Tampilkan postingan dengan label Pertanian berkelanjutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian berkelanjutan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2008

Pengendalian Hama Dengan Pestisida Alami, Mengapa Tidak ?

Dalam pengelolaan usaha pertanian, ada beberapa faktor yang menunjang keberhasilan dalam meningkatkan produksi yaitu tanah, iklim, tanaman serta pengendalian hama dan penyakit maupun gulma.
Peranan kita sebagai pengelola usaha tani dalam menyiapkan semua faktor penunjang keberhasilan sangat penting. Dan salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah pengendalian hama. Yang dimaksud dengan hama disini adalah semua organisme pengganggu berupa binatang/hewan.

Pengendalian secara alami, pilihan tepat.

Dalam berbagai media yang menyampaikan informasi kepada para petani terlihat begitu gencar iklan yang disampaikan mengenai hebatnya produk industri pestisida kimiawi terutama racun (sering salah diucapkan sebagai obat) untuk hama tanaman.
Berbagai cara ditempuh oleh produsen pestisida kimiawi untuk meyakinkan para petani bahwa tanpa obat-obatan (lebih tepat ‘racun’) para petani akan gagal panen.
Dan sebagian penyampaian informasi bersifat menyesatkan, karena ada bagian informasi penting yang tidak disampaikan pada para petani. Kalaupun disampaikan, karena keterbatasan petani dalam mengelola informasi, pesan tersebut tidak mudah dimengerti dan tidak dilaksanakan. Berbagai formula dan merek dagang disajikan bagaikan menu makanan yang harus dipilih petani sebagai santapan. Bahkan secara tidak disadari, sering PPL ikut mendorong penggunaan pestisida kimiawi yang sebenarnya penggunaannya merupakan alternatip terakhir, perlu dibatasi dan diperlakukan dengan sangat hati-hati karena menyangkut penggunaan ‘racun’ yang dapat membahayakan kehidupan semua mahluk dibumi termasuk tanpa kecuali para petani itu sendiri. Kesembronoan dan kenekatan dalam penggunaan pestisida kimiawi secara berlebihan disamping secara ekonomis merugikan, secara ekologis dapat menggangu keseimbangan lingkungan dan menjadi bumerang yang dapat berakibat sangat fatal dan merugikan dalam jangka panjang.
Maka ‘Pemerintah’ melalui program nasional PHT )Pengendalian Hama Terpadu) secara bijaksana melalui berbagai terobosan yang dilakukan telah mencoba mengurangi tingkat pemakaian dan ketergantungan para petani pada penggunaan ‘racun’ buatan pabrik dan lebih menekankan dan mengarahkan pada pengendalian secara alami dengan memanfaatkan pergiliran tanaman, sistem tumpang sari, pengendalian hayati (menggunakan predator maupun parasit), penggunaan varitas tahan hama maupun pestisida botanis/alami.
Dan dalam program nasional PHT, pestisida kimiawi buatan pabrik menjadi alternatip terakhir jika ambang batas ekonomi yang ditimbulkan oleh hama telah terlampaui.

Pestisida botanis/alami

Menurut Kabalitbang Pertanian Dr.Faisal Kasryno dalam pengarahan tertulisnya yang dibacakan Kasputlibangtri Dr. Ir. Darwis SN pada pembukaan Seminar Hasil Penelitian Dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Botanis, Rabu 1 Desember 1993 di aula Balittro Bogor, dikatakan kebutuhan pestisida kimiawi saat ini yang digunakan mencapai sekitar 20.000 ton dengan nilai sekitar Rp 200 -300 Milyar per tahun (Kompas 2 Des 93).
Dari data tersebut, terlihat betapa besar biaya yang harus dibayarkan untuk penggunaan pestisida kimiawi. Maka pilihan penggunaan pestisida alami dalam pengendalian hama dapat menghemat devisa negara sampai bernilai milyaran rupiah. Selain menghemat devisa negara, penggunaan pestisida alami juga memberikan manfaat lainnya seperti ikut menjaga kelestarian lingkungan , tumbuhnya industri hasil pedesaan yang membuat pestisida alami maupun terjaminnya harga dari komoditi yang dipakai untuk pestisida alami.

Adapun beberapa tumbuhan yang dapat berfungsi sebagi pestisida alami antara lain dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

No Nama tanaman Cara pembuatan Hama yang dikendalikan
1 Srikaya Biji ditumbuk, dibuat tepung lalu dicampur air. Aphis, semut serangga lain
2 Bunga Mentega Daun dan kulit kayu direndam dalam air kira-kira 30 menit , saring Semut, lalat,serangga lain
3 Crysanthenun Bunga kering digiling, campur dengan lempung halus dan air Bebrbagai jenis serangga
4 Jenu, tuba Akar dan kulit kayu ditumbuk beri air lalu ambil ekstraknya (6 sendok makan ekstrak untuk 3 liter air) Berbagai jenis serangga
5 Gamal/glerecide Daun dan batang ditumbuk, beri sedikit air lalu diambil ekstraknya. Daun segar dan batangnya dapat mengusir serangga Berbagai jenis serangga
6 Tembakau Rendam batang dan tulang daun dalam air 3 hari atau didihkan sebentar. Biarkan dingin, lalu saring Berbagai jenis serangga
7 Tomat Didihkan batang dan daun biarkan sampai dingin lalu saring. Ulat dan lalat hijau
8 Rumput Mala Tangkai dikeringkan, bakar dekat tanaman Mengusir serangga
9 Tembelekan Daun dan cabang dikeringkan, dibakar, abunya dicampur air Berbagai jenis kumbang dan penggerek daun.
10 Dringo Akar dibuat tepung lalu dicampur air Berbagai jenis serangga
11 Sudu, Sesudu Getahnya Berbagai jenis serangga
12 Cabe merah Dikeringkan, digiling menjadi tepung Berbagai jenis serangga
14 Bawang-bawangan Berbagai jenis bawang dimasak menjadi satu (daun, akar,batang) sehingga menjadi bubur kemudian dicampur air ( bila detergen atau bubur telah mengalami fermentasi justru lebih baik) Berbagai jenis serangga
15 Kembang kenikir Daunnya (2 genggam) dicampur 3 bawang putih, 2 cabai kecil, 2-3 bawang bombay, dimasak dengan air, dinginkan. Tambahkan 4-5 bagian air, aduk kemudian saring Berbagai jenis serangga
16 Bawang putih Ditambah bawang bombay, cabe digiling dengan sedikti air, didiamkan 1 kam, beri 2 sendok makan detergen, aduk kemudian ditutup. Simpan ditempat dingin selama 1 minggu. Berbagai jenis serangga
17 Gamonila Bunga kering diseduh air panas, dinginkan lalu saring. Penyakit damping off/rebah semai
18 Kucai Seduh dengan air panas, dinginkan lalu saring Cegah powdery mildew pada borries, donny mildew pada mentimun
19 Kunir Akar ditumbuk, dicampur urin sapi. Campuran dihancurkan dengan air dengan perbandingan 1 : 2-6 Berbgai jenis serangga dan ulat
20 Neem, Imba, Nimba Biji 2 genggam ditumbuk, campur dengan 1 lt air, aduk. Biarkan semalam lalu saring

Daun segar ditumbuk kemudian direndam air semalam. Esoknya disaring Berbagai jenis serangga



Berbagai jenis serangga
(Sumber tabel : Lembaran ‘Contoh-contoh Pestisida organik’ dari Yayasan Bina Sarana Bhakti (BSB) Cisarua Bogor.

Dengan memanfaatkan pestisida alami, para petani dapat menyediakan pestisida sendiri dengan jalan membudidayakan tumbuhan yang berfungsi sebagai pestisida.
Tingkat kemandirian petani akan semakin lebih tinggi, biaya untuk pengendalian hama dapat ditekan, mudah didapat, dan kemungkinan adanya residu pestisida pada bahan makanan hasil pertanian dapat ditekan serendah-rendahnya atau lebih idealnya dapat dihilangkan.

Jadi mengapa kita sebagai petani meragukan pengendalian hama secara alami ? Atau kita lebih takut dengan cap kolot, tradisional, kurang modern/ kampungan ?
Bukankah kita harus bangga karena sebenarnya kita meneruskan tradisi luhur nenek moyang kita yang arif dan bijaksana dalam mengelola lingkungan termasuk didalamnya lahan pertanian yang mewariskan keberhasilan dalam memproduksi bahan makanan hasil pertanian tanpa tergantung pupuk buatan maupun pestisida kimiawi dan hanya mengandalkan pada pengendalian hama secara alami ?
Yang perlu menjadi perhatian atau pekerjaan rumah (PR) bagi kita adalah mengkaji secara ilmiah, teruji, sahih, pengendalian secara alami yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita sehingga dapat bermanfaat bagi para petani terutama para petani yang lemah, kecil dan tak mampu menyediakan uang untuk biaya beli ‘racun’ yang tiap tahun harganya tidak semakin menurun tetapi justru sebaliknya. Inilah tantangan bagi para pakar hama untuk meneliti penggunaan pestisida alami sehingga para petani yang kecil
dan lemahdapat berharap memperoleh informasi cara menyediakan pestisida alami yang murah, mudah dan jitu tetapi tetap bersandar pada asas pelestarian lingkungan.

Mudah-mudahan para petani kita tidak merasa turun gengsinya atau merasa kampungan jika memilih pengendalian hama secara alami sebagai pilihan yang dirasa paling tepat dalam mengelola usaha taninya. Semoga !

YBT Suryo Kusumo
Pendamping petani kecil/
Pekerja LSM di Timor Timur

Pupuk organik, tak kalah gengsi maupun manfaatnya !

Dialam peradaban modern, para petani maju erlomba-lomba tampil bedasupaya tidak kelihatan ketinggalan jaman, termasuk dalam memanfaatkan teknologi pertanian seperti pupuk buatan, pestisida buatan dll. Teknologi pertanian modern menjadi pilihan utama, termasuk keyakina yang kadang-kadang menjadi berlebihan akan manfaat pupuk buatan maupun pestisida kimiawi (pabrik). Akibatnya secara tidak disadari para petani maju semakin tinggi ketergantungannya pada pupuk buatan dengan dosis penggunaan yang semakin tinggi pula.

Penggunaan pupuk buatan secara nasional selama 25 tahun terakhir meningkat lebih dari 16 % per tahun dan sebagian besar pupuk tersebut diserap sektor pertanian tanaman pangan sebesar 72 % dan palawija 13 % (Kompas, 22 Mei 1991, dalam artikel ‘Pupuk organik kembali naik daun’).

Sementara subsidi harga pupuk dari pemerintah semakin dikurangi seiring dengan naiknya harga pupuk buatan dari tahun ke tahun, menjadikan perhatian pemerintah maupun para petani pemakai akan efisiensi penggunaan pupuk buatan sebagai prioritas dengan diperkenalkannya urea tablet.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa kelebihan dalam penggunaan pupuk organik yaitu :
memperbaiki struktur tanah menjadi lebih genbur
menambah kandungan hara tamabahan (mikro)
makanan mikrobia yang dapat menyehatkan tanah
meningkatkan kemampuan tanah menjerap/mengikat lengas (air) tanah
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk buatan (an organik)
mudah didapat, murah
lebih berwawasan lingkungan dan membantu mengurangi polusi dan meningkatkan sanitasi lingkungan

Keyakinan dalam penerapan
Keyakinan akan ‘nilai tambah’ pupuk organik telah lama dibuktikan oleh Yayasan “Bina Sarana Bhakti’ 1996 dibawah pimpinan Pastor Agatho yang mencoba merintis penerapan pertanian organik/lestari/alami. Demikian pula LSM-LSM di belahan timur yakni Timor Timur seperti Yayasan Wiraswasta Tani dengan Pusat Pelatihan Wiraswasta Tani (PUSLAWITA) maupun P3M Raimate (Pusat Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat) Yayasan ETADEP ( Ema Mata Dalan Ba Progresso) telah mencoba untuk konsisten hanya memakai pupuk organik dan menekan atau jika memungkinkan tidak memakai sama sekali pupuk buatan.
Hal ini didasari pemikiran dan tujuan jangka panjang untuk memerdekakan petani dari ketergantungan industri pupuik buatan, menekan penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) dalam pembuatan pupuk, pendistribusian dan yang lebih penting dengan penggunaan pupuk organik mampu menciptakan daur ulang pemanfaatn limbah baik berupa humus, kotoran ternak maupun manusia, serta mampu menggabungkan pertanian dan peternakan (pola wana tani/agroforestry). Dalam usaha peningkatan pendapatan petani dan pelestarian daya dukung lahan.

Jadi perlu dipahami dan dimengerti dengan hati bening dan pikiran jernih tanpa apriori bahwa penggunaan pupuk organik bukan berarti tidak mau mengikuti anjuran ‘pemerintah’, namun justru membantu pemerintah mengurangi pengeluaran devisa negara untuk subsidi pupuk buatan dan BBM dsb. Dan berdasar berbagai penelitian, pupuk organik mempunyai beberapa kelebihan dibanding pupuk buatan .
Pemakaian pupuk buatan terutama unsur hara Nitrogen (N) , Posphor (P), Kalium (K) mempunyai keterbatasan dalam tingkat efisiensi penyerapannya. Pupuk Nitrogen (N) tingkat efisiensi penyerapannya hanya 56 – 60 % karena sebagian terlindi (tercuci), terdenitrifikasi, dan menguaop,sehingga pemerintah menggalakkan pemakaian pupuk urea tablet untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya. Efisiensi penyerapan pupuk Phospor (P) hanya sekitar 20 % dan sisanya dalam bentuk tidak tersedia, sedangkan pupuk Kalium (K) berkisar antara 50 – 75 % dan suisanya hilang karena pelindian aliran permukaan (run off) serta tersemat pada kisi lempung . Ternyata penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ketiga pupuk tersebut yang merupakan unsur utama yang dibutuhkan tanaman. Dan berdasar penelitian, dari ketiga jenis pupuk organik yakn I pupuk kandang, jerami, pupuk hijau, ternyata pupuk hijau memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan efisiensi penyerapan Phospor (P).

Penyadaran
Dalam menggalakkan kembali penggunaan pupuk organik memang tidak gampang, terutama bagi petani yang sudah terbiasa dengan pupuk buatan yang memang lebih mudah mendapatkan, lebih sedikit pemakaiannya, praktis, tidak kotor serta kelihatan lebih bergengsi. Karena sering ada image/citra bahwa memakai pupuk organik seolah identik dengan cap ‘tradisional, kolot’ dan kurang bergengsi. Padahal jika kita kaji lebih mendalam, penggunaan pupuk organik justru lebih bergengsi karena terutama kita ikut bertanggung jawab dalam gerakan pelestarian lingkungan sehingga daya dukung lahan tetap tinggi, berpartisipasi dalam mengurangi polusi karena semua limbah yang dapat terombak dikembalikan ke lahan sebagai pupuk serta membantu pemerintah menghemat pengeluaran devisa atas subsidi pupuk buatan, BBM untuk pembuatan dan distribusi dll.
Maka menjadi tugas kita bersama untuk melakukan penyadaran dalam gerakan ‘kembali ke alam’ dan lebih berwawasan lingkungan sehingga bumi benar-benar menjadi andalan mendukung kehidupan manusia,khususnya dalam penyediaan bahan pangan dan pasokan bahan mentah untuk berbagai jenis industri. Berbagai gerakan kampanye penyadaran akan pentingnya ‘pemanfaatan kembali’ pupuk organik perlu diupayakan sehingga kita tidak terjebak dalam pendewaan teknologi melainkan memanfaatkanteknologi untuk kepentingan manusia dan bukan sebaliknya. Semua pemakaian pupuk organik baik berupa kompos, pupuk kotoran hewan, pupuk hijau maupun humus semakin memasyarakat dan tak kalah gengsi maupun manfaatnya dibanding pupuk buatan.

