita hanya sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi dan sering melupakan yang terpenting dalam hidup yakni bagaimana terwujudnya keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi disatu sisi dan tetap menjaga kelestarian lingkungan disisi lainnya.

Diharapkan dengan pendekatan holistik melalui titik masuk pelestarian DAS/hulu/hutan , pemberdayaan masyarakat benar-benar terwujud dan tidak menjadikan masyarakat sebagai kelinci percobaan maupun kambing hitam dari pelaksanaan sebuah program.


YBT Suryo Kusumo

Email; tony.suryokusumo@gmail.com
www.adikarsagreennet.blogspot.com

Senin, 04 Agustus 2008

Mencoba menerapkan zero waste di rumah kontrakan di Kota karang Kupang NTT

Pada mulanya sekedar iseng membaca berbagai artikel yang dapat diakses di internet terkait bagaimana cara melestarikan lingkungan disekitar rumah kontrakan yang masih bisa untuk ditindak lanjuti dalam aksi nyata dan bukan hanya sekedar basa basi apalagi hanya tebar wacana.

Sungguh menarik ketika salah satu artikel yang terbaca terkait pelestarian lingkungan menantang diri untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa gembar gembor namun penuh dengan kesungguhan hati, secara hati-hati dan kedepan dapat menggugah pihak lain untuk menduplikasi melakukan hal yang sama minimal disekitar kota Kupang sehingga diharapkan dampaknya akan semakin meluas dan berakhir pada semakin membaiknya kualitas lingkungan seputaran kita.

Dalam sebuah blog pribadi Bapak Sobirin http://clearwaste.blogspot.com
kami belajar bagaimana sampah tidak lagi keluar rumah namun dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi rumah yang benar-benar ‘zero waste’ istilah yang beliau perkenalkan.

Metoda yang digunakan pada awal sebelum mengenal blog beliau, pengomposan untuk memanfaatkan sampah organik hanya kami lakukan dengan cara menumpuk sampah organik tersebut disatu tempat untuk dibiarkan melalui proses alamiah menjadi humus, kemudian berkembang dengan mengkomposkan semua seresah, daun-daun kering maupun sampah organik lainnya menggunakan dekomposter dan ditambah dengan EM4 yang dibeli di toko pertanian. Sedang sampah plastik masih dengan cara dibakar.

Teringat perkataan Da’i yang sempat kondang namun kemudian tenggelam namanya yakni A’a Gym yang mengatakan sebaiknya segala sesuatu “Mulai dari diri sendiri, mulai dari apa yang dipunyai dan mulai sekarang juga”.

Maka dengan penuh semangat mulai dicoba di rumah kontrakan untuk memilah sampah menjadi 3 bagian yakni bagian yang dapat didaur ulang, sampah organik yang dapat dikomposkan dan sampah beracun
Namun ketika mengakses blog Pak Sobirin maka mulai berminat untuk belajar membuat sendiri MOL (Mikroorganisme Lokal) supaya tidak harus beli dan keluarkan uang terus menerus.

Disamping itu dalam bog dijelaskan bahwa ternyata pembakaran plastik justru berbahaya karena menghasilkan gas beracun sehingga disarankan untuk “memanaskan plastik” dan tidak membakarnya, meski sampai sekarang masih susah dilaksanakan dirumah karena yang membantu dirumah tidak sabar dengan semua proses ini yang butuh waktu lebih panjang dan tidak praktis dibanding dengan cara membakarnya.

Selain itu, kami mencoba membibitkan sendiri tanaman umur panjang dengan cara menyemai biji-bijian yang merupakan sisa dari yang kami makan seperti pepaya, srikaya, sirsat, jeruk keprok, mengkudu, jambu biji dll kedalam polibag/kantong plastik untuk dijadikan bibit tanaman dan sebagian sudah ditanam di kebun depan.
Bahkan untuk tanaman Cemara india sangat mudah untuk membibitkan, tinggal memungut biji yang jatuh dibawah pohon yang berwarna hitam dan menyemaikan langsung ke polibag maka akan tumbuh dan menjadi anakan yang dapat menghijaukan lingkungan kita sekaligus menambah nilai estetika sekitarnya.