Bulan Agustus (bulan pemerdekaan
Petani dari ketergantungan)

YBT Suryo Kusumo
Pendamping petani lemah & kecil di Timor Timur

Pola Wana Tani (Agroforestry), Alternatip Pengembangan Pertanian Lestari di Dataran Tinggi.

Lahan kering dataran tinggi (up land) merupakan lahan marginal yang belum banyak mendapat perhatian pemerintah, karena selama ini kebijakan pembangunan pertanian khususnya pangan lebih diutamakan penangannya pada lahan basah persawahan.
Isu swasembada pangan, khususnya penyediaan beras yang telah berhasil mengantar Bangsa Indonesia dari pengimpor beras menjadi pengekspor beras cukup memberi ‘nilai tambah’ didunia internasional.

Namun kita semua menyadari, pertumbuhan, perkembangan jumlah dan kepadatan penduduk memberikan ‘pekerjaan rumah’ yang tidak mudah bagi pemerintahan Orde Baru untuk terus selalu menyediakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup dan aman, dengan harga jual yang tetap terjangkau masyarakat sehingga stabilitas dapat tetap terjaga. Ketergantungan konsumsi pangan masyarakat pada beras sangat membahayakan bagi kita semua, karena itu gerakan penganekaragaman dalam mengkonsumsi pangan, khususnya karbohidrat harus terus dilaksanakan pada semua aras masyarakat. Maka kekhususan suatu daerah dalam mengkonsumsi pangan harus dijaga dan dilestarikan seperti misal beberapa daerah yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok. Dengan demikian masyarakat tidak terjebak dalam persepsi yang menyatakan bahwa mengkonsumsi ‘nasi’ lebih bergengsi dibanding lainnya.

Pemenuhan pangan

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan (tidak hanya ‘beras’) maka kita perlu menengok potensi lahan yang masih dibiarkan belum tergarap secara maksimal atau belum tersentuh kebijakan pemerintah.

Lahan marginal di dataran tinggi sebenarnya cukup mempunyai potensi jika ada kesungguhan dari pengambil kebijakan maupun petani pemilik lahan tersebut.
Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan wanatani di lahan kering dataran tinggi antara lain :

1. Tingkat kesuburan tanah relatip rendah
2. Mudah tererosi
3. Ketersediaan air terbatas
4. Solum/jeluk tanah relatip tipis
5. Infrastruktur belum memadai
6. Keterbatasan pengetahuan teknis petani mengenai wanatani
7. Keterpaduan/ koordinasi antar instansi terkait masih belum berjalan dengan baik sehingga sering membingungkan petani yang menerapkan wanatani
8. Status lahan mengenai kepemilikan belum jelas.
9. Pemasaran hasil yang belum terjamin dan lain-lain.

Meskipun ada beberapa kendala, namun perhatian terhadap pemanfaatn lahan kering dataran tinggi yang merupakan lahan marginal perlu terus digalakkan karena cakupan wilayahnya relatip cukup luas.

Dalam rangka menindaklanjuti pemanfaatan lahan tersebut, pilihan pola wanatani (Agroforestry) sebagai alternatip pengembangan pertanian lestari di lahan kering dataran tinggi perlu mendapat perhatian, serta kesungguhan untuk dicoba penerapannya dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan keluarganya.

Pola wana tani (Agroforestry)

Dalam Lokakarya Wana tani I di Bogor telah disepakati kata Wana tani sebagai padanan kata Agroforestry. Hal ini diperkuat lagi dalam Lokakarya Wana tani II di Ujung Pandang pada 16 – 18 Januari 1995.

Menurut Vagara, Wana tani didefinisikan sebagai :

Agroforestry adalah semua pola tata guna lahan yang berkesinambungan atau lestari, yang dapat mempertahankan dan meningkatkan hasil optimal panen keseluruhan dengan mengkombinasikan tanaman pangan, tahunan, dan tanaman pohon bernilai ekonomi, dengan atau tanpa ternak atau ikan piaraan, pada lahan dan waktu yang bersamaan atau waktu yang bergiliran dengan metoda pengelolaan yang praktis, yang sesuai dengan keadaan sosial dan budaya penduduk setempat, serta keadaan ekonomi dan ekologi daerah tersebut (dalam makalah ‘Pengembangan Sistem-sistem Wana tani di Kawasan Timur Indonesia, Dr. Sudarsono Riswan, 1995).

Dari pengertian Wana tani, menurut Dr. A. Ngaloken Ginting, pola Wana tani dapat dibagi menjadi :

1. Agrosilvopasture ; bentuk pemanfaatan lahan dengan mengkombinasikan tanaman pertanian, tanaman hutan/tahunan dan tanaman makanan ternak yang dikaitkan dengan pemeliharaan ternak.
2. Silvopasture; suatu bentuk pemanfaatan lahann dengan mengkombinasikan tanaman hutan dan peternakan.
3. Agrosilvofishery; suatu bentuk pemanfaatan lahan dengan mengkombinasikan tanaman pangan, tanaman hutan/tahunan dan perikanan.
4. Silvofishery atau hutan tambak; suatu bentuk pemanfaatn lahan dengn mengkombinasikan tanaman hutan dan perikanan.
Suatu contoh yang sudha banyak dilakukan di Indonesia adalah hutan tambak didaerah mangrove.
5. Pekarangan (Home garden); suatu sistem wana tani tradisional yang merupakan perpaduan yang harmonis antara tanaman tahunan dan tanaman pangan disekitar rumah masyarakat pedesaan pada umumnya.
6. Kebun campuran (mixed garden) ; suatu lahan yang ditanamani tanaman tahunan dan tanaman pangan. Setelah beberapa tahun kemudian, hanya sebagian kecil lahan yang dapat ditanami tanaman pangan karena pengaruh naungan tanaman tahunan.
7. Talun (mixed tree garden); suatu sistem wana tani tradisional dimana lahan sudah diberakan untuk beberapa tahun dan tanaman tahunan sudah dominan dll.


Penerapan wana tani

Sebenarnya pola Wana tani sudah banyak diterapkan dalam pengelolaan lahan kering di masyarakat,
Sebagai contoh di Kalimantan Barat disebut Tembawang, Lembo di Kalimantan Timur dan damar mata kucing di Lampung Barat.
Bahkan oleh Ir. A.P.Y Djogo dalam makalah berjudul ‘Sistem-sistem Wana tani Di Dataran tinggi/Lahan Kering’ membuat tabel Wana tani dari berbagai daerah sebagai berikut ;

Tabel . beberapa Model Wana tani Dari berbagai Daerah

No Model lama Daerah Konsep wana tani
1 Ladang berpindah Semua daerah Agrisilviculture
2 Sistem pemberaan dengan pohon dan semak Semua daerah Agrosilvopastoral
3 Tumpang sari Semua daerah Agrosilviculture
4 Pekarangan Semua daerah Agrosilviculture
5 Kopi dan Tephrosia candida Sulawesi Selatan, Flores Agrosilviculture
6 Eksploatasi tanaman hutan Kalimantan, Sumatera, Sulawesi Agrosilviculture
7 Bi-ubian dibawah pohon Sagu Irian Agrosilviculture
8 Hutan di atas daerah persawahan Sulawesi Agrosilviculture
9 Kebun campuran Hampir semua daerah Agrosilviculture
10 Turi di pematang sawah Bali, NTB, NTT Agrosilviculture
11 Kebun Talun Jawa Barat Agrosilviculture
12 Mamar Timor, Rote, Sabu Agrosilviculture
13 Kebun buah-buahan Bali, Jatim Agrosilviculture
14 Kebun kopi dengan dadap Semua daerah Agrosilviculture
15 Kebun kopi dengan Albizia (Paraserianthes) sebagai pohon pelindung Semua daerah Agrosilviculture
16 Integrasi kayu bangunan dalam kebun Semua daerah Agrosilviculture
17 Ongeng, Kopo Flores Agrosilviculture
18 Vanili dengan gamal Flores dan banyak daerah lain di Indonesia Agrosilviculture
19 Larikan lamtoro Flores, Timor, Sumba Agrosilviculture
20 Hutan lamtoro utnuk pakan Timor Silvopastoral
21 Larikan tanaman leguminosa lain Flores, Timor Agrosilviculture
22 Sistem tiga tingkat Bali Silvopastoral
23 Hutan keluarga Flores, Timor Agrosilviculture
24 Cemara dan Tanaman Pangan Timor Agrosilviculture
25 Pengelolaan hutan dengan tanaman pertanian NTB,Kalimantan, Irian Agrosilviculture
Maka dalam tangka pengembangan pertanian lestari di lahan kering dataran tinggi yang cenderung berlereng/ miring, penerapan pola Wana tani dapat dijadikan alternatip bagi para kelompok tani lestari di lahan marginal .

Yang perlu diperhatikan dalam penerapan wana tani antara lain :

- Kemampuan petani akan pemahaman pola wana tani
- Kemmapuan teknis dalam pemilihan tanam,an yang akan dipadukan sehingga saling menguntungkan.
- Harus mendasarkan pada prinsip pengawetan tanah dan air.
- Memperhatikan faktor sosial budaya ekonomi (menyangkut pemasaran hasil).
- Mempertimbangkan ekosistem setempat serta potensi lokal yang ada (vegetasi, tanah, iklim dll)
- Mudah diterapkan dnegan biaya murah

Dengan semakin disadari arti strategis pemanfaatan lahan marginal dengan pendekatan pengembangan pola Wana tani, diharapkan mampu menyediakan kebutuhan pangan meski dibarengi prtambahan jumlah penduduk.
Dan yang lebih penting pemanfaatan lahan marginal dapat optimal, tetap terjaga kesuburan lahannya serta berwawasan lingkungan dan lestari. Semoga !


YBT Suryo Kusumo
Pendamping petani di Tim-tim

Pembangunan pertanian yang berwajah kerakyatan , mungkinkah ?

Pilihan strategi

Berbicara tentang pembangunan pertanian tidak terlepas dari pengembangan petani sebagai pelaksana sekaligus aktor intelektual yang akan sangat berpengaruh dalam menjamin keberhasilan dan keberlanjutannya.

Menjadikan petani sebagai pengusaha di bidang pertanian yang handal menjadi keharusan bagi siapa saja yang mau membantu petani keluar dari permasalahannya.

Petani selain dituntut mempunyai skill/ ketrampilan dalam hal teknis budidaya, untuk strategi jangka pendek juga perlu memiliki beragam ketrampilan yang mendukung dalam memenangkan persaingan pasar seperti :

Kemampuan mengakses informasi dengan memanfaatkan teknologi informasi (layanan SMS, website, email dsb)
Melakukan penjajagan pasar secara cepat,
Melakukan analisis usaha untuk memilih usaha yang paling menguntungkan
Membuat perencanaan produksi secara bersama dalam suatu hamparan untuk mencapai skala usaha dan mencapai skala permintaan pasar.
Melakukan kontrol kualitas komoditi/ produk secara tersistem
Melakukan negosiasi dengan para buyer/pembeli
Mengakses teknologi yang membantu petani dalam mengelola komoditi baik saat pasca panen maupun pengolahan/prossesing lanjut.
Mampu mengorganisir diri dalam produksi maupun dalam memasarkan secara bersama melalui wadah organisasi petani

Sebagian petani di Indonesia masih terjebak dalam strategi lama, padahal kita tahu alangkah naif mengharapkan sebuah perubahan namun masih terus menggunakan strategi lama yang telah terbukti tidak mampu membuat perubahan.

Dengan demikian apabila kita ingin mengajak petani keluar dari permasalahan ‘ketakberdayaan’ yang membuat terjebak dalam kehidupan yang serba berkekurangan, maka pilihan strategi harus ‘beda’ dengan sebelumnya, karena tidak mungkin kita mengharapkan hasil yang sangat berbeda, namun tetap menggunakan strategi yang sama terus menerus. Kita harus berani mengidentifikasi strategi lama apa saja yang sudah ‘out of date’ yang harus segera digantikan dengan strategi’baru dan beda’ yang mampu merubah kehidupan petani
Petani untuk menuju sukses harus bekerja SMART yang berarti harus berani ‘beda’ dengan yang dilakukan sebelumnya, harus berani ‘beda’ dengan yang lainnya, atau dalam bahasa lainnya punya ‘nilai tambah’, ‘nilai lebih dalam persaingan’, unik dll.

Strategi lama yang terus menerus dilakukan para petani antara lain :
 Tanam dulu, baru kemudian jual
Kebiasaan petani menanam dulu tanpa melakukan penjajagan kebutuhan pasar secara cepat (Rapid Market Appraisal/RMA), membuat posisi petani selalu lemah, baik dalam penentuan harga maupun kemampuan memenuhi pasokan sesuai komoditi yang dihasilkan. Seringkali petani mendapatkan harga yang tidak layak karena masalah waktu jual yang tidak tepat karena sedang ‘banjir pasokan/ panen bersamaan komoditi yang sama’, atau karena ternyata kebutuhan pasar hanya sedikit, sedangkan produksi melimpah, baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional.Ketidaktahuan dan ketidakmampuan petani dalam mengenal ‘karakteristik pasar yang terus berubah-ubah ’ membuat petani menjadi korban dari ‘mafia pasar’ yang seringkali mengelabuhi petani dengan berbagai macam trik.

 Yang penting kuantitas, bukan kualitas.
Sebagian petani masih berpikir tentang kuantitas, bukan kualitas, sehingga kurang menjaga kualitas sesuai permintaan pasar. Cara pandang petani yang mendasarkan pada persepsinya, bukannya persepsi konsumen, seringkali merugikan petani karena ketika memproduksi komoditi dalam jumlah banyak tapi tak disukai konsumen atau harganya yang rendah , jelas akan menurunkan tingkat pendapatan petani secara langsung

 Memproduksi hanya berupa komoditi primer/ bahan mentah
Petani kita sangat tertinggal dalam memanfaatan teknologi tepat guna (TTG), terutama untuk penanganan pasca panen dan pengolahan lanjut. Hal ini dapat terlihat dari sedikitnya penyebaran TTG hasil dari litbang maupun LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) Universitas didesa-desa. Padahal kita semua tahu dengan menjual komoditi primer/ bahan mentah maka harga yang diperoleh akan sangat rendah, tidak akan memperoleh nilai tambah dan komoditi akan mudah rusak alias tidak tahan lama.

 Memproduksi dalam skala kecil
Sebagian besar petani kita mempunyai luas areal lahan yang sangat terbatas alias sempit, yang berakibat biaya produksi per satuan unit menjadi lebih tinggi dan sulit untuk memproduksi secara efisien. Hal ini berakibat ketika dihadapkan pada kompetitor lain yang mampu memproduksi dengan harga jual lebih rendah, maka petani kita akan kalah bersaing.

 Menggunakan lebih banyak input luar (revolusi hijau)
Ketergantungan petani pada input luar dalam penerapan revolusi hijau menjadikan petani sebagai “korban” dari sebuah industri pertanian yang menyebabkan petani semakin tak berdaya.

 Belum /kurang cerdas dalam pengelolaan keuangan/ finansial
Meskipun pertanian sebagai sebuah usaha , namun sebagian besar peyani sebelum menentukan jenis usaha yang akan dikelolanya tidak mendasarkan pada hasil analisis usaha untuk memperoleh keuntungan yang uptimal. Demikian pula dalam manajemen keuangan, tidak dicatat secara baik tentang pengeluaran/biaya dan pemasukan/pendapatan. Bahkan keuangannya tercampur dengan keuangan rumah tangga sehingga semakin menyulitkan dalam menetapkan profit yang didapat . Akibatnya meskipun secara perhitungan diatas kertas usahanya merugi namun kebanyakan para petani tidak menyadarinya. Petani belum membuat business plan/ rencana usahan pertanianya berupa rencana/ denah / sketsa kebun/lahan dalam pengelolaannya.