Selain tanaman umur panjang, juga dikembangkan berbagai jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) seperti Brotowali, Daun dewa, Mahkota Dewa, Sambiloto, Tapak Dara, Mengkudu, Sambung nyawa, Binahong, Meniran, Kumis Kucing, Keji Beling, Lidah buaya , Meniran, Petikan kerbau , Adpokat, Belimbing wuluh, Marongge/kelor dll.

Tanaman TOGA ini sangat membantu dalam menjaga kesehatan. Apalagi jika kami kebetulan terkena panas knalpot atau tersiram air panas, maka tinggal memotong daun Lidah buaya dan mengoleskan getahnya , langsung terasa adem serta tidak panas lagi dan hasilnya sangat menyenangkan karena luka tidak jadi melepuh.
Beberapa teman sering mengambil beberapa bagian tanaman obat untuk digunakan sebagai solusi pengobatan.

Bahkan ketika terkena batu ginjal, saya hanya merebus daun kumis kucing dicampur daun keji beling , kunyit dan meniran lalu diminum. Kemudian setelah beberapa hari jeda dari minum TOGA , dilanjutkan dengan makan buah apel 4 biji per hari selama 5 hari dan ternyata batunya keluar.

Namun sayangnya upaya yang dilakukan dalam menanam berbagai tanaman sering kandas karena ternyata meskipun lokasi rumah kontrakan berada didalam kota namun masih saja ada kambing yang dibiarkan berkeliaran memakan habis semua upaya penghijauan lingkungan tanpa ada sangsi yang tegas pada pemilik kambing.

Untuk menyiasatinya, kami menyeleksi tanaman apa saja yang tidak disukai kambing sehingga ketika ditanam/dibudidayakan tidak akan musnah dimakan, dan cara lainnya dengan meletakkan tanaman yang tidak disukai kambing sebagai pagar alami.

Saat ini meski memasuki musim kemarau dengan panas yang menyengat, namun disekitar rumah kontrakan kami terasa lebih adem, nyaman dan tidak terlalu panas berkat adanya beberapa pohon rindang dan tanaman bunga, maupun TOGA yang membuat suasana menjadi lebih sejuk, hijau dan asri meski berada dibebatuan karang yang meranggas.
Semua ini tidak lepas dari pemanfaatan kompos dan penerapan metode zero waste yang Pak Sobirin kenalkan sehingga meski tindakan ini bukan hal yang heroik, namun minimal telah mengurangi sampah kota, mengurangi pembakaran yang secara tak langsung juga ikut mengurangi pemanasan global yang menjadi penyebab perubahan iklim.

Dari langkah kecil diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan kualitas lingkungan bumi sebagai rumah kita bersama. Terima kasih Pak Sob, meski mungkin langkah ini tidak berarti untuk skala yang luas, minimal kami sudah memulainya. Bukankah untuk mencapai puncak gunung, hanya diperlukan langkah pertama dan tinggal terus melanjutkan secara konsisten dan persisten maka impian sampai di puncak gunung akan terwujud ?



Salam hijau

YBT Suryo Kusumo,
tony.suryokusumo@gmail.com.
www.adikarsagreennet.blogspot.com
www.adikarsaglobalindo.blogspot.com

Selasa, 15 Juli 2008

Menangkal krisis air di Kota Kupang, bisakah ?