 Menjual secara individual dengan alasan karena :
o Petani meminjam benih dari tengkulak setiap musim tanam, walaupun dengan pengembalian yang cukup besar yaitu misal 1 karung kacang tanah kembali 2 karung. Sebagian besar petani merasa tidak enak dan terpaksa kalau harus menjual ke pengusaha lain, karena sudah diberi pinjaman benih dan biaya panen.
o Petani tidak cukup uang untuk biaya panen, sehingga lagi-lagi masih harus meminjam pada tengkulak.
o Petani tidak bisa menahan produknya karena harus segera dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari.
o Petani menjual secara sendiri-sendiri, dimana harga berbeda antara petani yang satu dengan yang lainnya dan terkadang petani langsung menjual sebelum sampai waktu panen (sistem ijon) sehingga harga dipermainkan oleh pengusaha.
o Kekhawatiran selalu ada di benak petani, kalau terlambat jual barang rusak dan tidak ada yang beli sehingga begitu panen langsung dijual dilahan (pengusaha/tengkulak membawa truk ke lahan)

 Tidak berperilaku sebagai inverstor - bantuan pemerintah yang sia sia
Sebagian petani masih asing dengan istilah investasi/tanam modal. Padahal nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak dulu merupakan perwujudan investasi seperti membawa anakan berupa cabutan dari hutan untuk ditanam didekat rumah atau lahan seperti tanaman asam dll. Demikian pula dalam pengelolaan benih secara swadaya dimana petani memisahkan hasil untuk dimakan dan untuk ditanam kembali sebagai benih. Namun dengan banyaknya bantuan baik benih maupun bibit, maka kebiasaan lama tersebut berangsur angsur punah, bahkan banyak petani yang menggantungkan bantuan benih dari pemerintah/LSM dll. Masih jarang ada petani yang sangat menyesal ketika bibit TUP (Tanaman Umur Panjang) yang diberi pihak lain tidak tumbuh alias mati karena berbagai sebab. Mereka akan meminta lagi dan bisa berulang-ulang, padahal kalau dilihat dari sisi investasi berapa banyak kerugian baik berupa tenaga waktu dan uang (meski bibitnya gratis). Demikian pula ketika Pemerintah mencanangkan “Gerakan Penaman Sejuta Pohon” yang terjadi adalah “menaman saja” bukannya menumbuhkan yang didalamnya termasuk kegiatan memelihara dan memastikan bahwa tanaman yang ditanam hidup dan bermanfaat.

 Tingginya biaya pengeluaran rumah tangga petani untuk memenuhi adat-istiadat/sosial.

Sampai seberapa besarpun tambahan pendapatan yang diperoleh petani, tetapi kalau masih “besar pasak daripada tiang” tetap saja kehidupan rumah tangga petani akan tetap terpuruk karena masih terjebak dalam “berpikir defisit ” bukannya “ berpikir asset/ kekayaan”. Maka sangat wajar kalau begitu banyak bantuan baik berupa hibah maupun kredit dari berbagai pihak untuk petani terus menguap begitu saja karena banyak yang salah dalam peruntukannya, termasuk mendanai kebutuhan konsumtip seperti budaya pesta atas nama adat dll. Nilai-nilai Adat/.budaya yang luhur harus terus dipertahankan tanpa harus mengorbankan ekonomi petani.

Untuk membantu petani menuju kemandirian, dalam jangka menengah-panjang kita perlu mengajak petani merubah dari strategi lama dengan strategi baru meliputi :

 Memproduksi berdasar permintaan pasar
 Menjaga kualitas dan sesuai dengan persepsi pasar
 Melakukan perbaikan pasca panen dan pengolahan lanjut, dengan memanfaatkan TTG yang ada di berbagai institusi litbang., perguruan tinggi dll.
 Memproduksi dalam skala besar secara bersama berupa perencanaan produksi berbasis pendekatan area/ kawasan.
 Memperbanyak penggunaan input lokal yang selain mampu menekan biaya sehingga meningkatkan keuntungan , juga mengurangi ketergantungan pada pihak luar.
 Meningkatkan kecerdasan keuangan/finansial
 Menjual secara bersama (Collective marketing)
 Bersikap sebagai seorang investor dibidang pertanian (dalam arti luas)
 Melakukan penghematan melalui kesepakatan budaya bersama untuk menekan biaya kegiatan adat-istiadat/ sosial yang melebihi kemampuan petani.

Pemerintah, jika benar-benar menjadikan petani sejahtera sebagai fokus tujuan pembangunan, perlu melakukan terobosan strategis berupa :

 Melaksanakan land reform/ reforma agraria seperti yang sudah dijanjikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kampanye pemilihan presiden 2004.
 Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diharuskan mengalokasikan dana yang cukup sebagai investasi bagi pencapaian kesejahteraan petani untuk membangun prasarana dan sarana yang memadai yang mampu menunjang pengembangan agrobisnis
 Pemerintah bersama DPR harus memastikan terjaminnya kepemilikan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki petani untuk mendukung pengembangan pertanian melalui pembuatan UU yang melindungi kepentingan petani dalam jangka panjang.
 Mempermudah layanan keuangan bagi para petani yang membutuhkan kredit untuk modal kerja


Mengembangkan potensi dan pengetahuan lokal

Petani sejak lama telah menjadi bulan-bulanan dari para oknum pakar pertanian yang kurang bertanggung jawab maupun industri yang terkait pertanian seperti industri pupuk buatan pabrik, pestisida buatan pabrik, industri benih, industri peralatan mekanisasi pertanian dsb.

Sejak Orde Baru berkuasa, pembangunan pertanian diarahkan dan diharuskan menggunakan input luar tinggi berupa bibit hibrida, pupuk dan pestisida pabrik yang kita kenal dengan “Revolusi Hijau” yang diharapkan mampu menggenjot produksi untuk memenuhi ambisi swasembada pangan/beras. Petani mulai kehilangan kedaulatan atas lahannya dan bahkan penentuan jenis tanaman apa yang ditanam terutama padi telah ditentukan melalui prpgram BIMAS, INMAS, INSUS, SUPRA INSUS. Ketergantungan petani terhadap pihak luar dalam penyediaan baik modal maupun saprodi menjadi tinggi dan sayangnya nilai tukar harga produk pertanian berupa beras ditentukan oleh pemerintah dengan harga murah karena menganut politik beras murah. Jadi kalau mau jujur petani dikorbankan atas nama pembangunan.

Dari berbagai pergantian pemerintahan sampai saat ini, para petani secara terus menerus mendapatkan rekomendasi dan input pertanian buatan pabrik yang dikenalkan baik oleh para pakar maupun sales dari pabrik maupun distributor secara berganti-ganti yang membingungkan petani dan dibombardir dengan janji-janji manis semanis madu, namun dalam kenyataan ketika yang ditawarkan berupa madu berubah menjadi racun maka yang harus menelan dan menderita karenanya adalah kaum tani. Para sales input pertanian buatan pabrik dan pakar pertanian berdasi yang mudah dipesan (baik oleh pemerintah maupun industri) masih saja terus hidup berkecukupan dari bayarannya, sementara petani mengaduh dan mengeluh tanpa ada yang mau mendengarkan. Begitu menyakitkan ketika petani diminta secara paksa menanam benih VUTW dengan segala ikutannya seperti pupuk buatan (UREA, TSP, KCl dll) dan pestisida buatan sampai- sampai jika ada yang membangkang tanaman padinya dicabut paksa, namun ketika produksi padi meningkat, harga jualnya tetap dibuat rendah dan yang lebih menyakitkan ternyata harga input sarana pertanian dari pabrik terus menggila harganya dan sering menghilang ketika dibutuhkan. Ketergantungan yang demikian parah membuat petani serasa gila memikirkan kehidupan keluarganya yang sangat bergantung dari pendapatan usaha taninya.

Tiadanya asuransi yang mampu menutupi kerugian akibat bencana ( kekeringan, banjir, serangan hama penyakit dll) maupun karena hancurnya harga produksi akibat permainan para penghisap/predator/ parasit petani seperti tengkulak, pengijon, rentenir, pengusaha hasil bumi yang nakal dengan berbagai permainan timbangan dll semakin membuat petani terjerambah kedalam jurang yang sangat dalam dan terus menerus berkubang dalam kemiskinan.

Politik beras murah di jaman ORBA dan dilanjutkan sampai sekarang melalui kran impor berbagai komoditi pertanian atas nama memenuhi kebutuhan bangsa membuat petani serasa bagaikan anak tiri di nergeri sendiri. Petani hanya menjadi opsi terakhir dari berbagai profesi yang ada, dalam artian orang mau menjadi petani karena tidak ada pilihan lain. Sangat ironis seorang petani tidak mau anaknya melanjutkan profesiya sebagai petani yang berarti memang tidak ada masa depan dalam usaha tani. Lantas bagaimana kedepan apabila semakin banyak genersi muda yang menolak menggeluti profesi sebagai petani ? Bagaimana dengan ketahanan pangan bangsa kita, jika para petinggi, pejabat, Akademisi, LSM dll tidak lagi mau peduli dengan perkembangan pertanian ditanah air sementara predikat Indonesia sebagai negara agraris masih terus melekat dan menjadi tumpuan dalam menyerap tenaga kerja dan menjadi katup pengaman krisis ekonomi ?

Untuk kepentingan ketahanan pangan dan keuangan keluarga pada tingkat petani, perlu dihidupkan kemali keberadaan lumbung pangan tingkat keluarga dan desa yang sempat menghilang ketika pemerintah di jaman ORBA lebih mengutamakan BULOG dalam menjaga ketahanan pangan nasional, padahal kita tahu dengan adanya lumbung keluarga/desa maka petani terjamin kepastian stok pangannya dan tidak dirugikan dengan harga pangan yang naik ketika stok pangan petani menipis. Memang ironis, petani sebagai produsen akan menjual semua produksinya dengan harga murah ketika panen dan membeli pangan dengan harga tinggi ketika petani membutuhkan. Hal ini terjadi karena kecerdasan keuangan para petani belum memadai.

Disamping itu para petani diharapkan mampu melakukan diversifikasi pola tanam untuk tanaman pangan dan tanaman yang menghasilkan uang tunai/cash dan juga mau melakukan diversifikasi dalam pola konsumsi pangan keluarga sehingga tidak perlu tergantung hanya pada pangan berupa beras yang belum tentu produksinya mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarganya.

Penyediaan prasarana dan sarana yang menunjang pembangunan pertanian semakin tidak menjadi fokus dijaman OTDA yang menyebabkan petani kesulitan dalam memproduksi apalagi untuk menjualnya. Perlu ada komitmen yang tinggi dari pengambil keputusan untuk alokasi APBDnya berpihak pada petani dalam rangka meningkatkan hasil bumi yang mampu meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Desa) dn selanjutnya akan menyumbang pada peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah.) untuk tingkat kabupaten dan propinsi.


Pilihan pada pertanian berkelanjutan/ pertanian organik/ pertanian selaras alam

Pilihan pada pertanian berkelanjutan didasari keprihatinan yang mendalam bahwa selama ini petani menjadi korban permainan kebijakan yang lebih menggantungkan pada input luar yang tinggi baik energi maupun teknologi.

Pilihan ini juga sesuai dengan kebijakan Departemen Pertanian yang mencanangkan “Go Organik 2010”.

Pertanian berkelanjutan merupakan tawaran solusi untuk petani kembali berdaulat dan tidak tergantung pada input luar.

Pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai kebijakan untuk:
1. swasembada pangan
2. meningkatkan gizi masyarakat menurut ukuran konsumsi protein
3. meningkatkan ekspor dan mengurangi impor
4. meningkatkan dukungan terhadap industri
5. meningkatkan pemeliharaan kelestarian sumber daya alam
6. meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan pedesaan sebagai bagian yang utuh dari pembangunan daerah.

Pengertian pertanian berkelanjutan *

Dalam makalahnya berjudul ‘Pengembangan Sistem Pertanian Berwawasan Lingkungan Dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan”, DR. Ir. Rachman Sutanta Msc menjelaskan mengenai beberapa definisi yang berkembang tentang Pertanian Berkelanjutan.

Menurutnya sebelum kita lebih jauh meninjau konsep pertanian berkelanjutan, ada baiknya kita tinjau terlebih dahulu konsep Pembangunan berkelanjutan/Pembangunan lestari (Sustainable Development).

Menurut World Conversation Strategy 1980, pembangunan berkelanjutan ditakrifkan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan mereka (Anon, 1990).

Menurut TAC/CGIAR (1988), Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan mengelola sumberdaya untuk pertanian dalam memenuhi perubahan kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumber daya alam.
Pertanian berwawasan lingkungan selalu berhubungan dengan tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan.

Sedang tujuan pertanian berwawasan lingkungan adalah :

• mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah
• mempertahankan hasil pada aras yang optimal
• mempertahankan dan meningkatkan keragaman hayati dan ekosistem
• dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan mahluk lainnya.

Menurut Gips (1986), sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria antara lain :

1. Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan – mulai dari lingkungan manusia, tanaman, dan hewan, sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya terbarukan.

2.Menguntungkan menurut pertimbangan ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar tenaga kerja dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut pertimbangan ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan kelestarian fungsi sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.

3. Diingini menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijakan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.

4. Tanggap beradaptasi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan, dan manusia). Prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerjasama antar mahluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerjasama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.

5. Mudah beradaptasi dengan perubahan, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan kondisi usaha tani, pertambahan penduduk, kebijakan, dan permintaaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi juga inovasi sosial dan budaya.

Menururt Diver dan Talbot, berkelanjutan dalam pembangunan pertanian adalah :
 membatasi ketergantungan pada energi yang tidak terbarukan (non renewable) senyawa kimia dan bahan mineral
 mengurangi kontaminasi/pencemaran udara, air dan tanah dari luar usaha tani
 memelihara dan mempertahankan keadaan habitat untuk kehidupan alami
 melakukan konservasi sumber genetika/plasma nuftah (keanekaragaman hayati) tanaman maupun hewan yang diperlukan untuk pembangunan pertanian.

Untuk menjadikan lestari, sistem pertanian harus mampu mempertahankan produktivitas ditinjau dari segi ekologi, sosial, dan tekanan ekonomi, dan sumberdaya terbarukan (renewable) tidak harus mengalami kerusakan (Sinclair, 1987).

Konservasi merupakan faktor penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus difungsikan secara malar (continuous). Sekarang kita telah mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan dan kemampuan budidaya manusia untuk merusak lingkungan . Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumberdaya adalah terbatas.

Dalam pembangunan pertanian, peningkatan produksi selalu merupakan proiritas utama. Ttetapi yang perlu diperhatikan adalah batas tertinggi produktivitas dari suatu ekosistem. Apabila batas ini dilampaui, maka kemungkinan akan terjadi kemundurandan lebih buruk lagi adalah degradasi, dan hanya segelintir orang saja yang mampu bertahan dari sumberdaya yang tersisa. Apabila batas pasokan tertinggi telah tercapai, maa yang perlu diperhatikan adalah sisi permintaan; sumber pendapatan yang lain, perpindahan penduduk, menurunkan aras konsumsi, keluarga berencana. Walaupun berkelanjutan, harus dilihat berdasarkan konsep yang dinamis sehingga mampu mengantisipasi perubahan kebutuhan pangan karena peningkatan populasi dunia (TAG/CGIAR, 1988), tetapi prinsip dasar ekologi perlu mendapatkan perhatian karena produksi pertanian dapat tanpa batas.

Potensi lahan kering yang terabaikan
Dalam pembangunan pertanian di Indonesia, terlihat pemerintah lebih memperhatikan lahan bawah (low land) berupa lahan persawahan, sehingga lahan kering menjadi ‘anak tiri’ yang terabaikan. Hal ini nampak nyata dari jumlah varietas ungul padi sawah yang dilepas sebanyak 40 buah, sedangkan varietas padi gogo unggul hanya 7 buah, jagung 8 buah, kedelai 5 buah dan kacang tanah 5 buah. Demikian pula dalam penyedian kredit saprodi, terlihat petani sawah lebih dimanjakan daripada petani dilahan kering/marginal.
Permasalahan di lahan kering jauh lebih komplek dan bervariasi daripada lahan sawah. Kenyataan yang terlihat , bahwa potensi lahan kering banyak mengalami penurunan produktivitas karena dimanfaatkan secara intensif, namun tanpa disertai usaha konservasi sebagai salah satu bentuk pengelolaan lahan yang sepadan sehingga erosi menyebabkan degradasi yang berlansung sangat cepat yang menambah luasan lahan kritis di Indonesia.

Pilihan dan penerapan teknologi dalam Pertanian Berkelanjutan
Teknologi Produksi pertanian
Meningkatnya kepedulian masyarakat dunia akan kelestarian lingkungan, terutama oleh negara-negara maju, seperti Amerika, negara-negara Eropa, Australia dan Jepang, yang semula teknologi produksinya dicirikan oleh budidaya yang mengandalkan masukan teknologi berenergi tinggi, ternyata beberapa tahun terakhir telah berupaya merakit dan mengembangkan budidaya pertanian yang menggunakan pendekatan agroekosistem. Secara ringkas agroeksistem adalah ekosistem yang diubah oleh sebagian orang untuk menghasilkan pangan, serat dan hasil pertanian lainnya ( Ghildyal, 1984). Upaya peningkatan produktivitas akhirnya akan dihadapkan kepada masalah membatasi kerusakan lingkungan dan sumberdaya.
Produksi tanaman pangan telah meningkat secara dramatis, setelah diketemukannya varietas unggul yang berpoduksi tinggi. Akan tetapi varietas unggul tersebut sangat bergantung pada masukan berenergi tinggi (high external input agriculture), dalam bentuk pupuk kimia dan pestisida sintetis untuk memberantas hama, penyakit serta gulma, mekanisasi pertanian menggunakan energi fosil dan pengembangan irigasi. Masalah tersebut timbul karena dikembangkannya sistem pertananam tunggal. Penggunaan pupuk dan pestisida diramalkan akan tetap mengalami kenaikan secara eksponensial (Edward, 1987), kecuali ada perubahan filosofi tentang produksi pertanian, yang memperhatikan keadaan petani kecil dan penyelamatan lingkungan.
Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan.
Sistem produksi yang telah dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai Pertanian Berkelanjutan, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah.

Konsep ini dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional antara lain :
 meningkatkan produktivitas
 melaksanakan konservasi energi dan sumber daya alam
 mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara
 meningkatkan keuntungan usaha tani
 memantapkan dan keterlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.

Suatu hal yang sering timbul adalah kesalahan persepsi tentang sistem pertanian masukan teknologi berenergi rendah. Ada yang berpendapat bahwa sistem pertanian masukan rendah adalah petani yang masih bersifat primitif atau tradisional, seperti yang dikembangkan oleh leluhur secara turun temurun, atau budidaya pertanaman lainnya sebelum diperkenalkan sistem pertanian modern. Tetapi sistem pertanian ini tetap memanfaatkan teknologi modern seperti benih hibrida yang berlabel, melaksanakan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah yang berazaskan konservasi. Membatasi penggunaan dan keperluan yang berasal dari luar usaha tani seperti pupuk pabrik dan pestisida, dengan mengembangkan pergiliran tanaman, mengembangkan pengelolaan tanaman dan ternak secara terpadu, mendaur ulang limbah pertanian dan pupuk kkandang untuk mempertahankan produktivitas tanah.
Pertanian harus mampu menciptakan masa depan yang cerah bagi pengusahaan lahan marginal, llahan yang tidak diminati pihak lain, termasuk didalamnya lahan kering. Sudah saatnya kita mulai memperhatikan ke sistem pertanian yang sepadan baik dari lingkungan biofisik maupun bagi lingkungan sosial ekonomi. Masukan teknologi berenergi rendah pada dasarnya dapat dilaksanakan pada lahan bawahan maupun atasan atau paling tidak memasukkan unsur-unsur teknologi masukan rendah ke dalam sistem produksi pertanian.
Meskipun sistem pertanian masukan rendah dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan banyak pada pembangunan pertanian, namun dalam penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan umum dan sosio politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi.

Prinsip Ekologi dasar LEISA
Pemahaman dan penerapan LEISA relatip masih baru, akan tetapi dengan memperhatikan pengalaman yang telah diperoleh dari studi agroekologi pertanian tradisional diwilayah tropika, maka dapat dipahami prinsip ekologi yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam mengembangkan LEISA.
Prinsip ekologi LEISA dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan didalam tanah.
Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, terutama melalui fiksasi/pengikatan Nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas matahari, udara dan air dengan cara pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi.
Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit tanaman dengan cara melaksanakan usaha preventip melalui perlakuan yang aman.
Pemanfaatan sumber genetika (plasma nuftah) keanekaragaman hayati yang saling mendukung dan bersifat sinergisme, dengan cara mengkombinasikan fungsi keanekaragaman sistem pertanian terpadu.

Prinsip diatas dapat diterapkan pada beberapa macam teknologi dan strategi. Masing-masing prinsip tersebut mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap produktivitas, keamanan, kemalaran (continuity) dan identitas diri masing-masing sistem usaha tani, dan tergantung pada kesempatan dan pembatas dari faktor lokal (kendala sumberdaya) dan dalam banyak hal tergantung pasar.

Penjelasan :
Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman

Proses fisika, kimia dan biologi di dalam tanah dipengaruhi oleh iklim, kehidupan tanaman dan hewan, dan aktivitas manusia. Petani perlu memahami bagaimana proses ini berpengaruh dan bagaimana cara mengaturnya sehingga berpengaruh baik bagi kesehatan dan produksi tanaman.
Kondisi tanah yang harus diperbaiki adalah :
- waktu ketersedian yang seimbang antara lengas, udara dan hara tanaman dan dalam jumlah yang mengutungkan pertumbuhan tanaman.
struktur tanah yang mendorong pertumbuhan perakaran, pertukaran unsur berbentuk gas,ketersediaan dan kapasitas penyimpanan air
temperatur tanah yang mendorong kehidupan didalam tanah dan pertumbuhan tanaman.
Tidak ada unsur yang bersifat meracun

Komponen tanah yang esensiil

Tanah selain terdiri atas komponen padat, cair dan gas, terdapat gatra lain yang amat penting adalah kehidupan dalam tanah. Kehidupan ini terdiri atas flora dan fauna tanah. Organisme ini mempunyai peranan penting dalam proses yang terjadi didalam tanah, demikian juga terjadinya interaksi tanah-tanaman seperti : pembentukan tanah, pembentukan struktur, mineralisasi hara tanaman, pembentukan humus, fiksasi nitrogen, kelarutan fosfat dan penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.

Humus merupakan hasil dekomposisi bahan organik tanah oleh mikroorganisme tanah, dan kandungan humus selalu diidentifikasi sebagai tingkat kesuburan tanah. Humus mempunyai peranan penting terhadap sifat fisika (perbaikan struktur) dan kimia tanah (penyediaan unsur hara, penyangga ketersediaan hara, mengurangi fiksasi fosfat, mengurangi terjadinya pelindian unsur hara mikro, mengikat Al yang meracuni tanaman. Di wilayah tropika humus penting pada tanah-tanah yang mempunyai kapasitas menyangga hara rendah. Pelindian hara terjadi cukup rendah pada tanah-tanah yang mempunyai kandungan humus tinggi daripada tanah dengan kandungan humus rendah (Lal dan Stewart, 1990).

Mengelola bahan organik

Bahan organik berfungsi ganda, selain sebagai gudang penyimpanan hara, juga menyediakan haramelalui pelepasan secara perlahan pada larutan tanah sehingga tersedia bagi tanaman. Bahan organik didalam dan diatas tanah berfungsi sebagai pengatur kelembaban dan temperatur tanah. Seringkali bahan organik digunakan secara kombinasi dengan teknik yang lain, misalkan : penggunaan pupuk anorganik, pengolahan tanah, memanen air, peneduh, dan guludan. Pengelolaan bahan organik bervariasi tergantung pada kondisi dan jenis tanaman. Pengelolaan yang kurang sepadan akan menyebabkan penggunaan hara yang tidak efisien, kehilangan hara dan pengasaman tanah.
Ada 5(lima) cara dalam menangani bahan organik: digunakan langsung, baik dipermukaan sebagai mulsa atau dicampurkan ke dalam tanah; dibakar (menyebabkan mineralisasi unsur hara); dikomposkan; sebagai makan ternak; atau difermentasi melalui proses biogas. Ketersediaan bahan organik tanah merupakan titik kritis kesuburan tanah. Apabila hara tanah digantikan denganpupuk anorganik/kimia dan petani melupakan bahan organik, maka kandungan bahan organik tanh menjadi rendah demikian juga ketersediaan hara, dan tanah mudah mengalami kekeringan dan penyakit tanaman. Dengan kata lain produktivitas dan stabilitas usaha tani menurun.

Pengolahan tanah

Kondisi tanah dapat diperbaiki melalui pengolahan yang berpengaruh pada struktur, kapasitas menahan air, penghawaan. Kapasitas infiltrasi, temperatur dan evaporasi. Lapisan tanah yang telah diolah mudah mengalami kekeringan, tetapi lengas dibawah permukaan tetap dipertahankan. Pengolahan tanah banyak membantu perbaikan kondisi tanah untuk pertumbuhan biji, memberantas gulma dan pengganggu tanaman yang lain atau menanggulangi erosi. Tetapi pengolahan tanah berpengaruh negatip terhadap kehidupan tanah, dan meningkatkan mineralisasi bahan organik. Apabila tidak dilakukan dengan baik akan mengakibatkan terjadinya peningkatan erosi.


Pengelolaan Kesehatan Tanah

Tanah yang sehat merupakan kondisi yang diharapkan tanaman yang sehat. Kesehatan tanaman dipengaruhi secara langsung penyerapan senyawa organik tertentu yang dihasilkan apabila mikroorganisme tanah mendekomposisi bahan organik.

Kesehatan tanaman secara tidak langsung terpengaruh apabila salah satu mikroorganisme menekan perkembangan mikroorganisme yang lain sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman tumbuh, maka ketidakseimbangan kondisi ekologi karena keanekaragaman alamiah dari ekosistem menurun. Prinsip ekologi dasar adalah mencoba untuk memperbaiki keseimbangan alamiah yang ada. Pada umumnya penyakit tanaman yang berasal dari tanah akan menurun apabila ditambahkan bahan organik, karena pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit dihambat oleh mikroorganisme lain atau karena terjadi peningkatan jumlah antagonisme. Makin banyak jumlah dan variasi mikroorganisme, tanah makin baik penanggulangan patogen secara biologi.

Keseimbangan pemupukan merupakan dasar kesehatan tanaman. Terlalu banyak atau terlalu sedikit hara tanaman akan membuat tanaman mudah terserang penyakit atau hama. Terlalu banyak pemupukan nitrogen, pertumbuhan vegetatip tanaman berlebihan, tetapi tanaman peka terhadap penyakit. Bahaya ini berkurang apabila pemupukan organik secara perlahan melepas hara.

Optimalisasi ketersediaan hara dan keseimbangan daur hara
Kondisi yang paling penting untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman dan secara tidak langsung kesehatan ternak oleh akar tanaman. Kekahatan dan ketidakseimbangan merupakan kendala utama produksi pertanian, terutama diwilayah dengan kondisi tanah masam atau alkalin. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa ketersediaan hara tanaman tergantung pada kondisi tanah, kehidupan tanah dan pengelolaan bahan organik. Akan tetapi perhatian juga perlu diberikan terhadap unsur hara yang diperlukan tanaman.

Pada prinsipnya aliran hara terjadi secara konstan. Beberapa unsur hara hilang atau terangkut bersama hasil panen, erosi, pelindian dan volatilisasi. Unsur hara ini harus digantikan. Apabila sistem usaha tani dipertahankan tetap produktip dan sehat, maka jumlah hara yang hilang dari tanah tidak melebihi hara yang ditambahkan kedalam tanah, atau dengan kata lain harus terjadi keseimbangan hara didalam tanah.

Membatasi kehilangan hara

Kehilangan hara dari dalam tanah dapat dibatasi melalui :
mendaur ulang limbah organik dalam bentuk : pupuk kandang, pupuk asti (asal tinja), limbah pertanaman, limbah pengolahan hasil pertanian, limbah rumah tangga, dengan cara mengembalikan dilahan pertanian secara langsung atau lebih melalui perlakuan (pengomposan, fermentasi dll).
Menangani pup[uk organik dan buatan sedemikian rupa sehingga unsur hara tidak banyak yang hilang karena hujan yang berlebihan atau volatisasi karena temperatur dan radiasi matahari yang tinggi
Mengurangi terjadinya aliran permukaan (run off) dan erosi, yang mampu menghilangkan hara tanaman dalam jumlah yang cukup besar
Mengurangi pembakaran vegetasi apabila sistem usaha tani dilakukan secara intensip, karena melalui pembakaran akan menghilangkan kandungan bahan organik tanah dalam jumlah banyak.
Mengurangi volatisasi nitrogen melalui proses denitrifikasi di lahan sawah
Menghindarkan terjadinya pelindian dengan menggunakan bahan organik dan pupuk buatan yang mampu melepaskan hara secara perlahan, mempertahankan kandungan humus tetap tinggi; pertanaman campuran/ganda dengan komposisi tanaman yang mempunyai kedalam sistem perakaran yang berbeda
Membatasi kehilangan hara tanaman hasil panen dengan cara menanam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi nisbi terhadap kandungan hara, misalkan buah-buahan, leguminosa, rumpuit dan susu.
Produksi swasembada, sehingga beberapa jenis produksi dapat diekspor., dan limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak atau pupuk organik.

Menangkap dan mengelola unsur hara

Beberapa macam unsur hara dapat ditangkap dan dikelola melalui :
• Fiksasi nitrogen oleh mikroorganisme tanah yang hidup secara simbiosis dengan tanaman legum pohon, semak atau tanaman penutup tanah, atau dengan Azolla atau beberapa jenis rumput; atau bakteri bebas seperti Azotobacter atau ganggang biru.
• Memanen hara dengan cara menangkap bahan sedimen yang berasal dari luar usaha tani; dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman atau konstruksi yang dirancang khusus untuk memanen air seperti : kolam, waduk lapangan, dan embung
• Menggunakan ternak yang banyak mengandung hara (melalui pupuk kandang) dan berasal dari luar usaha tani. Proses yang sama dapat dilakukan apabila pemulsaan dan makanan ternak dilaksanakan.

Apabila kekahatan/kekurangan unsur hara dalam satu sistem usaha tani, maka dapat dilakukan penanganan sementara, melalui :
 meningkatkan konsentrasi hara ditanah pertanian, melalui penempatan pupuk kandang dengan cara dibenamkan, kompos, mulsa, atau pupuk hijau, atau memanen air dan hara.
 menanam tanaman hijau untuk membuat hara tanaman lebih mudah tersedia. Hara yang berasal dari lapisan bawahan atau dalam bentuk yang tidak terlarut (fosfat, hara mikro) dapat melalui proses sirkulasi. Mikorisa dan jenis mikroorganisme dapat memobilisasi hara sehingga tersedia bagi tanaman. Cadangan hara didalam tanah setiap waktu harus diganti dengan hara yang berasal dari luar usaha tani untuk menghindarkan terjadinya penambangan tanah.

Hara tambahan

Apabila penggantian hara tidak dapat langsung diperoleh di lapangan, maka harus dapat diperoleh dari luar, termasuk :
Bahan organik dari bermacam-macam tempat, pupuk organik berasal dari bermacam-macam tempat, limbah pengolahan hasil, pupuk asti, limbah rumah tangga, limbah perkotaan , membeli makanan ternak atau konsentrat, atau jenis makan kita
pupuk mineral seperti; kapur, batuan fosfat, bio super (campuran batu dan mokroorganisme yang membantu pelepasan hara) dan pupuk organik.