Menarik apa yang diberitakan dalam Pos Kupang tertanggal 30 September 2004 mengenai hampir mengeringnya salah satu mata air yang menjadi salah satu pemasok air untuk PDAM Kupang di Oepura yang berdampak pada terganggunya kelancaran layanan distribusi air pada para pelanggan. Berita tersebut membuat kita sebagai warga koat Kupang merasa malu hati dan berintrospeksi untuk berbenah diri dan melihat arti strategis sebuah hutan yang berada dibagian hulu Kota Kupang yang berpengaruh dalam menjaga ketersediaan air bagi kelangsungan hidup seluruh warga yang mendiami Kupang. Sedang untuk Dinas Kehutanan di Kupang, berita tersebut seharusnya dijadikan PR (pekerjaan untuk rakyat) untuk tetap selalu menjaga keberadaan hutan berserta fungsinya dan menjadi fokus dan prioritas dalam penanganannya. Dinas Kehutanan bekerja sama dengan PDAM Kab Kupang maupun UPTD Air Bersih Kota Kupang sudah seharusnya mengkaji kembali kenapa banyak mata air yang tadinya tetap mengalir di musim kemarau, namun saat ini sudah mengering. Mungkin penyebabnya karena adanya penggundulan hutan maupun kurang terpeliharanya hutan yang berada dibagian hulu kota Kupang yang menjadi daerah tangkapan hujan (catchment area) karena kurang sadar dan kurang dilibatkannya masyarakat hulu dalam pengelolaan hutan.

Mata air berubah jadi air mata

Keberadaan kawasan hutan di bagian hulu Kota Kupang menjadi strategis, ketika kita membicarakan desentralisasi melalui otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat. Otonomi daerah akan berhasil apabila mengandaikan pemkab maupun pemkot dan masyarakat mau dan mampu mengelola SDA, dan SDM yang ada mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi , birokrasi yang profesional bebas KKN, adanya akuntabilitas kinerja pemkab maupun pemkot dan kontrol maupun akses dimiliki oleh rakyat terhadap eksekutip, legislatip dan yudikatip. Maka profesionalitas dinas kehutanan dan seluruh potensi yang ada di masyarakat (intelektual, agamawan, LSM, swasta dll) sangat diharapkan dalam mengelola hutan yang ada serta menumbuhkan kembali hutan yang terlanjur menjadi padang alang-alang/ sabana. Keberlanjutan dalam ketersediaan air maupun dalam mendapatkan/mengakses air untuk kebutuhan hidup yang layak, baik untuk minum maupun kebutuhan domestik bagi warga kota harus menjadi fokus layanan publik bagi Pemkab maupun Pemkot Kupang mengingat sampai saat ini layanan yang diberikan terkait dengan ketersediaan air masih jauh dari harapan warga kota.
Juga perlu diantisipasi sejak awal ketika kemungkinan terjadi pertambahan warga Kota Kupang secara cepat dan berlipat yang akan berdampak pada kecukupan penyediaan air bersih.

Salah satu fungsi yang sangat penting dari sebuah keberadaan kawasan hutan adalah kemampuannya menjaga daur hidrologis sehingga dapat membantu ketersediaan air di musim kemarau melalui mata air yang muncul akibat tersimpannya air oleh keberadaan kawasan hutan beserta tegakan pohon, maupun kemampuannya menghindarkan terjadinya banjir ketika musim hujan berlangsung. Air yang merupakan sumber kehidupan bagi mahluk hidup termasuk didalamnya masyarakat kota, keberadaan dan ketersediaannya tidak dapat tergantikan dan mutlak harus terpenuhi. Bahkan syarat mutlak tingkat kualitas kehidupan masyarakat salah satunya adalah ketersediaan air yang memenuhi kualitas layak minum dalam jumlah yang cukup tersedia. Tingkat kesehatan masyarakatpun sangat tergantung dari ketersediaan air yang cukup baik jumlah maupun kualitasnya untuk keperluan mandi, masak, minum, mencuci dan WC, bahkan untuk ternak yang kita pelihara. Sebaik dan semewah apapun sarana dalam rumah kita, apabila tanpa ketersediaan air yang cukup maka akan mengurangi kenikmatan kita sebagai penghuni.
Demikian pula dalam kaitannya dengan keindahan, kebersihan dan kenyamanan kota, sangat terkait dengan ketersediaan air. Taman kota yang hijau perlu dipelihara melalui penyiraman yang rutin ynag membutuhkan pasokan air yang cukup dan kontinyu, suasana hawa kota yang panas dapat dikurangi dengan adanya air mancur di tengah kota, kolam-kolam yang ditumbuhi bunga teratai dan ikan hias dapat memberi nuansa nyaman dst. Kendaraan roda empat maupun roda dua akan kelihatam bersih kalau dicuci secara rutin dan hal ini membutuhkan ketersediaan air yang cukup.