Mengelola aliran radiasi matahari, air dan udara

Masing-masing tanaman, petani dapat menyusun komposisi tanaman (pertanaman campuran, tumpangsari, tanaman pelindung) berdasarkan karakteristik tajuk (canopy), sehingga satu jenis tanaman menghasilkan kondisi yang menguntungkan terhadap tanaman yang lain. Hal ini dapat juga dilakukan dengan pemulsaan atau dengan memberikan air irigasi. Kondisi iklim mikro untuk tanaman dan hewan dapat diperbaiki, dan memanfaatkan secara maksimal ketersediaan radiasi matahari secara maksimal. Pengelolaan iklim mikro juga berpengaruh pada perkembangan hama dan gulma.

Pengelolaan air

Perbedaan ketersediaan lengas tanah dan kelembaban merupakan alasan penting terjadinya perbedaan type vegetasi alamiah dan sistem pertanian yang berkembang demikian juga biomassa yang dihasilkan. Petani dapat memperbaiki ketersediaan lengas dan udara tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah dan daya simpan lengas (pengelolaan bahan organik dan pengolahan tanah), meningkatkan kapasitas infiltrasi dan menurunkan evaporasi (mulsa, pengolahan tanah), meningkatkan infiltrasi (konservasi air/memanen air) atau memperbaiki pengatusan.

Diwilayah yang relatip kering, pengairan mengurangi resiko kegagalan pertananam karena kekeringan dan produksi biomassa dapat ditingkatkan dengan cara memperbaiki kondisi pertumbuhan. Sistem irigasi berskala kecil telah dikembangkan oleh petani tradisional dengan memanfaatkan masukan/input dari luar usaha tani dengan cara mengelola bahan organik, pengolahan tanah, dan manipulasi iklim mikro sebagai komplemen terhadap curah hujan yang terbatas, memanen air dan meningkatkan efisiensi pemnfaatan air.

Penanggulangan erosi

Cukup banyak teknik konservasi yang telah dikembangkan baikm secara mekanik maupun vegetatip. Akan tetapi penanggulangan masalah erosi lebih banyak menekankan pada masalah teknis, tetapi permasalahannya sendiri tidak pernah terpecahkan dengan baik, karena kalau kita lihat lebih jauh bahwa permasalahan erosi lebih banyak berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi.

Beberapa usaha melalui sistem pertanian terpadu dilaksanakan di beberapa tempat yang dinilai kritis. Penanggulangan erosi bukan merupakan tujuan tetapi sebagai bagian dari usaha yang bersifat holistik untuk memperbaiki produktivitas lahan dan konservasi sumberdaya alam, dan petani diberi kesempatan berpartisipasi dalam menyusun perencanaan pada tingkat lokal, pengembangan teknologi dan pengelolaan sumberdaya alam.

Teknologi konservasi yang dikembangkan untuk menanggulangi masalah erosi diwilayah tropika memerlukan modal yang tinggi, mekanisasi dan kondisi pertanian komersial. Alih teknologi ini kurang dapat berkembang dengan kondisi diwilayah tropika. Usaha konservasi harus ditekankan pada teknik biologi dan cukup membuat perbaikan sederhana pada teknik tradisional yang telah berkembang dan beradaptasi pada kondisi lingkungan setempat.

Menekan kehilangan hasil akibat serangan hama penyakit
Sistem pertanian modern yang berkembang saat ini, mekanisme alamiah yang menekan populasi hama atau organisme lain melalui musuh alami dirusak atau sebagian digantikan oleh mekanisme buatan dengan menggunakan bahan kimia atau obat-obatan (racun). Pada kondisi yang tidak alamiah lagi, apabila tidak digunakan bahan kimia, maka akan kehilangan hasil panen yang cukup besar. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan akan merusak keseimbangan alamiah disamping menyebabkan masalah pada kesehatan, polusi. Pada saat ini telah dikembangkan dan diterapkan suatu konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang bertujuan menurunkan penggunaan pestisida atau menggunakan pestisida secara bijaksana.

Melalui PHT, lingkungan pertanian dan dinamika populasi hama diatur, semua teknik dan metoda yang sesuai (biologi, genetika, mekanis dan kimia) digunakan sedemikian rupa sehingga populasi hama dapat ditekan dibawah ambang batas yang dapat menimbulkan kerusakan secara ekonomi. Melalui PHT biaya perlindungan tanaman, penggunaan pestisida dilakukan secara lebih efisien dan pengaruh negatip terhadap lingkungan dapat ditekan. Secara tradisional sebetulnya petani kita sudah mempunyai resep/pengalaman untuk menekan pengaruh negatip dari gulma, tikus, burung dan serangga. Tetapi mungkin tidak pernah tahu tentang penyakit tanaman yang diakibatkan oleh mikroorganisme, tetapi cara-cara praktis yang telah dilaksanakan petani ternyata mampu menekan populasi hama dan penyakit. Contoh cara bertanam tradisional yang mampu menekan polulasi hama adalah perladangan berpindah, pertanaman campuran dan tumpangsari, penggiliran tanaman, sanitasi dengan cara memberantas seluruh tanaman yang terserang dengan menggunakan varietas yang tahan hama. Semua cara ini bersifat preventip dan tidak memberantas sama sekali hama yang ada tetapi hanya menekan populasi dan mempertimbangkan keseimbangan hayati.

Ada beberapa kategori perlindungan tanaman terhadap hama penyakit :
Usaha sanitasi, contoh : menggunakan tanaman yang sehat, benih yang bebas hama dan penyakit, menghilangkan temapt yang terserang.
Pertanaman ganda : pertanaman campuran, penggiliran tanaman, tanaman perangkap, tanaman pelindung, tanaman inang.
Cara bercocok tanam : pemupukan, pemulsaan, pengolahan tanah, penggenangan, penanaman, jarak tanam
Pemberantasan secara mekanis: mencabut dan mengangkat secara mekanis, mengolah menggunakan cangkul, mengolah tanah, perangkap mekanis, membakar, menimbulkan bunyi-bunyian
Pemberantasan secara biologi: mengembangkan dan mempertahankan predator alamiah : burung, serangga, mikrobia dan gulma
Menggunakan tanaman inang yang tahan
Penggunaan bahan kimia alamiah yang berasal dari tumbuhan maupun buatan
Pengaturan cara penyimpanan hasil panen yang baik.

Pemanfaatan keanekaragaman hayati yang saling mendukung dan bersifat sinergisme
Pertanaman maupun peternakan campuran bukan hanya sekedar mengumpulkan sumber genetika secara acak. Setiap spesies harus sesuai dengan kondisi lingkungan biofisik dan sosial ekonomi petani dan harus menunjukkan kondisi produktip, reproduktif protektif atau fungsi sosial, atau kombinasi dari masing-masing kondisi tersebut.

Sumber genetika yang dikembangkan harus berfungsi sebagai komplementer dan dapat dikombinasikan satu dengan lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang bersifat sinergisme, bukan terjadi antagonisme. Dalam banyak hal, pemilihan yang tepat jenis tanaman dan ternak menghasilkan sistem usaha tani dengan diversifikasi sumber genetika yang tinggi.

Kesesuaian lahan, permintaan pasar, ketersediaan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, pengetahuan sumber genetik) dan masukan (pupuk, pestisida, obat-obatan, air) sangat diperlukan petani untuk lebih berkonsentrasi pada tanaman dan ternak tertentu. Menciptakan kesempatan pemasaran untuk salah satu hasil dari sekian banyak jenis tanaman dan ternak memberikan petani kesempatan meraih keuntungan dari sistem pertanaman campuran yang dikembangkan.

Memanfaatkan interaksi antar tanaman

Tanaman berinteraksi satu dengan yang lain berdasarkan ruang dan waktu (horisontal dan vertikal). Selama proses pertumbuhan tanaman memerlukan energi, air dan hara dari lingkungan, tetapi yang diperlukan tergantung pada tahapan pertumbuhan. Selama pertumbuhan, faktor iklim berubah menurut musim, dan tanaman itu sendiri mempengaruhi kondisi iklim mikro (kelembaban, temperatur tanah dan udara, naungan) dan makin besar tanaman maka jumlah air dan hara yang diperlukan makin meningkat. Dalam sistem pertanaman campuran yang memegang peranan penting adalah pemilihan jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan optimal berdasarkan ruang dan waktu.

Teknik yang berhubungan dengan dimensi keruangan dapat digunakan dalam memilih tanaman berdasarkan perbedaan kerapatan tanaman, pola pertanaman dan pengaturan ruang. Teknik yang berhubungan dengan waktu tanan, rotasi/pergiliran tanaman dan pemupukan.

Setiap waktu perlu dilakukan perubahan kombinasi jenis tanaman untuk lebih meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya seperti hara tanaman, air dan tenaga kerja, mempertahankan kesuburan tanah atau menurunkan populasi hama dan penyakit. Teknik yang dapat dikembangkan adalah tumpang gilir, tumpangsari, pertanaman ganda dll.

Memelihara diversifikasi dan fleksibilitas

Sistem pertanian yang berkelanjutan tergantung fleksibilitas karena pengaruh kondisi lingkungan. Makin besar ketersediaan sumber genetika, makin fleksibel sistem yang dikembangkan. Petani dapat memilih diversifikasi yang akan dilaksanakan dengan menggunakan campuranjenis, campuran varietas dari jenis yang sama, atau varietas yang mempunyai komposisi genetik yang berbeda.

Pertanaman campuran

Apabila dua atau lebih tanaman ditanam pada petak yang sama, baik pada waktu bersamaan atau bergilir segera setelah salah satu tanaman dipanen disebut “pertanaman ganda”. Tanaman yang digunakan baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim, tetapi para pakar pertanian telah mengembangkan sistem pertanaman ganda yang memanfaatkan kobinasi tanaman keras/tahunan (pokok, semak, rerumputan) dengan tanaman semusim. Kombinasi tanaman pohon dikenal sebagai hutan tani/wanatani (agroforestry), agrosilvopasture dll.

Pertanian dan peternakan secara terpadu

Ternak mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani kecil. Hasil yang dapat dimanfaatkan adalah daging, susu, telur dll. Disamping itu mempunyai peranan penting dalam hubungannya dengan budaya setempat.

Pertanian dan perikanan secara terpadu

Diwilayah bawahan yang cukup air, usaha pertanian dapat dikembangkan bersama-sama dengan usaha perikanan. Cukup banyak sistem tradisional yang telah berkembang terutama di Jawa Barat yang memadukan antara pertanian dan perikanan. Mina padi merupakan usaha perikanan di sawah.

Kolam ikan di pekarangan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan daur pendek rumah tangga dan kolam. Demikian juga daur pendek ini dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sampah pekarangan untuk makanan ikan dan pertanaman pekarangan dapat disirami dengan air yang berasal dari kolam. Pada waktu-waktu tertentu lumpur kolam dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah di sekitar pekarangan.

Mengembangkan tanaman dan ternak jenis lokal
Untuk mengembangkan keanekaragaman hayati maka jenis-jenis lokal baik tanaman maupun ternak perlu diinventarisasi. Sebetulnya cukup banyak
jenis-jenis lokal yang unggul karena sudah memiliki seleksi alam sehingga mempunyai daya adaptasi yang tinggi dengan lingkungan.

Jenis buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi perlu dikembangkan untuk menanggulangi buah-buahan impor. Pengembangan buah-buahan lokal akan banyak menguntungkan petani, demikian juga dengan pengembangan ekspor. Tanaman langka khas Indonesia perlu diinventarisasi dan plasma nuftah dikembangkan supaya kita tidak kehilangan identitas. Demikian juga varietas tanaman semusim seperti padi, jagung, kacang tanah yang tersebar di seluruh Indonesia perlu dikembangkan kembali. Jenis-jenis lokal tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi seperti halnya varietas unggul, sehingga hal ini sesuai dengan usaha tani kecil

(*Disarikan dari artikel Buletin Tani Lestari No 6 Tahun III Desember 1995 hal 6 s/d 25 yang berjudul Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan Dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan, oleh DR. Ir. Rachman Sutanta Msc, dengan sedikit perubahan)

Memperkuat organisasi petani

Dari sejak penjajahan sampai saat ini, petani masih cenderung berjalan sendiri-sendiri dan belum membangun jejaring yang dapat memperjuangkan kepentingan petani di kancah nasional. Dulu memang pernah ada Ikatan Petani Panca Sila, dan juga waktu partai komunis masih ada, mereka juga memanfaatkan potensi kekuatan petani untuk kepentingan politik mereka dengan membentuk BTI (Barisan Tani Indonesai). Di jaman Orde Baru sampai saat ini ada wadah HKTI namun cenderung merupakan organisasi bentukan dari atas yang tidak mengakar yang terindikasi dari ketuanya yang bukan berasal dari kalangan petani.
Ada beberapa serikat tani yang independen namun masih bersifat lokal dan tersebar, dan belum merupakan jaringan yang terorganisir secara tersistem dan berkelanjutan.
Dibutuhkan upaya yang terus menerus dan sabar untuk membangun dan memperkuat organisasi petani yang benar-benar dari bawah dan murni untuk kepentingan petani dan tidak ditunggangi kepentingan politik partai.
Pengorganisasian petani melalui wadah organisasi petani harus benar-benar didasari oleh kesadaran kritis para petani yang tergabung didalamnya bahwa untuk memperjuangkan hak-hak petani perlu ada wadah dan jejaring yang ditujukan untuk kepentingan mereka sendiri, seperti halnya buruh mengorganisir diri mereka. Untuk itulah pendidikan penyadaran kritis untuk para petani harus terus menerus ditumbuhkan sehingga bangsa kita memiliki petani yang selain cerdas, kerja keras juga kritis terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan mereka.

Mendorong akses ke pasar dan meningkatkan wawasan bisnis petani
Berbagai hal telah dilakukan dalam rangka mengentaskan kemiskinan di kalangan Pemerintah, Akademisi, Pengusaha, penggiat NGO dll, termasuk salah satunya adalah bagaimana mendorong petani mampu mengakses pasar.
Kita telah mengetahui, sejak kecil paradigma petani kita kebanyakan dibentuk dalam pola subsisten dimana kebanyakan menganggap bertani adalah panggilan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, baru kemudian sisanya dijual; atau bisa pula karena keterpaksaan akibat tiada pilihan profesi lainnya. Petani kebanyakan melakukan budidaya berdasar pada ‘kebiasan turun temurun’ yang diwarisi dari orangtuanya baik dalam hal pilihan jenis komoditi yang ditanam, pilihan teknologi dll. Kebanyakan petani menjalankan usaha tani hanya berdasar naluri alamiah , dan kebanyakan masih belum berperilaku sebagai seorang wirausaha/enterpreneur.
Boleh dicoba dalam pertemuan petani, jika ditanya apakah ada yang berprofesi sebagai pengusaha, pasti jawabnya hampir sebagian besar mengatakan disini tidak ada pengusaha. Tidak mudah mengajak petani merubah paradigma dari pola’tanam dulu, baru kemudian jual’ ke arah ‘apa saja yang dibutuhkan pasar, baru tanam sesuai permintaan pasar’ atau dengan kata lain menjadi petani pengusaha yang berorientasi pasar.

Petani harus meningkatkan kapasitas dalam hal :

Kecerdasan (SMART)

Sudah berulangkali disampaikan dalam berbagai seminar motivasi maupun leadership bahwa salah satu syarat untuk sukses, selain bekerja KERAS, juga harus bekerja SMART.
Bekerja SMART berarti harus berani ‘beda’ dengan yang dilakukan sebelumnya, harus berani ‘beda’ dengan yang lainnya, atau dalam bahasa lainnya punya ‘nilai tambah’, ‘nilai lebih dalam persaingan’, unik dll.

Ketrampilan (SKILL)

Sampai saat ini sebagian besar program pengembangan pertanian masih berkutat di seputaran hulu (produksi) yang terbukti dengan banyaknya layanan fasilitasi terkait hal-hal teknis produksi seperti konservasi lahan, cara/teknis budidaya, pemupukan dll.

Belum banyak program pengembangan pertanian yang mengkaitkan hulu-hilir (pasar).
Dalam peradaban yang berubah begitu cepat, mau tak mau memaksa petani untuk harus secara cepat pula dalam merespon perubahan yang terjadi. Kecepatan dalam mengakses informasi menjadi hal yang sangat strategis dalam menyikapi perubahan yang cepat.

Kesemangatan (SPIRIT)

Spirit atau jiwa wirausaha/entrepreurship sebagian petani kita masih perlu ditingkatkan, karena memang pada awalnya sebagian besar belum dikenalkan dengan konsep wirausaha. Petani belum dibiasakan ‘bergaul ‘ dengan pola pikir dan cara bertindak para pembisnis yang sukses seperti pengusaha Bob Sadino, yang mampu mengkaitkan hulu-hilir dalam memasarkan hasil komoditinya dengan mendirikan Kemp chick, atau para pekebun swasta pemasok swalayan dan ekspor dll . Sebagian petani kita masih melihat usaha tani sekedar meneruskan usaha orang tuanya atau hanya sekedar menyambung hidup selagi tidak ada pilihan lain untuk memperoleh pendapatan.

Spirit ‘hidup hemat dengan jalan menabung atau berinvestasi ’ untuk meningkatkan aset/kekayaan keluarga petani yang dikelola , baik dalam bentuk Kopdit, UBSP dll, yang kemudian dimanfaatkan untuk diinvestasikan lagi misal dalam bentuk membeli lahan, benih, bibit ataupun dalam bentuk membeli ternak

Spirit solidaritas hidup dalam kebersamaan dalam berbagai bentuk seperti dalam wadah Asosiasi Petani yang mampu merubah ataupun mengurangi ketergantungan para petani pada pihak luar, baik berupa kebijakan yang tidak memihak petani seperti akses yang sulit terhadap pinjaman modal usaha, ketersediaan informasi harga, informasi teknologi dll, sehingga lebih mudah bagi para petani untuk menuju kemandirian.

Kita tahu kekuatan dari sebuah solidaritas seperti yang ditunjukkan solidaritas buruh di Polandia yang akhirnya mampu menjungkirbalikkan penguasa yang menindas, kita juga tahu bahwasannya solidaritas mampu merubah wajah dunia sehingga mampu menghapuskan tindakan yang tidak adil seperti perbudakan, diskriminasi warna kulit dll.

Kita harus bisa membuktikan bahwa solidaritas para petani kalau sungguh-sungguh lahir dari lubuk hati para petani akan menjadi kekuatan yang luar bisa dalam merubah berbagai kebijakan yang tidak menguntungkan petani termasuk didalamnya harga yang tidak layak


Semoga melalui berbagai upaya berbagai para pihak, pembangunan pertanian yang berwajah kerakyatan tidak hanya menjadi utopia semata, namun secara bertahap dan pasti dapat terwujud demi terwujudnya petani yang berdaulat dan sejahtera.


YBT Suryo kusumo

Tony.suryokusumo@gmail.com

Pertanian lestari, pilihan bijak petani berwawasan jauh kedepan

Mengamati perkembangan pertanian di Indonesia khususnya masalah pencapaian swasembada pangan dan usaha untuk mempertahankannya, maka pemikiran kita sebagai petani kebanyakan langsung tertuju pada pertanian intensip yang mau tak mau harus menyediakan pupuk buatan dan pestisida pabrik dalam berbagai formula.dan merek dagang yang begitu beragam. Seolah-olah pikiran kita sebagai petani sudah terpaku dan tidak ada pilihan lainnya.
Benarkah pemikiran demikian yang selalu terjadi pada petani maju di masyarakat kita ?

Jika memang demikian, kita harus mencari akar penyebab semua itu. Kita tengok awal pengenalan pada petani maju dengan teknologi masukan tinggi dan energi tinggi. Program yang dicanangkan pemerintah dengan model penyuluhan “dipaksa-terpaksa-biasa” dalam mengenalkan pupuk buatan dan pestisida pabrik seakan-akan membuat pikiran petani mau tak mau secara teknis harus mengikuti petunjuk yang sudah diberikan. Sering secara tidak disadari tergambar dalam pikiran petani jika tidak menggunakan pupuk buatan dan pestisida pabrik akan mengalami penurunan hasil atau bahkan mengalami kegagalan. Petani terus menerus dipacu dan berlomba meningkatkan produksi secara maksimal dengan berbagai upaya yang ditempuh dan sering menyimpang dari ketentuan teknis penggunaan pupuk buatan maupun pestisida pabrik. Para petani kurang menyadari dampak negatip yang timbul akibat pengurasan lahan dan adanya keterbatasan daya dukung lahan. Program peningkatan produksi yang bermula dari SSB,SSBM, DENMAS, BIMAS dan berlanjut dengan INMAS-INSUS-SUPRA INSUS seolah-olah memberi dukungan dan pembenaran pendapat para petani bahwa lahan dapat dikuras sampai seberapapun kemauan kita untuk menghasilkan swasembada pangan. Namun akhirnya disadari pemikiran dan perilaku semacam ini memberikan dampak negatip seperti terlihat adanya peledakan hama penyakit dan semakin menurunnya kegemburan tanah yang berakibat semakin sulit diolah, kekahatan unsur hara tertentu terutama unsur hara mikro dsb.

Dan yang lebih menyedihkan adanya berbagai korban anggota masyarakat akibat penyalahgunaan pestisida pabrik terus berjatuhan dari hari ke hari. Keracunan pestisida menjadi berita yang dianggap lumrah terjadi dan bahkan kematian bunuh diri memakai pestisida semakin menggejala di masyarakat tanpa mengusik hati nurani kita yang terdalam. Akibat pencemaran pestisida buatan karena kekurang hati-hatian , ketidak tahuan maupun kenekatan untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya perlu menjadi keprihatinan dan harus selalu diwaspadai oleh seluruh masyarakat.

Melarang petani menggunakan pestisida pabrik dan pupuk buatan bukanlah pekerjaaan yang mudah dan bijaksana. Pelarangan tidak akan menyelesaikan masalah karena kita menyadari masyarakat petani sudah terbiasa dengn hal tersebut dan sulit disadarkan akan dampak negatip yang ditimbulkan.




Penerapan pertanian lestari

Bagaimana mengatasi permasalahan diatas yang merupakan lingkaran setan ?
Pertama-tama jika kita ingin keluar dari lingkaran setan harus terlebih dahulu kita cari setannya. Sering kita mencari setannya diluar diri kita, padahal kalau kita mau jujur setan itu sering ada dalam pola pikir, pola hidup dan cara bertindak diri kita sendiri.
Semua permasalahan diatas jika kita telusuri bermuara pada gaya hidup kita yang cenderung bergaya modern, boros, kurang berpikir jangka panjang , sikap hedonisme, pemujaan teknologi tinggi yang berlebihan tanpa berpikir bahwa hidup yang layak perlu berdamai dengan alam, menjadikan alam sebagai sahabat dan bukan mengeksploatasi untuk memuaskan ego kita.

Namun bukan berarti kita terjebak kedalam romantisme alami/ natural yang cenderung memuja alam secara berlebihan dan takut mengusiknya.

Pertanian lestari atau yang biasa disebut pertanian organik alami merupakan salah satu pilihan bijak dalam menyiasati pemenuhan kebutuhan pangan yang mendasarkan pada keselarasan alam . Pertanian lestari sering diartikan tanpa menggunakan pupuk buatan dan pestisida buatan. Namun pengertian diatas belum cukup untuk mmenyimpulkan sebagai bentuk pertanian lestari.

Permasalahan yang mendasar dari penerapan pertanian lestari adalah bagaimana kita memandang alam ciptaan Tuhan sebagai karunia yang harus dijaga, kita rawat dan kita gunakan, sebagai sarana untuk memudahkan kita dekat dengan Pencipta dan kembali memuliakanNYA. Maka dalam penerapan, lahan bukan semata-mata dipandang sebagai tempat berproduksi dan harus dimanfaatkan serta dikuras sehabis-habisnya melainkan sebagai karunia tempat dimana kita dan generasi berikutnya menggantungkan hidup dan kehidupannya dari kemurahan alam tanpa menimbulkan kerusakan. Dalam bahasa populer biasa dikatakan sebagai pertanian yang mengambil hasil namun lahan tetap tidak kehilangan kesuburannya dan unsur-unsur alam lainnya tetap dalam kondisi ideal untuk mendukung kehidupan manusia. Jadi seolah-olah kita sebagai manusia mengambil hasil dari lahan tanpa menguranginya, meminta tanpa memberi kembali, atau lahan digambarkan seperti susu ibu yang tak habis-habisnya diteteki bayi demi kelangsungan kehidupan generasi selanjutnya. Lahan dipersonifikasikan sebagai payudara ibu yang selalu siap memberi air kehidupan bagi si bayi yang lemah dan bayi tersebut merupakan simbol diri kita yang sebenarnya lemah dan sangat tergantung pada alam sekelilingnya.

Dalam pemahaman seperti ini, kita dihadapkan pada pemikiran bagaimana memanfaatkan alam tanpa merusaknya. Atau dengan kata lain campur tangan manusia kedalam pemanfaatan alam tidak boleh menciptakan degradasi daya dukung alam, namun kebutuhan manusia untuk “hidup layak” terpenuhi.





Tugas kita menurut Notohadiprawiro (1989) adalah:

 Memacu kemampuan alamiah sistim tanah-tanaman-atmosfer dalam mengkonversikan unsur-unsur lingkungan menjadi sesuatu yang berguna bagi manusia.
 Melakukan adaptasi tanaman dan ternak pada lingkungan hidup setempat lewat seleksi pemuliaan konvesional atau melalui rekayasa genetik.
 Membangun kelembagaan yang mendukung rasionalisasi usaha tani, pemberian nilai tambah pada hasil pertanian, dan pelancaran pemasaran hasil usaha tani.

Semua tindakan itu dimaksudkan untuk :
Membatasi ketergasntungan pertanian pada masukan komersial seperti pestisida pabrik, pupuk buatan, subsidi dan kredit.
Membatasi usikan kegiatan atas lingkungan berarti mengurangi dmpak negatip atas lingkungan
Mnegokohkan usaha tani sebgaai pemasok ekonomi nasional.
(Dalam Rachman Sutanto, Makalah Pengembangan Budidaya Pertanian Umumnya Pembangunan Pertanian Yang Berkelanjutan, 1991).

Keberhasilan dan dampak pertanian lestari dapat terlihat jika tingkat kesadaran masyarakat tani terhadap lingkungan semakin bertambah. Untuk itu diperlukan penyadaran terus menerus , kerja keras, berbagi pengalaman, menjalin kemitraan dengan pihak yang peduli pada lingkungan, demi generasi berikutnya dan bukan hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan perut kita sekarang saja.

Maka pengembangan pertania lestari dapat dimulai dari lingkungan terkecil yakni melalui keluarga batih, pendidikan dasar sampai ke jenjang yang lebih tinggi, lembaga keagamaan, HKTI, LPSM-LSM, dan terutama keprihatinan dan kemauan politik pemerintah yang tertuang dalam bentuk kebiujakan (policy) yang dikeluarkan.

Dan yang lebih penting adalah kemauan politik dan niat baik pemerintah yang memberi kebebasan penuh bagi petani untuk mengelola pertaniannya dengan pilihan yang semakin beragam tanpa dibebani swasembada pangan dan tanpa ditakut-takuti dengan berbagai cara oleh oknum-oknum tertentu yang sering hanya mengejar target. Dengan kebebasan yang diberikan memungkinkan petani terlepas dari ketergantungan masukan komersial seperti benih hibrida, pupuk pabrik yang jika dikaji dengan hati bening dan jujur lebih menguntungkan kalangan produsen dan pemasar produk tersebut serta melemahkan posisi tawar menawar petani. Jika pertanian lestari dapat dilaksanakan sebagai sebuah gerakan masyarakat luas maka subsidi pemerintah bagi saprotan dapat dikurangi, BBM yang dibutuhkan dalam proses pembuatan, pengangkutan, dan pebndistribusian saprotan dapat digunakan untuk kepentingan lain. Disamping itu pencemaran serta bahaya keracunan bahan-bahan kimia beracun dari pestisida pabrik/buatan dapat ditekan serendah-rendahnya. Nilai tukar hasil pertanian yang rendah juga harus dicarikan jalan keluarnya sehingga petani menikmati hasil jerih payahnya secara adil.

Dalam penerapan pertanian lestari dibutuhkan kemauan dan kekuatan moral yang tinggi untuk melihat permasalahan lingkungan sebagai masalah transendental yang harus ddipertanggungjawabkan kepada Tuhan . Maka marilah kita berkarya dengan mendasarkan pada keberlanjutan geberasi mendatang dan mendasarkan pada nilai etis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanian berkelanjutan , tawaran model pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dalam menyongsong pertanian masa depan.

Pendahuluan.
Pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai kebijakan untuk:
1. swasembada pangan
2. meningkatkan gizi masyarakat menurut ukuran konsumsi protein
3. meningkatkan ekspor dan mengurangi impor
4. meningkatkan dukungan terhadap industri
5. meningkatkan pemeliharaan kelestarian sumber daya alam
6. meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan pedesaan sebagai bagian yang utuh dari pembangunan daerah.
Dalam masa Orde Baru, kita mengenal beberapa program pertanian yang dicanangkan pemerintah untuk memacu produksi beras antara lain BIMAS, INMAS, INSUS, SUPRA INSUS, dan akhirnya meskipun hanya sebentar , Indonesia mampu berswasembada pangan pada tahun 1984 dan memperoleh penghargaan dari PBB. Namun keberhasilan ini harus dibayar mahal, karena ternyata swasembada pangan hanya bersifat semu yang tercapai berkat intervensi pemerintah yang terlalu jauh kepada petani, baik dari paksaan untuk menanam VUTW, subsidi pupuk dan pestisida maupun politik beras murah menggunakan institusi bulog , banyak menimbulkan permasalahan ditingkat petani. Permasalahan yang jelas terlihat adalah bagaimana petani menjadi sangat tergantung dari masukan teknologi dan energi tinggi dari luar, posisi tawar menawar petani untuk menjual hasil produksinya rendah , dan yang lebih utama petani kehilangan otoritasnya dan kebebasannya untuk mengelola lahan, sehingga petani hanya menjadi pelaksana program pemerintah. Introduksi teknologi berupa penggunaan pupuk buatan dan pestisida pabrik yang pada awalnya bertujuan untuk mensejahterakan petani, ternyata menjadi bumerang karena timbul banyak kasus mengenai tanah yang mengeras, pencemaran lingkungan dan kematian maupun cacat pada manusia karena keracunan pestisida. Saat ini petani sawah semakin menjerit ketika pemerintah mengurangi subsidi terhadap pupuk buatan dan pestisida, karena dalam pengelolaan lahan, mereka telah tergantung kepada masukan teknologi dan energi yang tinggi dari luar yang mereka sendiri tidak menguasainya. Belajar dari pengalaman tersebut, sudah selayaknya kita memikirkan model pengembangan pertanian alternatip yang ramah lingkungan, mampu mencukupi kebutuhan ekonomi, namun tidak membuat petani semakin tergantung. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengelolaan lahan yang otonom dan mandiri, maka dicoba pengembangan pertanian berkelanjutan yang diharapkan mampu memberi sumbangan dalam menjaga kelestarian lingkungan, namun juga mampu mensejahterakan petani lahir dan batin.

Pengertian pertanian berkelanjutan
Dalam makalahnya berjudul ‘Pengembangan Sistem Pertanian Berwawasan Lingkungan Dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan”, DR. Ir. Rachman Sutanta Msc menjelaskan mengenai beberapa definisi yang berkembang tentang Pertanian Berkelanjutan. Menurutnya sebelum kita lebih jauh meninjau konsep pertanian berkelanjutan, ada baiknya kita tinjau terlebih dahulu konsep Pembangunan berkelanjutan/Pembangunan lestari (Sustainable Development). Menurut World Conversation Strategy 1980, pembangunan berkelanjutan ditakrifkan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan mereka (Anon, 1990). Menurut TAC/CGIAR (1988), Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan mengelola sumberdaya untuk pertanian dalam memenuhi perubahan kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumber daya alam.
Pertanian berwawasan lingkungan selalu berhubungan dengan tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan.