Maka keberadaan hutan dalam menyangga sebuah kawasan pemukiman sebagai penyedia air sungguh perlu diperhatikan. Jangan sampai kelengahan kita melestarikan hutan menjadi malapetaka yang menyebabkan mata air berubah menjadi air mata yang mengalir, karena susahnya memperoleh kebutuhan dasar berupa air dan kita cenderung melihat itu semua sebagai bencana yang berasal dari ‘Sang Pencipta’.

Senin, 14 Juli 2008

Pengembangan energi alternatip di NTT dalam kerangka memperlambat pemanasan global dan perubahan iklim, perlukah ?

Meski media terus menggaungkan masalah climate change atau perubahan iklim, namun hanya sedikit Pemda yang tertarik dengan isu ini. Mungkin karena dampak yang ditimbulkan tidak menyebabkan kerusakan besar, seketika dan dasyat seperti tsunami atau gempa bumi. Selain itu proses terjadinya perubahan iklim terjadi dalam kurun waktu yang panjang, sehingga persoalan perubahan iklim masih dianggap bukan persoalan yang mendesak/urgent yang membutuhkan tindakan segera.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan pejabat dan masyarakat kita yang lebih cenderung reaktif daripada proaktif. Maka lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil, lemah dan miskin yang sementara ini didera dengan kenaikan harga sembako akibat BBM naik dua kali dalam pemerintahan SBY-Kalla, ditambah kecenderungan terjadinya kolusi dan nepotisme antara pengusaha dan penguasa yang cenderung mengarah ke bentuk negara kleptorasi yang penuh pencuri baik yang kasat mata maupun yang berdasi dan kelas tinggi (KKN).