Sedang tujuan pertanian berwawasan lingkungan adalah :

a. mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah
b. mempertahankan hasil pada aras yang optimal
c. mempertahankan dan meningkatkan keragaman hayati dan ekosistem
d. dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan mahluk lainnya.

Menurut Gips (1986), sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria antara lain :

1. Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan – mulai dari lingkungan manusia, tanaman, dan hewan, sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya terbarukan.

2.Menguntungkan menurut pertimbangan ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar tenaga kerja dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut pertimbangan ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan kelestarian fungsi sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.

3. Diingini menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijakan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.

4. Tanggap beradaptasi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan, dan manusia). Prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerjasama antar mahluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerjasama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.

5. Mudah beradaptasi dengan perubahan, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan kondisi usaha tani, pertambahan penduduk, kebijakan, dan permintaaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi juga inovasi sosial dan budaya.

Menururt Diver dan Talbot, berkelanjutan dalam pembangunan pertanian adalah :
1. membatasi ketergantungan pada energi yang tidak terbarukan (non renewable) senyawa kimia dan bahan mineral
2. mengurangi kontaminasi/pencemaran udara, air dan tanah dari luar usaha tani
3. memelihara dan mempertahankan keadaan habitat untuk kehidupan alami
4. melakukan konservasi sumber genetika/plasma nuftah (keanekaragaman hayati) tanaman maupun hewan yang diperlukan untuk pembangunan pertanian.

Untuk menjadikan lestari, sistem pertanian harus mampu mempertahankan produktivitas ditinjau dari segi ekologi, sosial, dan tekanan ekonomi, dan sumberdaya terbarukan (renewable) tidak harus mengalami kerusakan (Sinclair, 1987).
Konservasi merupakan faktor penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus difungsikan secara malar (continuous). Sekarang kita telah mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan dan kemampuan budidaya manusia untuk merusak lingkungan . Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumberdaya adalah terbatas.
Dalam pembangunan pertanian, peningkatan produksi selalu merupakan proiritas utama. Ttetapi yang perlu diperhatikan adalah batas tertinggi produktivitas dari suatu ekosistem. Apabila batas ini dilampaui, maka kemungkinan akan terjadi kemundurandan lebih buruk lagi adalah degradasi, dan hanya segelintir orang saja yang mampu bertahan dari sumberdaya yang tersisa. Apabila batas pasokan tertinggi telah tercapai, maa yang perlu diperhatikan adalah sisi permintaan; sumber pendapatan yang lain, perpindahan penduduk, menurunkan aras konsumsi, keluarga berencana. Walaupun berkelanjutan, harus dilihat berdasarkan konsep yang dinamis sehingga mampu mengantisipasi perubahan kebutuhan pangan karena peningkatan populasi dunia (TAG/CGIAR, 1988), tetapi prinsip dasar ekologi perlu mendapatkan perhatian karena produksi pertanian dapat tanpa batas.

Potensi lahan kering yang terabaikan
Dalam pembangunan pertanian di Indonesia, terlihat pemerintah lebih memperhatikan lahan bawah (low land) berupa lahan persawahan, sehingga lahan kering menjadi ‘anak tiri’ yang terabaikan. Hal ini nampak nyata dari jumlah varietas ungul padi sawah yang dilepas sebanyak 40 buah, sedangkan varietas padi gogo unggul hanya 7 buah, jagung 8 buah, kedelai 5 buah dan kacang tanah 5 buah. Demikian pula dalam penyedian kredit saprodi, terlihat petani sawah lebih dimanjakan daripada petani dilahan kering/marginal.
Permasalahan di lahan kering jauh lebih komplek dan bervariasi daripada lahan sawah. Kenyataan yang terlihat , bahwa potensi lahan kering banyak mengalami penurunan produktivitas karena dimanfaatkan secara intensif, namun tanpa disertai usaha konservasi sebagai salah satu bentuk pengelolaan lahan yang sepadan sehingga erosi menyebabkan degradasi yang berlansung sangat cepat yang menambah luasan lahan kritis di Indonesia.

Pilihan dan penerapan teknologi dalam Pertanian Berkelanjutan
1. Teknologi Produksi pertanian
Meningkatnya kepedulian masyarakat dunia akan kelestarian lingkungan, terutama oleh negara-negara maju, seperti Amerika, negara-negara Eropa, Australia dan Jepang, yang semula teknologi produksinya dicirikan oleh budidaya yang mengandalkan masukan teknologi berenergi tinggi, ternyata beberapa tahun terakhir telah berupaya merakit dan mengembangkan budidaya pertanian yang menggunakan pendekatan agroekosistem. Secara ringkas agroeksistem adalah ekosistem yang diubah oleh sebagian orang untuk menghasilkan pangan, serat dan hasil pertanian lainnya ( Ghildyal, 1984). Upaya peningkatan produktivitas akhirnya akan dihadapkan kepada masalah membatasi kerusakan lingkungan dan sumberdaya.
Produksi tanaman pangan telah meningkat secara dramatis, setelah diketemukannya varietas unggul yang berpoduksi tinggi. Akan tetapi varietas unggul tersebut sangat bergantung pada masukan berenergi tinggi (high external input agriculture), dalam bentuk pupuk kimia dan pestisida sintetis untuk memberantas hama, penyakit serta gulma, mekanisasi pertanian menggunakan energi fosil dan pengembangan irigasi. Masalah tersebut timbul karena dikembangkannya sistem pertananam tunggal. Penggunaan pupuk dan pestisida diramalkan akan tetap mengalami kenaikan secara eksponensial (Edward, 1987), kecuali ada perubahan filosofi tentang produksi pertanian, yang memperhatikan keadaan petani kecil dan penyelamatan lingkungan.
Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan.
Sistem produksi yang telah dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai Pertanian Berkelanjutan, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah.
Konsep ini dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional antara lain :
a. meningkatkan produktivitas
b. melaksanakan konservasi energi dan sumber daya alam
c. mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara
d. meningkatkan keuntungan usaha tani
e. memantapkan dan keterlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.

Suatu hal yang sering timbul adalah kesalahan persepsi tentang sistem pertanian masukan teknologi berenergi rendah. Ada yang berpendapat bahwa sistem pertanian masukan rendah adalah petani yang masih bersifat primitif atau tradisional, seperti yang dikembangkan oleh leluhur secara turun temurun, atau budidaya pertanaman lainnya sebelum diperkenalkan sistem pertanian modern. Tetapi sistem pertanian ini tetap memanfaatkan teknologi modern seperti benih hibrida yang berlabel, melaksanakan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah yang berazaskan konservasi. Membatasi penggunaan dan keperluan yang berasal dari luar usaha tani seperti pupuk pabrik dan pestisida, dengan mengembangkan pergiliran tanaman, mengembangkan pengelolaan tanaman dan ternak secara terpadu, mendaur ulang limbah pertanian dan pupuk kkandang untuk mempertahankan produktivitas tanah.
Pertanian harus mampu menciptakan masa depan yang cerah bagi pengusahaan lahan marginal, llahan yang tidak diminati pihak lain, termasuk didalamnya lahan kering. Sudah saatnya kita mulai memperhatikan ke sistem pertanian yang sepadan baik dari lingkungan biofisik maupun bagi lingkungan sosial ekonomi. Masukan teknologi berenergi rendah pada dasarnya dapat dilaksanakan pada lahan bawahan maupun atasan atau paling tidak memasukkan unsur-unsur teknologi masukan rendah ke dalam sistem produksi pertanian.
Meskipun sistem pertanian masukan rendah dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan banyak pada pembangunan pertanian, namun dalam penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan umum dan sosio politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi.

2. Prinsip Ekologi dasar LEISA
Pemahaman dan penerapan LEISA relatip masih baru, akan tetapi dengan memperhatikan pengalaman yang telah diperoleh dari studi agroekologi pertanian tradisional diwilayah tropika, maka dapat dipahami prinsip ekologi yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam mengembangkan LEISA.
Prinsip ekologi LEISA dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan didalam tanah.
b. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, terutama melalui fiksasi/pengikatan Nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
c. Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas matahari, udara dan air dengan cara pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi.
d. Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit tanaman dengan cara melaksanakan usaha preventip melalui perlakuan yang aman.
e. Pemanfaatan sumber genetika (plasma nuftah) keanekaragaman hayati yang saling mendukung dan bersifat sinergisme, dengan cara mengkombinasikan fungsi keanekaragaman sistem pertanian terpadu.

Prinsip diatas dapat diterapkan pada beberapa macam teknologi dan strategi. Masing-masing prinsip tersebut mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap produktivitas, keamanan, kemalaran (continuity) dan identitas diri masing-masing sistem usaha tani, dan tergantung pada kesempatan dan pembatas dari faktor lokal (kendala sumberdaya) dan dalam banyak hal tergantung pasar.

Penjelasan :
a. Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman
Proses fisika, kimia dan biologi di dalam tanah dipengaruhi oleh iklim, kehidupan tanaman dan hewan, dan aktivitas manusia. Petani perlu memahami bagaimana proses ini berpengaruh dan bagaimana cara mengaturnya sehingga berpengaruh baik bagi kesehatan dan produksi tanaman.
Kondisi tanah yang harus diperbaiki adalah :
- waktu ketersedian yang seimbang antara lengas, udara dan hara tanaman dan dalam jumlah yang mengutungkan pertumbuhan tanaman.
- struktur tanah yang mendorong pertumbuhan perakaran, pertukaran unsur berbentuk gas,ketersediaan dan kapasitas penyimpanan air
- temperatur tanah yang mendorong kehidupan didalam tanah dan pertumbuhan tanaman.
- Tidak ada unsur yang bersifat meracun

Komponen tanah yang esensiil
Tanah selain terdiri atas komponen padat, cair dan gas, terdapat gatra lain yang amat penting adalah kehidupan dalam tanah. Kehidupan ini terdiri atas flora dan fauna tanah. Organisme ini mempunyai peranan penting dalam proses yang terjadi didalam tanah, demikian juga terjadinya interaksi tanah-tanaman seperti : pembentukan tanah, pembentukan struktur, mineralisasi hara tanaman, pembentukan humus, fiksasi nitrogen, kelarutan fosfat dan penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.
Humus merupakan hasil dekomposisi bahan organik tanah oleh mikroorganisme tanah, dan kandungan humus selalu diidentifikasi sebagai tingkat kesuburan tanah. Humus mempunyai peranan penting terhadap sifat fisika (perbaikan struktur) dan kimia tanah (penyediaan unsur hara, penyangga ketersediaan hara, mengurangi fiksasi fosfat, mengurangi terjadinya pelindian unsur hara mikro, mengikat Al yang meracuni tanaman. Di wilayah tropika humus penting pada tanah-tanah yang mempunyai kapasitas menyangga hara rendah. Pelindian hara terjadi cukup rendah pada tanah-tanah yang mempunyai kandungan humus tinggi daripada tanah dengan kandungan humus rendah (Lal dan Stewart, 1990).

Mengelola bahan organik
Bahan organik berfungsi ganda, selain sebagai gudang penyimpanan hara, juga menyediakan haramelalui pelepasan secara perlahan pada larutan tanah sehingga tersedia bagi tanaman. Bahan organik didalam dan diatas tanah berfungsi sebagai pengatur kelembaban dan temperatur tanah. Seringkali bahan organik digunakan secara kombinasi dengan teknik yang lain, misalkan : penggunaan pupuk anorganik, pengolahan tanah, memanen air, peneduh, dan guludan. Pengelolaan bahan organik bervariasi tergantung pada kondisi dan jenis tanaman. Pengelolaan yang kurang sepadan akan menyebabkan penggunaan hara yang tidak efisien, kehilangan hara dan pengasaman tanah.
Ada 5(lima) cara dalam menangani bahan organik: digunakan langsung, baik dipermukaan sebagai mulsa atau dicampurkan ke dalam tanah; dibakar (menyebabkan mineralisasi unsur hara); dikomposkan; sebagai makan ternak; atau difermentasi melalui proses biogas. Ketersediaan bahan organik tanah merupakan titik kritis kesuburan tanah. Apabila hara tanah digantikan denganpupuk anorganik/kimia dan petani melupakan bahan organik, maka kandungan bahan organik tanh menjadi rendah demikian juga ketersediaan hara, dan tanah mudah mengalami kekeringan dan penyakit tanaman. Dengan kata lain produktivitas dan stabilitas usaha tani menurun.

Pengolahan tanah
Kondisi tanah dapat diperbaiki melalui pengolahan yang berpengaruh pada struktur, kapasitas menahan air, penghawaan. Kapasitas infiltrasi, temperatur dan evaporasi. Lapisan tanah yang telah diolah mudah mengalami kekeringan, tetapi lengas dibawah permukaan tetap dipertahankan. Pengolahan tanah banyak membantu perbaikan kondisi tanah untuk pertumbuhan biji, memberantas gulma dan pengganggu tanaman yang lain atau menanggulangi erosi. Tetapi pengolahan tanah berpengaruh negatip terhadap kehidupan tanah, dan meningkatkan mineralisasi bahan organik. Apabila tidak dilakukan dengan baik akan mengakibatkan terjadinya peningkatan erosi.


Pengelolaan Kesehatan Tanah
Tanah yang sehat merupakan kondisi yang diharapkan tanaman yang sehat. Kesehatan tanaman dipengaruhi secara langsung penyerapan senyawa organik tertentu yang dihasilkan apabila mikroorganisme tanah mendekomposisi bahan organik.
Kesehatan tanaman secara tidak langsung terpengaruh apabila salah satu mikroorganisme menekan perkembangan mikroorganisme yang lain sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman tumbuh, maka ketidakseimbangan kondisi ekologi karena keanekaragaman alamiah dari ekosistem menurun. Prinsip ekologi dasar adalah mencoba untuk memperbaiki keseimbangan alamiah yang ada. Pada umumnya penyakit tanaman yang berasal dari tanah akan menurun apabila ditambahkan bahan organik, karena pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit dihambat oleh mikroorganisme lain atau karena terjadi peningkatan jumlah antagonisme. Makin banyak jumlah dan variasi mikroorganisme, tanah makin baik penanggulangan patogen secara biologi.
Keseimbangan pemupukan merupakan dasar kesehatan tanaman. Terlalu banyak atau terlalu sedikit hara tanaman akan membuat tanaman mudah terserang penyakit atau hama. Terlalu banyak pemupukan nitrogen, pertumbuhan vegetatip tanaman berlebihan, tetapi tanaman peka terhadap penyakit. Bahaya ini berkurang apabila pemupukan organik secara perlahan melepas hara.

2. Optimalisasi ketersediaan hara dan keseimbangan daur hara
Kondisi yang paling penting untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman dan secara tidak langsung kesehatan ternak oleh akar tanaman. Kekahatan dan ketidakseimbangan merupakan kendala utama produksi pertanian, terutama diwilayah dengan kondisi tanah masam atau alkalin. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa ketersediaan hara tanaman tergantung pada kondisi tanah, kehidupan tanah dan pengelolaan bahan organik. Akan tetapi perhatian juga perlu diberikan terhadap unsur hara yang diperlukan tanaman.
Pada prinsipnya aliran hara terjadi secara konstan. Beberapa unsur hara hilang atau terangkut bersama hasil panen, erosi, pelindian dan volatilisasi. Unsur hara ini harus digantikan. Apabila sistem usaha tani dipertahankan tetap produktip dan sehat, maka jumlah hara yang hilang dari tanah tidak melebihi hara yang ditambahkan kedalam tanah, atau dengan kata lain harus terjadi keseimbangan hara didalam tanah.