Akibatnya rakyat kecil, lemah dan miskin meskipun telah terkendala dalam hal modal, teknologi dan informasi.harus siap-siap secara sendirian menghadapi perubahan iklim yang akan berdampak pada kehidupannya di banyak sektor baik pangan, kesehatan, ekonomi dll
Mitigasi dan Adaptasi
Dalam sebuah artikel berjudul Sektor Pertanian dan Perikanan Paling Rasakan Dampak Perubahan Iklim yang diakses dalam situs Jakarta’s Enviromment Parliament Wacth http://www.epwjakarta.org/index.php?option=com_content&task=view&id=6&Itemid=1Disampaikan bahwa sektor pertanian dan perikanan merupakan sektor yang paling merasakan dampak perubahan iklim. Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dra Mesnellyarti Hilman MSc saat tampil sebagai pembicara sosialisasi perubahan iklim
Meski dampak perubahan iklim sudah mulai terasa, namun bukan berarti tak ada jalan lain, tapi setiap individu atau masyarakat bisa mengambil peran dalam meminisir dampak dari perubahan iklim melalui upaya adaptasi dan mitigasi.
Dijelaskan, adaptasi dilakukan penyusuaian dengan melakukan upaya-upaya untuk mengurangi resiko dampak perubahan iklim melalui perubahan pola pembangunan,”Di Negara seperti Pakistan sudah dilakukan antisipasi didaerah di pesisir dengan cara membangun pemecah gelombang air laut. Demikian juga di Cina, tanaman mangrove dijadikan sebagai penahan gelombang tzunami. Ini sudah terbukti saat terjadi tzunami di di Aceh,”ungkapnya.
Posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dan merupakan negara kepulauan menjadikan Indonesia sangat rawan terhadap efek perubahan iklim.”Kita sangat rentan terhadap perubahan iklim. Masalah yang dihadapi adalah peralatan perkiraan cuaca masih minim di Indonesia,”paparnya.
Secara sederhana adaptasi lingkungan dilakukan dengan membiasakan diri menaman pohon dan hindari menebang pohon terutama di daerah berbukit agar tidak terjadi tanah longsor dan diharapkan keberadaan pohon tersebut bisa menyerap polusi udara, budayakan hidup bersih dengan cara membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Selain itu, upayakan membuat sumur resapan atau bak untuk menampung air hujan, serta menghindari daerah pemukiman di lereng bukit. Bagi pelaut, petani dan yang akan melakukan perjalanan jarak jauh, carilah informasi ramalan cuaca dan musim sebelum beraktifitas.
Sedangkan kegiatan mitigasi dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan efek gas rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Yang bisa dilakukan untuk meredam laju kenaikan suhu bumi yaitu melalui pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. (cetak miring dan tebal oleh penulis)
Tidak konsumtif, mengurangi dan mengelola sampah, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, menekan terjadinya kerusakan dan kebakaran hutan. Di sektor transportasi dilakukan dengan cara efisiensi penggunaan transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk..
Upaya lainnya adalah penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel/batu bara.
Saat belanja, pilih produk dengan kemasan minimal untuk mengurangi sampah, dan bawahlah tas belanja sendiri agar meminimalkan penggunaan kantong plastik. Sebagai konsumen, kita harus kritis melakukan penolakan untuk mepergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih mempergunakan Kloroflourkarbon (CFC) dalam produknya karena saat kita memakainya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri dimasa mendatang karena CFC merusak lapisan ozon. CFC adalah sekelompok gas buatan yang diperkenalkan oleh General Motors, perusahaan mobil Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.
Serta menggiatkan pelestarian hutan dan reboisasi, karena keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca. Dalam kesempatan tersebut, Nelly mengharapkan agar organisasi profesi dan LSM yang hadir dalam pertemuan bisa mengambil peran dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.”Guru sangat berpotensi untuk merubah budaya, perilaku, dan kebisaan murid. KLH mengembangkan pelatihan untuk guru-guru juga masih punya bahan-bahan berupa dongeng-dongeng khas, demikian juga profesi lainnya bisa mengambil peran sesuai potensi masing-masing dalam kampanye perubahan iklim,”harapnya.
Kepekaan pembuat kebijakan publik

Tidak semua hal harus dan bisa dilakukan secara bersamaan karena terbatasnya SDA dan SDM, sehingga dibutuhkan prioritas dalam pembangunan NTT, demikian yang sering disampaikan dalam setiap pernyataan pejabat ketika berhadapan dengan permintaan rakyat miskin dalam kunjungan turbanya ke daerah..

Dalam momentum terpilihnya pemimpin baru NTT, diharapkan suara rakyat yang menjerit meski lirih harus dan terus mendapat perhatian.

Salah satu bidang yang perlu ditangani secara serius di NTT adalah tersedianya energi yang murah namun ramah lingkungan bagi rakyat miskin.

Kita semua tahu konsumsi energi rakyat miskin memang masih relatip paling rendah namun sangat berpotensi merusak lingkungan seperti penggunaan kayu bakar dari hasil menebang pohon untuk konsumsi dapur rumah tangganya dan minyak tanah untuk penerangan.Disamping itu jumlah rakyat miskin di NTT cukup besar mengakibatkan potensi sumbangan perilaku rakyat miskin terhadap pemanasan global dan perubahan iklim tidak dapat diabaikan begitu saja.

Menjadi kewajiban Pemda (Tk I, Pemkab dan Pemkot) untuk memikirkan penyediaan energi alternatip yang murah namun ramah lingkungan sehingga mampu menyumbang terhadap pengurangan dampak pemanasan global dan perubahan iklim.

Disini kepekaan pejabat publik baik eksekutip maupun legislatip diuji, apakah pengalokasian dana APBD akan berpihak rakyat miskin atau sebaliknya lebih untuk membeli segala keperluan dirinya seperti mobil dinas, laptop, SPJ dll?