Membatasi kehilangan hara
Kehilangan hara dari dalam tanah dapat dibatasi melalui :
- mendaur ulang limbah organik dalam bentuk : pupuk kandang, pupuk asti (asal tinja), limbah pertanaman, limbah pengolahan hasil pertanian, limbah rumah tangga, dengan cara mengembalikan dilahan pertanian secara langsung atau lebih melalui perlakuan (pengomposan, fermentasi dll).
- Menangani pup[uk organik dan buatan sedemikian rupa sehingga unsur hara tidak banyak yang hilang karena hujan yang berlebihan atau volatisasi karena temperatur dan radiasi matahari yang tinggi
- Mengurangi terjadinya aliran permukaan (run off) dan erosi, yang mampu menghilangkan hara tanaman dalam jumlah yang cukup besar
- Mengurangi pembakaran vegetasi apabila sistem usaha tani dilakukan secara intensip, karena melalui pembakaran akan menghilangkan kandungan bahan organik tanah dalam jumlah banyak.
- Mengurangi volatisasi nitrogen melalui proses denitrifikasi di lahan sawah
- Menghindarkan terjadinya pelindian dengan menggunakan bahan organik dan pupuk buatan yang mampu melepaskan hara secara perlahan, mempertahankan kandungan humus tetap tinggi; pertanaman campuran/ganda dengan komposisi tanaman yang mempunyai kedalam sistem perakaran yang berbeda
- Membatasi kehilangan hara tanaman hasil panen dengan cara menanam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi nisbi terhadap kandungan hara, misalkan buah-buahan, leguminosa, rumpuit dan susu.
- Produksi swasembada, sehingga beberapa jenis produksi dapat diekspor., dan limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak atau pupuk organik.

Menangkap dan mengelola unsur hara
Beberapa macam unsur hara dapat ditangkap dan dikelola melalui :
- Fiksasi nitrogen oleh mikroorganisme tanah yang hidup secara simbiosis dengan tanaman legum pohon, semak atau tanaman penutup tanah, atau dengan Azolla atau beberapa jenis rumput; atau bakteri bebas seperti Azotobacter atau ganggang biru.
- Memanen hara dengan cara menangkap bahan sedimen yang berasal dari luar usaha tani; dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman atau konstruksi yang dirancang khusus untuk memanen air seperti : kolam, waduk lapangan, dan embung
- Menggunakan ternak yang banyak mengandung hara (melalui pupuk kandang) dan berasal dari luar usaha tani. Proses yang sama dapat dilakukan apabila pemulsaan dan makanan ternak dilaksanakan.

Apabila kekahatan/kekurangan unsur hara dalam satu sistem usaha tani, maka dapat dilakukan penanganan sementara, melalui :
-meningkatkan konsentrasi hara ditanah pertanian, melalui penempatan pupuk kandang dengan cara dibenamkan, kompos, mulsa, atau pupuk hijau, atau memanen air dan hara.
- menanam tanaman hijau untuk membuat hara tanaman lebih mudah tersedia. Hara yang berasal dari lapisan bawahan atau dalam bentuk yang tidak terlarut (fosfat, hara mikro) dapat melalui proses sirkulasi. Mikorisa dan jenis mikroorganisme dapat memobilisasi hara sehingga tersedia bagi tanaman. Cadangan hara didalam tanah setiap waktu harus diganti dengan hara yang berasal dari luar usaha tani untuk menghindarkan terjadinya penambangan tanah.




Hara tambahan

Apabila penggantian hara tidak dapat langsung diperoleh di lapangan, maka harus dapat diperoleh dari luar, termasuk :
- Bahan organik dari bermacam-macam tempat, pupuk organik berasal dari bermacam-macam tempat, limbah pengolahan hasil, pupuk asti, limbah rumah tangga, limbah perkotaan
- membeli makanan ternak atau konsentrat, atau jenis makan kita
- pupuk mineral seperti; kapur, batuan fosfat, bio super (campuran batu dan mokroorganisme yang membantu pelepasan hara) dan pupuk organik.

3. Mengelola aliran radiasi matahari, air dan udara
Masing-masing tanaman, petani dapat menyusun komposisi tanaman (pertanaman campuran, tumpangsari, tanaman pelindung) berdasarkan karakteristik tajuk (canopy), sehingga satu jenis tanaman menghasilkan kondisi yang menguntungkan terhadap tanaman yang lain. Hal ini dapat juga dilakukan dengan pemulsaan atau dengan memberikan air irigasi. Kondisi iklim mikro untuk tanaman dan hewan dapat diperbaiki, dan memanfaatkan secara maksimal ketersediaan radiasi matahari secara maksimal. Pengelolaan iklim mikro juga berpengaruh pada perkembangan hama dan gulma.

Pengelolaan air
Perbedaan ketersediaan lengas tanah dan kelembaban merupakan alasan penting terjadinya perbedaan type vegetasi alamiah dan sistem pertanian yang berkembang demikian juga biomassa yang dihasilkan. Petani dapat memperbaiki ketersediaan lengas dan udara tanah dengan cara memperbaiki struktur tanah dan daya simpan lengas (pengelolaan bahan organik dan pengolahan tanah), meningkatkan kapasitas infiltrasi dan menurunkan evaporasi (mulsa, pengolahan tanah), meningkatkan infiltrasi (konservasi air/memanen air) atau memperbaiki pengatusan.
Diwilayah yang relatip kering, pengairan mengurangi resiko kegagalan pertananam karena kekeringan dan produksi biomassa dapat ditingkatkan dengan cara memperbaiki kondisi pertumbuhan. Sistem irigasi berskala kecil telah dikembangkan oleh petani tradisional dengan memanfaatkan masukan/input dari luar usaha tani dengan cara mengelola bahan organik, pengolahan tanah, dan manipulasi iklim mikro sebagai komplemen terhadap curah hujan yang terbatas, memanen air dan meningkatkan efisiensi pemnfaatan air.

Penanggulangan erosi
Cukup banyak teknik konservasi yang telah dikembangkan baikm secara mekanik maupun vegetatip. Akan tetapi penanggulangan masalah erosi lebih banyak menekankan pada masalah teknis, tetapi permasalahannya sendiri tidak pernah terpecahkan dengan baik, karena kalau kita lihat lebih jauh bahwa permasalahan erosi lebih banyak berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi.
Beberapa usaha melalui sistem pertanian terpadu dilaksanakan di beberapa tempat yang dinilai kritis. Penanggulangan erosi bukan merupakan tujuan tetapi sebagai bagian dari usaha yang bersifat holistik untuk memperbaiki produktivitas lahan dan konservasi sumberdaya alam, dan petani diberi kesempatan berpartisipasi dalam menyusun perencanaan pada tingkat lokal, pengembangan teknologi dan pengelolaan sumberdaya alam.
Teknologi konservasi yang dikembangkan untuk menanggulangi masalah erosi diwilayah tropika memerlukan modal yang tinggi, mekanisasi dan kondisi pertanian komersial. Alih teknologi ini kurang dapat berkembang dengan kondisi diwilayah tropika. Usaha konservasi harus ditekankan pada teknik biologi dan cukup membuat perbaikan sederhana pada teknik tradisional yang telah berkembang dan beradaptasi pada kondisi lingkungan setempat.

4. Menekan kehilangan hasil akibat serangan hama penyakit
Sistem pertanian modern yang berkembang saat ini, mekanisme alamiah yang menekan populasi hama atau organisme lain melalui musuh alami dirusak atau sebagian digantikan oleh mekanisme buatan dengan menggunakan bahan kimia atau obat-obatan (racun). Pada kondisi yang tidak alamiah lagi, apabila tidak digunakan bahan kimia, maka akan kehilangan hasil panen yang cukup besar. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan akan merusak keseimbangan alamiah disamping menyebabkan masalah pada kesehatan, polusi. Pada saat ini telah dikembangkan dan diterapkan suatu konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang bertujuan menurunkan penggunaan pestisida atau menggunakan pestisida secara bijaksana.
Melalui PHT, lingkungan pertanian dan dinamika populasi hama diatur, semua teknik dan metoda yang sesuai (biologi, genetika, mekanis dan kimia) digunakan sedemikian rupa sehingga populasi hama dapat ditekan dibawah ambang batas yang dapat menimbulkan kerusakan secara ekonomi. Melalui PHT biaya perlindungan tanaman, penggunaan pestisida dilakukan secara lebih efisien dan pengaruh negatip terhadap lingkungan dapat ditekan. Secara tradisional sebetulnya petani kita sudah mempunyai resep/pengalaman untuk menekan pengaruh negatip dari gulma, tikus, burung dan serangga. Tetapi mungkin tidak pernah tahu tentang penyakit tanaman yang diakibatkan oleh mikroorganisme, tetapi cara-cara praktis yang telah dilaksanakan petani ternyata mampu menekan populasi hama dan penyakit. Contoh cara bertanam tradisional yang mampu menekan polulasi hama adalah perladangan berpindah, pertanaman campuran dan tumpangsari, penggiliran tanaman, sanitasi dengan cara memberantas seluruh tanaman yang terserang dengan menggunakan varietas yang tahan hama. Semua cara ini bersifat preventip dan tidak memberantas sama sekali hama yang ada tetapi hanya menekan populasi dan mempertimbangkan keseimbangan hayati.
Ada beberapa kategori perlindungan tanaman terhadap hama penyakit :
- Usaha sanitasi, contoh : menggunakan tanaman yang sehat, benih yang bebas hama dan penyakit, menghilangkan temapt yang terserang.
- Pertanaman gamda : pertanaman campuran, penggiliran tanaman, tanaman perangkap, tanaman pelindung, tanaman inang.
- Cara bercocok tanam : pemupukan, pemulsaan, pengolahan tanah, penggenangan, penanaman, jarak tanam
- Pemberantasan secara mekanis: mencabut dan mengangkat secara mekanis, mengolah menggunakan cangkul, mengolah tanah, perangkap mekanis, membakar, menimbulkan bunyi-bunyian
- Pemberantasan secara biologi: mengembangkan dan mempertahankan predator alamiah : burung, serangga, mikrobia dan gulma
- Menggunakan tanaman inang yang tahan
- Penggunaan bahan kimia alamiah yang berasal dari tumbuhan maupun buatan
- Pengaturan cara penyimpanan hasil panen yang baik.

5. Pemanfaatan keanekaragaman hayati yang saling mendukung dan bersifat sinergisme
Pertanaman maupun peternakan campuran bukan hanya sekedar mengumpulkan sumber genetika secara acak. Setiap spesies harus sesuai dengan kondisi lingkungan biofisik dan sosial ekonomi petani dan harus menunjukkan kondisi produktip, reproduktif protektif atau fungsi sosial, atau kombinasi dari masing-masing kondisi tersebut.
Sumber genetika yang dikembangkan harus berfungsi sebagai komplementer dan dapat dikombinasikan satu dengan lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang bersifat sinergisme, bukan terjadi antagonisme. Dalam banyak hal, pemilihan yang tepat jenis tanaman dan ternak menghasilkan sistem usaha tani dengan diversifikasi sumber genetika yang tinggi.
Kesesuaian lahan, permintaan pasar, ketersediaan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, pengetahuan sumber genetik) dan masukan (pupuk, pestisida, obat-obatan, air) sangat diperlukan petani untuk lebih berkonsentrasi pada tanaman dan ternak tertentu. Menciptakan kesempatan pemasaran untuk salah satu hasil dari sekian banyak jenis tanaman dan ternak memberikan petani kesempatan meraih keuntungan dari sistem pertanaman campuran yang dikembangkan.

Memanfaatkan interaksi antar tanaman
Tanaman berinteraksi satu dengan yang lain berdasarkan ruang dan waktu (horisontal dan vertikal). Selama proses pertumbuhan tanaman memerlukan energi, air dan hara dari lingkungan, tetapi yang diperlukan tergantung pada tahapan pertumbuhan. Selama pertumbuhan, faktor iklim berubah menurut musim, dan tanaman itu sendiri mempengaruhi kondisi iklim mikro (kelembaban, temperatur tanah dan udara, naungan) dan makin besar tanaman maka jumlah air dan hara yang diperlukan makin meningkat. Dalam sistem pertanaman campuran yang memegang peranan penting adalah pemilihan jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan optimal berdasarkan ruang dan waktu.
Teknik yang berhubungan dengan dimensi keruangan dapat digunakan dalam memilih tanaman berdasarkan perbedaan kerapatan tanaman, pola pertanaman dan pengaturan ruang. Teknik yang berhubungan dengan waktu tanan, rotasi/pergiliran tanaman dan pemupukan.
Setiap waktu perlu dilakukan perubahan kombinasi jenis tanaman untuk lebih meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya seperti hara tanaman, air dan tenaga kerja, mempertahankan kesuburan tanah atau menurunkan populasi hama dan penyakit. Teknik yang dapat dikembangkan adalah tumpang gilir, tumpangsari, pertanaman ganda dll.

Memelihara diversifikasi dak fleksibilitas
Sistem pertanian yang berkelanjutan tergantung fleksibilitas karena pengaruh kondisi lingkungan. Makin besar ketersediaan sumber genetika, makin fleksibel sistem yang dikembangkan. Petani dapat memilih diversifikasi yang akan dilaksanakan dengan menggunakan campuranjenis, campuran varietas dari jenis yang sama, atau varietas yang mempunyai komposisi genetik yang berbeda.

Pertanaman campuran
Apabila dua atau lebih tanaman ditanam pada petak yang sama, baik pada waktu bersamaan atau bergilir segera setelah salah satu tanaman dipanen disebut “pertanaman ganda”. Tanaman yang digunakan baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim, tetapi para pakar pertanian telah mengembangkan sistem pertanaman ganda yang memanfaatkan kobinasi tanaman keras/tahunan (pokok, semak, rerumputan) dengan tanaman semusim. Kombinasi tanaman pohon dikenal sebagai hutan tani/wanatani (agroforestry), agrosilvopasture dll.

Pertanian dan peternakan secara terpadu
Ternak mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani kecil. Hasil yang dapat dimanfaatkan adalah daging, susu, telur dll. Disamping itu mempunyai peranan penting dalam hubungannya dengan budaya setempat.

Pertanian dan perikanan secara terpadu
Diwilayah bawahan yang cukup air, usaha pertanian dapat dikembangkan bersama-sama dengan usaha perikanan. Cukup banyak sistem tradisional yang telah berkembang terutama di Jawa Barat yang memadukan antara pertanian dan perikanan. Mina padi merupakan usaha perikanan di sawah.
Kolam ikan di pekarangan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan daur pendek rumah tangga dan kolam. Demikian juga daur pendek ini dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sampah pekarangan untuk makanan ikan dan pertanaman pekarangan dapat disirami dengan air yang berasal dari kolam. Pada waktu-waktu tertentu lumpur kolam dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah di sekitar pekarangan.

Mengembangkan tanaman dan ternak jenis lokal
Untuk mengembangkan keanekaragaman hayati maka jenis-jenis lokal baik tanaman maupun ternak perlu diinventarisasi. Sebetulnya cukup banyak
jenis-jenis lokal yang unggul karena sudah memiliki seleksi alam sehingga mempunyai daya adaptasi yang tinggi dengan lingkungan.
Jenis buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi perlu dikembangkan untuk menanggulangi buah-buahan impor. Pengembangan buah-buahan lokal akan banyak menguntungkan petani, demikian juga dengan pengembangan ekspor. Tanaman langka khas Indonesia perlu diinventarisasi dan plasma nuftah dikembangkan supaya kita tidak kehilangan identitas. Demikian juga varietas tanaman semusim seperti padi, jagung, kacang tanah yang tersebar di seluruh Indonesia perlu dikembangkan kembali. Jenis-jenis lokal tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi seperti halnya varietas unggul, sehingga hal ini sesuai dengan usaha tani kecil



(Disarikan dari artikel Buletin Tani Lestari No 6 Tahun III Desember 1995 hal 6 s/d 25 yang berjudul Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan Dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan, oleh DR. Ir. Rachman Sutanta Msc, dengan sedikit perubahan)