Kita dapat mengamati, betapa banyak potensi energi alternatip seperti biogas (dari kotoran ternak dan manusia), energi angin, energi surya, panas bumi dll di NTT.
Namun selama ini kita belum melihat kesungguhan Pemda untuk mengalokasikan sejumlah dana dalam APBD untuk penyediaan perangkat penerangan untuk rakyat mskin seperti PLTS (Pembangkit listrik Tenaga Surya), pemasangan kincir angin untuk sumber energi, teknologi pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas (untuk memasak dan penerangan rumah ) dll.

Ketika Pemkot di Jawa mencanangkan konversi minyak tanah dengan gas elpiji dikalangan masyarakat untuk mengurangi subsidi BBM yang melambung, maka seharusnya Pemda NTT juga tidak ketinggalan mencanangkan pemanfaatan biogas dari kotoran sapi karena NTT terkenal dengan gudang ternak sapi.
Selain ramah lingkungan dan hemat, pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas berdampak pada dikandangkannya ternak sapi sehingga tidak lagi menjadi hama yang memakan tanaman produksi dan dampak lanjutannya program pertanian dapat berjalan dan berhasil karena tanpa gangguan.

Manfaat tambahan lainnya kotoran sapi sisa dari proses produksi biogas dapat berfungsi menjadi pupuk organik yang selain dapat memperbaiki steruktur tanah, menambah kesuburan tanah, yang tak kalah penting untuk daerah semi arid seperti NTT adalah meningkatnya kemampuan mengikat air sehingga air dapat tersimpan dalam waktu yang cukup lama, menambah kelembaban tanah serta mampu menyimpan air lebih banyak. Kita semua tahu, salah satu masalah krusial dalam area semi arid adalah curah hujan yang banyak dalam kurun waktu singkat sehingga penambahan bahan organik dari pemanfaatan kotoran sapi akan sangat berarti dalam membantu memanen air.

Apalagi jika ada kesungguhan dari para pejabat publik untuk membantu pendanaan yang cukup dalam memanen air seperti pembuatan Bak PAH (Penampung Air Hujan), Embung, Chek dam, penegmbangan saluran irigasi dll.

Dengan pengembangan energi biogas baik untuk kompor dalam memenuhi konsumsi rumah tangga maupun untuk penerangan rakyat miskin, maka efek dominonya selain sapi dikandangkan adalah meningkatnya kesuburan lahan yang akan berakibat meningkatnya produksi pangan seperti jagung melalui teknologi sederhana “olah lubang” sehingga meningkatkan ketahanan pangan dari sisi ketersediaan produksinya.

Memang dibutuhkan dana bergulir untuk memberi kredit sapi pada rakyat miskin yang tidak mudah dilakukan karena pasti ada keraguan apakah akan kembali atau hilang begitu saja. Disini dibutuhkan kecerdasan dan keberanian dari para pejabat publik untuk tetap mempercayai rakyat miskin untuk keluar dari kemiskinannya namun sekaligus memberi pendampingan yang cukup intensip sehingga kesalahan seperti yang pernah terjadi di masa lalu tidak terulang kembali.

Masalah yang dihadapi rakyat miskin, selain kekurangan modal dan informasi adalah belum berubahnya mindset/pola pikir yang cenderung belum cerdas secara finansial, minimnya jiwa wirausaha , sikap hidup boros dan berjiwa kolot karena terbatasnya akses informasi. Perlu ada pendampingan yang mampu merubah mindset tersebut melalui berbagai startegi baru dalam proses pemberdayaan rakyat miskin. Untuk itulah kita semua para-pihak (stakeholder) baik dari kalangan intelektual, jurnalis , bisnis dan pejabat publik dll terpanggil untuk bersama rakyat miskin merubah keadaan melalui penyadaran dan kebersamaan dalam mencari solusi menuju sejahtera.

Selamat berkarya untuk semua pihak yang peduli pada kemajuan NTT, dan selamat untuk Nahkoda baru NTT dalam mewujudkan Visi, Misi dan janjinya pada saat kampanye.


YBT Suryo Kusumo

tony.suryokusumo@gmail.com
www.adikarsaglobalindo.blogspot.com
www.adikarsagreennet.blogspot.com